Kutai Kartanegara - Hamparan sawah di Desa Sidomulyo, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, menghadirkan pemandangan baru dalam pola bertani masyarakat setempat. Lahan persawahan yang berada di wilayah delta Sungai Mahakam tersebut kini menjadi pusat percontohan penerapan integrasi antara metode pertanian berkelanjutan ramah lingkungan dan adopsi mekanisasi berbasis teknologi presisi.
Langkah pembaruan pertanian ini diwujudkan melalui panen perdana demplot padi yang dikelola Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Mandiri. Program tersebut menerapkan pendekatan Low External Input Sustainable Agriculture atau LEISA, yang dikombinasikan dengan pemanfaatan teknologi digital. Inisiatif kolaboratif ini digagas oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur bersama tim peneliti dari Politeknik Pertanian Negeri Samarinda serta didukung penuh oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara.
Pendekatan LEISA memprioritaskan pemanfaatan potensi sumber daya hayati lokal secara optimal dengan meminimalkan penggunaan input kimia sintetis dari luar lahan. Dalam penerapannya, tim peneliti memperkenalkan teknologi pembenihan berbasis bio-invigorasi untuk memacu ketahanan bibit tanaman sejak tahap awal persemaian. Struktur tanah dijaga kesehatannya menggunakan pupuk organik dan mikroorganisme lokal, sementara tata kelola air dan jarak tanam diatur secara terukur agar sirkulasi udara serta paparan sinar matahari berlangsung maksimal.
Uji coba teknik budidaya ini membuktikan ketangguhan tanaman padi di tengah anomali iklim yang sering kali tidak menentu di Kalimantan Timur, termasuk saat menghadapi dampak musim kemarau panjang akibat fenomena El Nino. Berdasarkan hasil panen ubinan, produktivitas tanaman padi di kawasan demplot tersebut berhasil menyentuh angka 6,95 ton gabah kering panen per hektare. Capaian ini menunjukkan lonjakan signifikan sebesar 44,8 persen jika dibandingkan dengan hasil rata-rata panen sebelum metode LEISA diterapkan di desa setempat.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Timur, Jajang Hermawan, menyampaikan bahwa pembangunan sektor pangan daerah membutuhkan kesinambungan inovasi ilmiah dan keterbukaan sikap dari para petani. Menurutnya, keterbatasan sarana produksi serta perubahan iklim yang kian ekstrem menuntut adanya efisiensi kerja tanpa harus merusak kesuburan tanah. Peningkatan produktivitas padi ini juga diproyeksikan menjadi penyangga utama dalam mengendalikan laju inflasi daerah, terutama komoditas beras, sejalan dengan kerangka kerja pengendalian pasokan pangan yang stabil dan berkesinambungan.
Efisiensi budidaya di lahan Gapoktan Mandiri kian nyata dengan masuknya mekanisasi modern berupa pesawat nirawak atau drone khusus penyemprotan pupuk dan nutrisi cair. Sebelum teknologi ini diperkenalkan, petani membutuhkan waktu antara enam hingga delapan jam kerja manual untuk menyemprot satu hektare sawah. Kondisi tersebut menguras fisik pekerja serta berisiko menghasilkan sebaran nutrisi yang kurang merata di permukaan tanaman.
Kehadiran pesawat nirawak mengubah secara drastis ritme operasional para petani. Satu hektare lahan kini dapat diselesaikan penyemprotannya hanya dalam kurun waktu delapan hingga sepuluh menit. Kecepatan kerja mekanis ini meningkat berlipat ganda dengan sebaran partikel kabut nutrisi yang jauh lebih presisi. Penggunaan teknologi nirkabel ini tercatat mampu memangkas biaya operasional budidaya petani di kisaran 10 hingga 25 persen.
Pencatatan data kelompok tani menunjukkan bahwa unit pesawat nirawak di kawasan tersebut telah mengudara sebanyak 1.637 kali penerbangan dengan mencakup total luasan lahan mencapai 204,82 hektare. Efisiensi tersebut memberikan dampak sosial nyata bagi keluarga petani, di mana beban kerja fisik berkurang dan waktu luang dapat dimanfaatkan untuk perawatan pascapanen maupun diversifikasi usaha tani lainnya.
Modernisasi di Anggana juga diarahkan secara menyeluruh dari sektor hulu hingga ke hilir. Di samping memanfaatkan mesin penuai kombinasi untuk mempercepat proses pemotongan gabah di sawah, petani juga mulai mengadopsi mesin penebar benih langsung serta menata operasional unit penggilingan padi desa. Standardisasi rantai pasok ini disiapkan agar gabah yang dihasilkan memiliki kualitas beras premium yang mampu bersaing di pasar modern.
Kutai Kartanegara selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan utama bagi wilayah Kalimantan Timur. Penguatan sektor pertanian di daerah ini memiliki nilai strategis berlipat ganda seiring penetapan wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara. Kebutuhan pasokan pangan di kawasan timur Kalimantan diproyeksikan terus meningkat pesat sejalan dengan arus pertumbuhan penduduk dan pembangunan infrastruktur kawasan ibu kota baru.
Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Aji, yang turut hadir dalam kegiatan panen mengapresiasi sinergi lintas lembaga yang terjalin erat di tingkat pedesaan. Dirinya menegaskan bahwa modernisasi pertanian tidak boleh berhenti sebatas proyek uji coba pada satu lokasi percontohan. Keberhasilan metode LEISA dan integrasi teknologi pesawat nirawak di Desa Sidomulyo harus segera direplikasi serta diperluas ke berbagai sentra pertanian lain di seluruh wilayah kabupaten dan kota se-Kalimantan Timur.
Keberlanjutan pendampingan teknis dari perguruan tinggi, dukungan pembiayaan dari perbankan, serta komitmen pemerintah daerah dalam memperbaiki jaringan irigasi persawahan menjadi kunci keberhasilan jangka panjang. Pengalaman petani di Anggana membuktikan bahwa kemajuan teknologi tinggi mampu berjalan beriringan dengan prinsip konservasi alam, memberikan jaminan kelimpahan hasil panen, sekaligus memperkokoh pondasi ketahanan pangan daerah secara mandiri dan berkelanjutan.






