Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Waspada Penyakit Zoonosis, Dinkes Kaltim Imbau Warga Ekstra Cermat Pilih Hewan Kurban Berstatus Sehat

 

Ilustrasi AI

Samarinda – Menjelang perayaan Hari Raya Idul Adha, antusiasme masyarakat Muslim di Provinsi Kalimantan Timur untuk menunaikan ibadah kurban terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Tren kenaikan permintaan hewan ternak ini tidak lepas dari lonjakan populasi penduduk yang terus merangkak naik, seiring dengan masifnya pembangunan proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) di wilayah Benua Etam. Menanggapi tingginya perputaran ekonomi di sektor peternakan musiman ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Timur secara proaktif mengeluarkan imbauan tegas kepada seluruh lapisan masyarakat. Imbauan tersebut berfokus pada pentingnya kehati-hatian dan kecermatan tingkat tinggi dalam proses pemilihan hewan kurban di pasaran. Masyarakat ditekankan untuk tidak sekadar tergiur dengan tawaran harga yang miring, melainkan harus menjadikan status kesehatan hewan sebagai prioritas mutlak demi menjamin kelayakan daging yang nantinya akan dikonsumsi oleh ribuan penerima manfaat di berbagai pelosok daerah.

Salah satu instrumen pengawasan paling krusial yang digarisbawahi oleh otoritas kesehatan daerah adalah keberadaan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH). Setiap hewan kurban, baik itu sapi, kambing, maupun domba yang diperjualbelikan secara bebas di lapak-lapak pedagang, wajib dilengkapi dengan dokumen legal dan sah tersebut. SKKH ini bukanlah sekadar formalitas administrasi di atas kertas, melainkan jaminan valid dari otoritas veteriner bahwa hewan ternak bersangkutan telah melewati proses skrining medis yang ketat. Mengingat Kalimantan Timur masih sangat bergantung pada pasokan hewan kurban dari luar daerah seperti Sulawesi, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara, risiko masuknya penyakit lintas pulau sangatlah tinggi. Oleh karena itu, sinergi lintas sektoral terus diperkuat. Otoritas terkait kini secara intensif memperketat pengawasan di berbagai titik masuk pelabuhan guna mencegah masuknya wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta Lumpy Skin Disease (LSD) yang sewaktu-waktu dapat meledak dan merugikan para peternak lokal.

Bagi warga yang berencana memantau dan membeli hewan kurban secara langsung, Dinkes Kaltim membagikan panduan praktis mengenai ciri-ciri fisik ternak yang sehat dan layak untuk dipotong. Secara visual, hewan kurban yang berada dalam kondisi prima akan menunjukkan perilaku yang aktif, responsif terhadap pergerakan di lingkungan sekitar, dan memiliki nafsu makan yang sangat baik. Bulu pada hewan yang sehat akan tampak bersih, mengkilap, dan tidak mudah rontok ketika dielus. Selain itu, masyarakat juga diwajibkan untuk memeriksa area wajah hewan dengan saksama. Mata ternak yang sehat akan terlihat jernih dan bersinar terang, tanpa adanya selaput putih atau kotoran berlebih, sedangkan bagian hidung akan terasa lembap alami dan bersih dari lendir yang mencurigakan. Sebaliknya, warga diimbau untuk segera membatalkan transaksi apabila menemukan hewan ternak yang terlihat lesu, kesulitan berdiri, pincang, atau mengeluarkan air liur yang berlebihan, karena gejala tersebut merupakan indikasi kuat adanya masalah kesehatan akut.

Kecermatan dalam menyeleksi hewan kurban memiliki korelasi langsung dengan upaya pencegahan penyebaran penyakit zoonosis, yakni jenis penyakit yang dapat menular secara cepat dari hewan ke tubuh manusia atau sebaliknya. Patogen berbahaya yang berpotensi bersarang pada hewan ternak yang sakit tidak boleh dianggap remeh, karena hal ini dapat menjelma menjadi ancaman serius bagi ketahanan kesehatan masyarakat luas. Meskipun virus PMK dan LSD secara teori medis tidak menular langsung ke manusia, konsumsi daging dari hewan yang terinfeksi dipastikan dapat menurunkan kualitas gizi secara drastis dan memperburuk sanitasi lingkungan jika limbah organ dalamnya tidak dikelola dengan benar. Lebih dari itu, kewaspadaan tinggi juga diarahkan pada potensi penyakit antraks yang spora bakterinya bisa bertahan sangat lama di dalam tanah dan dikenal amat mematikan. Oleh karena itu, memastikan bahwa hewan kurban benar-benar bebas dari cacat fisik dan terbebas dari segala macam penyakit menular adalah langkah mitigasi pertama yang tidak bisa ditawar-tawar.

Rangkaian mitigasi kesehatan ini tidak seharusnya berhenti hanya pada saat proses transaksi pembelian hewan, tetapi wajib berlanjut hingga ke tahap penyembelihan dan pendistribusian daging. Dinkes Kaltim turut memberikan sorotan tajam pada implementasi standar sanitasi di lokasi pemotongan. Para panitia kurban di masjid-masjid dan lingkungan warga diinstruksikan secara tegas untuk menggunakan peralatan jagal yang higienis, tajam, dan sama sekali tidak berkarat. Proses penanganan daging segar juga harus dilakukan di atas alas yang bersih dan sebisa mungkin menghindari kontak langsung dengan kotoran tanah. Hal yang tidak kalah penting adalah prosedur pemisahan secara ketat antara daging merah murni dengan jeroan atau organ dalam perut hewan saat proses pengemasan berlangsung. Pemisahan ini sangatlah vital untuk mencegah terjadinya kontaminasi silang dari bakteri usus ke dalam serat daging yang telah siap didistribusikan. Penggunaan kantong plastik ramah lingkungan atau wadah food grade juga sangat direkomendasikan demi menjaga kemurnian daging kurban.

Pada akhirnya, pelaksanaan ibadah kurban tahunan bukan semata-mata soal menunaikan kewajiban syariat keagamaan, tetapi juga menuntut tanggung jawab sosial yang teramat besar dalam menjaga jaminan keamanan pangan publik. Keterlibatan aktif warga untuk berevolusi menjadi konsumen yang cerdas dan kritis dalam memilih hewan ternak sangatlah diharapkan oleh pemerintah. Melalui sosialisasi yang masif dan inspeksi mendadak yang rutin digelar oleh satuan tugas gabungan di lapangan, perayaan Idul Adha di wilayah Kalimantan Timur tahun ini diyakini dapat berjalan dengan lebih khusyuk, aman, dan sehat. Daging kurban yang dibagikan nantinya dipastikan telah memenuhi standar kualifikasi Aman, Sehat, Utuh, dan Halal (ASUH). Dengan demikian, asupan gizi masyarakat, terutama mereka yang berada di kelompok rentan, dapat terpenuhi secara optimal tanpa adanya sedikit pun kekhawatiran akan ancaman penyakit menular yang mengintai.

 

Also Read
Latest News
  • Waspada Penyakit Zoonosis, Dinkes Kaltim Imbau Warga Ekstra Cermat Pilih Hewan Kurban Berstatus Sehat
  • Waspada Penyakit Zoonosis, Dinkes Kaltim Imbau Warga Ekstra Cermat Pilih Hewan Kurban Berstatus Sehat
  • Waspada Penyakit Zoonosis, Dinkes Kaltim Imbau Warga Ekstra Cermat Pilih Hewan Kurban Berstatus Sehat
  • Waspada Penyakit Zoonosis, Dinkes Kaltim Imbau Warga Ekstra Cermat Pilih Hewan Kurban Berstatus Sehat
  • Waspada Penyakit Zoonosis, Dinkes Kaltim Imbau Warga Ekstra Cermat Pilih Hewan Kurban Berstatus Sehat
  • Waspada Penyakit Zoonosis, Dinkes Kaltim Imbau Warga Ekstra Cermat Pilih Hewan Kurban Berstatus Sehat
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad