Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Wagub Kalbar Resmikan Rumah Adat di Sanggau dan Ajak Pemuda Jaga Identitas Dayak

 

Ilustrasi AI

Pontianak - Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan memberikan pesan penting kepada generasi muda untuk terus menjaga dan merawat simbol budaya daerah dengan penuh kebanggaan. Peringatan mendalam ini disampaikannya sebagai langkah strategis dalam upaya mempertahankan identitas asli masyarakat adat Dayak, terutama di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi global yang melaju sangat pesat. Pesan krusial tersebut ditekankan oleh Krisantus saat beliau hadir meresmikan Rumah Adat Roming Ompuk Domauk Panu yang berlokasi di Desa Embala, Kecamatan Parindu, Kabupaten Sanggau pada hari Minggu lalu. Momen peresmian ini disambut antusiasme tinggi oleh warga setempat yang sangat merindukan pelestarian tradisi leluhur.

Dalam sambutannya di hadapan para tokoh adat dan masyarakat umum, Krisantus menyoroti kekhawatiran nyata mengenai potensi pudarnya jati diri sebuah suku apabila generasi penerusnya mulai abai terhadap peninggalan masa lalu. Ia secara lugas menyatakan bahwa sebuah kelompok etnis dapat kehilangan identitas aslinya secara total apabila masyarakatnya tidak lagi menjaga simbol budaya yang diwariskan turun-temurun. Kehadiran rumah adat yang berdiri megah di Desa Embala ini dinilai oleh pemerintah sebagai fondasi kekuatan utama untuk menjaga eksistensi dan muruah tatanan masyarakat Dayak. Bangunan monumental ini diharapkan mampu membuat budaya lokal bertahan menghadapi berbagai tantangan kemajuan teknologi modern yang kerap memicu pergeseran nilai sosial yang cukup ekstrem di kalangan masyarakat kita saat ini.

Lebih jauh dalam penjelasannya, Krisantus memaparkan bahwa sebuah rumah adat sejatinya memiliki filosofi dan makna spiritual yang jauh lebih mendalam dibandingkan sekadar tumpukan material fisik berupa kayu dan papan. Bangunan tradisional yang menjadi kebanggaan daerah ini merupakan representasi nyata dari perjalanan panjang sejarah peradaban, cerminan otentik jati diri kelompok, serta ruang edukasi paling memadai untuk mewariskan nilai luhur kepada anak cucu kelak. Keberadaan bangunan bersejarah ini dipandang krusial sebagai instrumen utama dalam memastikan kelangsungan kebudayaan asli Dayak agar tetap bernapas, terus hidup, dan selalu relevan dalam menyikapi segala bentuk perubahan tatanan sosial warga yang kini cenderung bergerak individualistis.

Oleh karena dasar pemikiran tersebut, Wakil Gubernur meminta dengan penuh harap agar seluruh elemen masyarakat Kabupaten Sanggau bersinergi merawat serta memanfaatkan bangunan Roming Ompuk Domauk Panu secara maksimal dan berkelanjutan. Fasilitas kebudayaan yang telah diresmikan ini harus difungsikan kembali sebagai ruang komunal harian untuk mempererat tali persaudaraan sekaligus mempertebal semangat persatuan antarwarga. Tempat bersejarah tersebut juga dianggap sangat representatif dan ideal untuk melestarikan berlakunya hukum adat setempat, memfasilitasi ragam interaksi sosial kemasyarakatan, serta menyelenggarakan berbagai agenda budaya tahunan maupun ritual sakral peninggalan nenek moyang yang selalu sarat akan makna spiritual dan kearifan ekologis.

Secara spesifik, Krisantus juga menitipkan pesan khusus agar warisan berharga ini dipelihara dan dijaga kelestariannya tanpa henti oleh kaum milenial serta generasi muda di wilayah tersebut. Ia mendorong kuat agar rumah adat tidak dibiarkan sepi, melainkan dijadikan titik kumpul warga yang produktif sekaligus pusat kegiatan pelestarian karya seni, baik itu seni tari, musik tradisional, maupun kerajinan tangan khas daerah. Provinsi Kalimantan Barat sendiri telah lama dikenal luas oleh masyarakat nusantara sebagai salah satu wilayah dengan kekayaan adat istiadat yang amat melimpah. Kekayaan tak benda ini semestinya dijaga bersama sebagai identitas pendorong kemajuan daerah sekaligus kebanggaan bernilai sejarah tinggi di kancah nasional hingga kancah internasional secara luas.

Jika kita menilik fakta antropologis dan literatur historis tentang kebudayaan Suku Dayak di kawasan Pulau Kalimantan, keberadaan rumah adat memang memegang peranan yang sangat sentral sejak zaman nenek moyang. Rumah tradisional khas suku ini, yang sering dikenal dengan sebutan rumah betang atau rumah panjang, umumnya dibangun dengan rancangan arsitektur khusus berupa struktur panggung memanjang. Tiang penyangganya yang kokoh bisa mencapai ketinggian dua hingga tiga meter dari atas permukaan tanah. Desain panggung ini pada hakikatnya merupakan adaptasi cerdas masyarakat masa lampau untuk menghindari terjangan banjir musiman, menghalau serangan binatang buas, hingga melindungi seluruh anggota kelompok dari ancaman bahaya eksternal yang datang tak terduga dalam kehidupan di dalam belantara hutan masa lalu.

Untuk memastikan kekuatan bangunan, material utama yang digunakan membangun rumah bersejarah tersebut biasanya didominasi oleh penggunaan kayu ulin atau sering disebut kayu besi yang secara alami terkenal sangat kokoh, tahan air, dan anti rayap. Penggunaan bahan baku berkualitas tinggi ini membuat banyak peninggalan rumah adat Dayak mampu berdiri tegak melintasi zaman hingga bertahan selama ratusan tahun lamanya tanpa kerusakan berarti. Ciri khas bangunannya terbilang sangat unik karena dirancang memanjang, di mana beberapa peninggalan di pedalaman Kalimantan memiliki ukuran mencapai lebih dari seratus meter. Di dalam satu bangunan megah memanjang tersebut, pada masa lalu dapat dihuni secara bersama oleh puluhan kepala keluarga yang hidup rukun berdampingan.

Pada akhirnya, peresmian Roming Ompuk Domauk Panu diharapkan tidak hanya menjadi seremoni formalitas belaka, melainkan sungguh-sungguh mampu menjadi tonggak awal penguatan kembali akar budaya Dayak di penjuru wilayah Kabupaten Sanggau. Momen bersejarah ini dirancang menjadi panggilan moral bagi anak muda untuk lebih bersemangat dalam mengenal, mendalami, dan memelihara warisan leluhurnya dengan rasa tanggung jawab yang tinggi. Rumah adat harus terus menerus bertransformasi dengan baik menjadi pusat aktivitas kebudayaan yang tidak pernah sepi dari denyut kehidupan, selaras dengan komitmen pemerintah dalam menempatkan kearifan lokal sebagai fondasi utama pembangunan sosial budaya di masa depan.

 

Also Read
Latest News
  • Wagub Kalbar Resmikan Rumah Adat di Sanggau dan Ajak Pemuda Jaga Identitas Dayak
  • Wagub Kalbar Resmikan Rumah Adat di Sanggau dan Ajak Pemuda Jaga Identitas Dayak
  • Wagub Kalbar Resmikan Rumah Adat di Sanggau dan Ajak Pemuda Jaga Identitas Dayak
  • Wagub Kalbar Resmikan Rumah Adat di Sanggau dan Ajak Pemuda Jaga Identitas Dayak
  • Wagub Kalbar Resmikan Rumah Adat di Sanggau dan Ajak Pemuda Jaga Identitas Dayak
  • Wagub Kalbar Resmikan Rumah Adat di Sanggau dan Ajak Pemuda Jaga Identitas Dayak
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad