![]() |
| Ilustrasi AI |
Pontianak – Bandara Internasional Supadio di
Pontianak kini semakin bersinar sebagai pintu gerbang utama Kalimantan Barat
menuju dunia luar. Dengan beroperasinya tiga rute internasional secara aktif,
bandara ini membuka peluang baru bagi mobilitas masyarakat, perdagangan,
pariwisata, serta investasi di provinsi yang kaya sumber daya alam tersebut.
Langkah ini menjadi momentum penting dalam mendukung visi pembangunan Kalbar
yang lebih terintegrasi dengan pasar global.
General Manager Bandara Supadio, Maya Damayanti, menyatakan
bahwa kehadiran rute-rute internasional ini merupakan hasil kolaborasi antara
PT Angkasa Pura II, maskapai penerbangan, dan pemerintah daerah. “Tiga rute
internasional yang kini melayani penerbangan reguler dari Supadio diharapkan
dapat meningkatkan lalu lintas penumpang dan kargo secara signifikan,” ujarnya
baru-baru ini. Rute tersebut mencakup penerbangan ke Kuala Lumpur (Malaysia)
yang dilayani oleh AirAsia dan Batik Air, serta rute ke Kuching (Sarawak,
Malaysia), dengan potensi penambahan frekuensi di masa mendatang.
Penerbangan perdana rute internasional pasca-pengembalian
status internasional bandara pada Juni 2025 telah menunjukkan antusiasme tinggi
dari masyarakat. AirAsia menjadi maskapai pertama yang melayani Pontianak-Kuala
Lumpur dan Pontianak-Kuching sejak September 2025. Batik Air juga ikut
memperkuat rute ke Kuala Lumpur dengan jadwal reguler, termasuk penerbangan
setiap Selasa, Kamis, dan Minggu. Keberadaan rute-rute ini mempersingkat waktu
tempuh dan memangkas biaya perjalanan bagi warga Kalbar yang selama ini harus
transit di Jakarta atau kota besar lainnya.
Bandara Supadio, yang terletak sekitar 17 kilometer selatan
Kota Pontianak di Kabupaten Kubu Raya, memiliki runway sepanjang 2.600 meter
yang mampu menampung pesawat berbadan sedang. Sebagai bandara kelas 4C,
fasilitasnya terus ditingkatkan termasuk perluasan apron, terminal, dan sistem
navigasi modern. Peningkatan ini mendukung target peningkatan kapasitas
penumpang yang sebelumnya mencapai lebih dari 1,2 juta orang per tahun.
Dampak ekonomi dari pembukaan rute internasional ini sangat
prospektif. Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Malaysia memiliki
potensi besar di sektor perdagangan komoditas seperti sawit, karet,
pertambangan, dan produk perikanan. Dengan akses langsung ke Kuala Lumpur dan
Kuching, ekspor barang lokal dapat lebih efisien, mengurangi waktu pengiriman
dan biaya logistik. Pelaku usaha kecil menengah (UKM) juga mendapat kesempatan
lebih luas untuk menembus pasar ASEAN.
Sektor pariwisata Kalbar pun diuntungkan. Destinasi unggulan
seperti Taman Nasional Gunung Palung, Danau Sentarum, Pantai Pasir Panjang,
serta wisata budaya Dayak dan Melayu kini lebih mudah dijangkau wisatawan
mancanegara. “Konektivitas internasional ini akan mendorong kunjungan wisatawan
dari Malaysia dan negara tetangga lainnya, yang pada akhirnya meningkatkan
pendapatan daerah dan membuka lapangan kerja baru di bidang hospitality,” kata
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kalbar.
Selain itu, mobilitas masyarakat semakin terfasilitasi.
Banyak warga Kalbar yang memiliki kerabat atau bisnis di Malaysia kini dapat
bepergian lebih sering tanpa hambatan transit. Hal ini juga mendukung program
pemulangan jemaah haji dan umrah, serta perjalanan bisnis antarnegara. Data
historis menunjukkan bahwa sebelum pandemi, rute Pontianak-Kuching sempat
populer dan kini kembali dihidupkan dengan lebih baik.
Pemerintah pusat dan daerah terus mendorong pengembangan
Bandara Supadio sebagai bagian dari strategi nasional konektivitas wilayah
perbatasan. Sebagai bandara internasional terdekat dengan Malaysia di Pulau
Kalimantan, Supadio berpotensi menjadi hub regional yang menghubungkan
Kalimantan dengan Semenanjung Malaysia. Kolaborasi dengan InJourney Airports
dan maskapai asing diharapkan membawa lebih banyak rute di masa depan, termasuk
kemungkinan ke Singapura atau destinasi lain di Asia Tenggara.
Tantangan tetap ada, seperti persaingan dengan bandara lain
dan kebutuhan peningkatan infrastruktur pendukung seperti jalan akses dan
fasilitas imigrasi. Namun, PT Angkasa Pura II berkomitmen melakukan berbagai
improvement, termasuk program bandara hijau dengan penghijauan area sekitar
untuk menjaga kelestarian lingkungan.
Keberhasilan ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam
mendukung pertumbuhan ekonomi Kalimantan yang inklusif. Menurut proyeksi,
peningkatan lalu lintas udara internasional dapat memberikan kontribusi
tambahan terhadap PDB daerah melalui multiplier effect di sektor terkait.
Investasi asing juga lebih tertarik masuk ketika akses transportasi udara
semakin baik, terutama di industri pengolahan sumber daya alam dan pariwisata.
Masyarakat Kalbar menyambut positif perkembangan ini. Banyak
yang berharap frekuensi penerbangan semakin bertambah dan harga tiket lebih
terjangkau. Pemerintah daerah pun diharapkan terus berkoordinasi dengan
maskapai untuk menjaga keberlanjutan rute-rute ini.
Dengan tiga rute internasional yang kini aktif, Bandara
Supadio tidak hanya menjadi infrastruktur transportasi, melainkan juga
katalisator kemajuan ekonomi dan sosial Kalimantan Barat. Di tengah dinamika
global, konektivitas yang kuat menjadi kunci bagi daerah perbatasan untuk
bersaing dan berkembang. Harapan besar kini terarah pada masa depan yang lebih
cerah, di mana Pontianak dan sekitarnya semakin terhubung dengan dunia, membawa
kemakmuran bagi seluruh masyarakat Kalbar.







