![]() |
| Gambar hanya ilustrasi |
Banjarmasin - Mimpi besar Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan untuk mewujudkan sistem transportasi massal yang sangat terintegrasi dan nyaman bagi seluruh warganya belakangan ini bukanlah sekadar wacana biasa. Ambisi jangka panjang untuk menata laju mobilitas masyarakat di wilayah metropolitan baru Banjarbakula ini terus berproses matang dan mulai menunjukkan perkembangan begitu signifikan. Jika ditarik kilas balik jauh ke belakang, gagasan pembangunan fasilitas sistem transportasi berkapasitas besar layaknya Mass Rapid Transit sejatinya telah menggema amat kuat di telinga publik sejak kisaran tahun 2017 silam. Kala itu, otoritas terkait melalui Kepala Dinas Perhubungan Provinsi, Rusdiansyah, berinisiatif kuat merancang sebuah grand design transportasi komprehensif yang ditargetkan mampu memecahkan persoalan rumit kebuntuan lalu lintas padat di kawasan utama yang menghubungkan Kota Banjarmasin, Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Tanah Laut, hingga wilayah Barito Kuala.
Perencanaan awal dari pihak otoritas perhubungan daerah tersebut diklaim amat terstruktur, visioner, dan tergolong sangat ambisius pada masanya. Pada penghujung tahun 2017, fokus utama program berpusat penuh pada tahapan penyiapan armada angkutan massal mandiri beserta puluhan lokasi titik halte strategis guna melintasi seluruh kawasan padat permukiman penduduk. Rencana proyek tersebut menyasar target operasi pada 2019, di mana waktunya sengaja disinkronkan dengan selesainya perluasan proyek Bandar Udara Internasional Syamsudin Noor. Target sasarannya adalah menjamin kelancaran aksesibilitas yang terjangkau, mudah, serta teramat cepat bagi para penumpang pesawat, wisatawan, maupun ribuan pekerja harian di sektor penerbangan. Rencana pengadaan tahap awal mencakup empat puluh unit minibus yang diproyeksikan mengisi dua koridor krusial. Rancangan ini lantas memetakan ketersediaan lima koridor utama terintegrasi guna menghubungkan pergerakan di lima wilayah dalam skema Banjarbakula.
Dalam lintasan perjalanannya, konsep transportasi publik ini nyatanya tidak lantas berwujud layanan perkeretaapian bawah tanah dengan investasi selangit. Eksekusi paling rasional dan efektif dari visi luhur tersebut akhirnya secara cemerlang diwujudkan melalui optimalisasi operasional armada Bus Rapid Transit atau yang sangat populer dipanggil oleh kalangan masyarakat lokal dengan julukan kesayangan Tayo Biru. Langkah monumental dan amat bersejarah ini secara membanggakan resmi diluncurkan tepat saat perayaan meriah peringatan hari jadi ke-69 provinsi di Agustus 2019. Munculnya sarana bus kota yang berfasilitas pendingin ruangan sejuk serta terintegrasi jadwal operasional yang pasti ini lekas menjelma sebagai idola baru. Sistem gemilang ini lantas dikembangkan lebih pesat berkat dorongan kolaborasi program kementerian lewat skema armada BTS Trans Banjarbakula. Kehadirannya menyuntikkan corak transportasi ibu kota ala Trans Jakarta ke dalam sendi-sendi kehidupan warga pulau seberang.
Transformasi besar pada budaya mobilitas harian warga ini lambat laun mulai terbentuk teratur berkat determinasi kualitas layanan publik tanpa henti. Berdasarkan pantauan angka aktivitas di lokasi hilir mudik Terminal Tipe A Gambut Barakat, catatan pergerakan penumpang armada transportasi bus raksasa ini sukses menembus batas ribuan penumpang pada setiap harinya. Peraturan tegas disiplin pun senantiasa dipegang teguh, di mana seluruh awak bus wajib hukumnya sebatas menaikkan hingga menurunkan penumpang pada titik zona pemberhentian sah saja. Para sopir dikontrol menahan kecepatan maksimum pada laju konstan empat puluh kilometer per jam dan terpantau tanpa jeda menggunakan kamera tersembunyi di atap kabin kemudi. Perlengkapan ekstra berupa tempat duduk yang sangat ergonomis, tambahan tiang tumpuan keselamatan untuk para pengguna berdiri, dan keadaan ruang steril mendorong tumbuhnya kepercayaan luar biasa di benak masyarakat luas dari beragam kalangan sosial dalam menikmati moda layanan modern ini.
Sikap proaktif birokrasi di daerah dibuktikan dengan tidak gegabah merasa berpuas diri mengamati pencapaian membanggakan mengenai tingkat antusiasme warganya. Usaha terkait ekspansi daya angkut serta penyempurnaan rute pelayanan terus didorong. Melalui kepemimpinan figur Kepala Dinas Perhubungan periode saat ini, Fitri Hernadi, komitmen untuk penambahan unit kendaraan baru dilakukan bertahap demi mengeliminasi antrean panjang yang menyesakkan ketika menghadapi gelombang jam sibuk aktivitas perkantoran dan pendidikan. Langkah otonom berani juga diambil dengan keberanian anggaran kas provinsi untuk mendanai operasionalisasi rute-rute kritis hasil serah terima dari kewenangan pemerintah pusat secara seutuhnya. Pembuktian nyata pengabdian pemerintah pun dirasakan hangat sewaktu pelaksanaan festival keagamaan akbar, di mana pembebasan pungutan tarif diterapkan secara cuma-cuma untuk jutaan peziarah yang berbondong-bondong hadir menyemarakkan Haul Guru Sekumpul, sebuah trik efektif meminimalisir deretan panjang kemacetan kendaran pribadi.
Terlepas dari kemajuan luar biasa pesat fasilitas angkutan darat roda empat ini, cita-cita paripurna mendatangkan infrastruktur mewah perkeretaapian sama sekali tidak dilupakan. Statistik volume kendaraan bermotor pada ruas penghubung ibu kota lama Banjarmasin dan pusat pemerintahan Banjarbaru terus menorehkan kurva menanjak ekstrem. Gejala kemacetan pelik ini mendorong wacana pengaktifan jalur rel kereta senantiasa berhembus di kancah diskusi publik. Solusi jangka panjang bertransformasi melahirkan sepur komuter antar-wilayah dipandang teramat mendesak demi membendung potensi kekacauan infrastruktur lalu lintas di dekade mendatang. Integrasi sempurna moda roda baja kelak diharapkan menyempurnakan sistem halte bus cerdas yang sukses beroperasi







