Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Sukamara Targetkan Perluasan Cetak Sawah 904 Hektare Guna Menopang Ketahanan Pangan Kalimantan Tengah

 

Ilustrasi AI

KALTENG - Pemerintah Kabupaten Sukamara di Provinsi Kalimantan Tengah kembali menunjukkan komitmen seriusnya dalam mewujudkan kemandirian sektor pertanian daerah melalui usulan ambisius perluasan lahan basah. Pada tahun anggaran 2026, otoritas pertanian setempat resmi mengajukan program lanjutan cetak sawah baru yang ditargetkan mencapai luasan 904 hektare. Langkah strategis ini diambil sebagai respons proaktif atas semakin mendesaknya kebutuhan pasokan bahan pangan pokok, seiring laju pertumbuhan penduduk serta dinamika perpindahan ibu kota negara ke wilayah Pulau Borneo. Pengajuan usulan program ekstensifikasi lahan ini diharapkan mampu membebaskan kabupaten dari ketergantungan pasokan beras lintas pulau yang selama ini mendominasi alur distribusi pasar.

Usulan pencetakan sawah baru ini bukanlah tanpa landasan kajian matang dari para pemangku kepentingan. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Sukamara telah melakukan pemetaan topografi dan uji kelayakan tanah di sejumlah kecamatan potensial yang memiliki agroekosistem mendukung budi daya tanaman padi. Pemilihan lahan diprioritaskan pada kawasan yang memiliki kedekatan dengan sumber air permukaan, sehingga sistem irigasi nantinya dapat dibangun lebih efisien dan menekan biaya konstruksi. Keberhasilan tahapan sebelumnya menjadi modal kepercayaan diri pemerintah daerah untuk kembali meyakinkan Kementerian Pertanian agar mengucurkan dana alokasi khusus fisik guna merealisasikan cetak sawah tahun ini.

Berbicara dalam konteks yang lebih luas, inisiatif Kabupaten Sukamara ini sangat sejalan dengan visi makro Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah yang tengah berupaya keras mengukuhkan diri sebagai lumbung pangan penyangga nasional. Sejak digulirkannya program strategis nasional berupa pengembangan kawasan sentra produksi pangan atau yang lebih dikenal dengan istilah food estate, seluruh kabupaten di Kalteng didorong untuk memaksimalkan potensi lahan telantar menjadi lahan produktif bernilai ekonomi tinggi. Sukamara yang memiliki luasan wilayah daratan cukup masif dinilai memiliki peluang emas untuk menyumbangkan surplus gabah kering giling jika ratusan hektare lahan baru tersebut dapat dikelola menggunakan pendekatan pertanian modern yang presisi.

Tentu saja, mengubah lahan belukar atau kawasan bukan sawah menjadi area persawahan produktif di tanah Kalimantan bukanlah sebuah pekerjaan yang bisa diselesaikan dalam semalam. Para ahli agronomi menyadari betul bahwa karakteristik tanah di sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah memiliki tingkat keasaman yang cukup tinggi serta minim unsur hara makro alami. Oleh sebab itu, program cetak sawah seluas 904 hektare ini wajib dibarengi dengan paket bantuan amelioran seperti kapur pertanian atau dolomit untuk menetralkan pH tanah. Selain perbaikan struktur kimia tanah, pasokan pupuk bersubsidi yang tepat waktu dan terukur menjadi kunci mutlak agar benih varietas unggul yang ditanam pada musim tanam perdana tidak mengalami kegagalan tumbuh.

Selain persoalan hara tanah, tantangan klasik yang selalu membayangi proyek ekstensifikasi lahan pertanian baru adalah ketersediaan tenaga kerja di pedesaan. Profesi petani saat ini menghadapi ancaman penuaan demografi, di mana generasi muda cenderung lebih tertarik bekerja di sektor pertambangan, perkebunan kelapa sawit, maupun merantau ke kawasan perkotaan. Mengantisipasi defisit tenaga kerja manual tersebut, pemerintah dituntut untuk segera mendistribusikan bantuan alat mesin pertanian modern secara masif kepada kelompok tani atau gapoktan penerima manfaat. Mekanisasi mulai dari traktor roda empat untuk pengolahan tanah, mesin tanam padi otomatis, hingga mesin panen kombinasi harus terintegrasi dalam paket program cetak sawah ini agar operasional berjalan efektif.

Keterlibatan aktif dan pendampingan intensif dari para penyuluh pertanian lapangan juga menjadi faktor krusial yang tidak boleh disepelekan sedikit pun oleh dinas terkait. Banyak kasus di berbagai daerah menunjukkan bahwa lahan cetak sawah baru berujung terbengkalai kembali menjadi semak belukar lantaran minimnya edukasi teknis kepada para petani penggarap. Karakteristik mengelola sawah bukaan baru tentu sangat berbeda dengan sawah irigasi teknis yang sudah berumur puluhan tahun di Pulau Jawa. Petani lokal di Sukamara membutuhkan transfer pengetahuan mengenai manajemen tata air makro dan mikro, teknik pemupukan berimbang, hingga strategi pengendalian hama terpadu yang ramah lingkungan guna mencegah serangan organisme pengganggu tumbuhan yang berpotensi memusnahkan harapan panen raya.

Apabila usulan cetak sawah seluas 904 hektare ini kelak disetujui oleh pemerintah pusat dan terealisasi dengan sempurna, dampak ekonomi ganda yang akan dirasakan oleh masyarakat lokal diproyeksikan akan sangat luar biasa. Ekstensifikasi lahan ini secara langsung akan menyerap ribuan tenaga kerja baru di sektor pedesaan, mulai dari tahap pembukaan lahan, konstruksi saluran irigasi, hingga masuk ke fase budi daya. Peningkatan produktivitas beras lokal ini pada akhirnya akan mendongkrak Nilai Tukar Petani di Kabupaten Sukamara, sebuah indikator utama yang mencerminkan tingkat kesejahteraan hidup keluarga pahlawan pangan. Lebih dari itu, ketersediaan pasokan beras yang melimpah akan menstabilkan inflasi daerah yang selama ini sering dipicu oleh fluktuasi harga kebutuhan pokok.

Harapan besar kini digantungkan pada sinergi lintas sektoral antara Pemerintah Kabupaten Sukamara, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, dan Kementerian Pertanian di Jakarta. Percepatan birokrasi dan transparansi lelang pengadaan barang dan jasa untuk proyek ini mutlak diperlukan agar jadwal pencetakan sawah tidak meleset dari kalender musim tanam yang sangat bergantung pada siklus hidrologi alam. Masyarakat petani Sukamara kini menanti realisasi konkret dari usulan tersebut, bukan sekadar angka statistik di atas kertas dokumen perencanaan. Keberhasilan mencetak 904 hektare sawah baru ini nantinya akan menjadi monumen pembuktian bahwa Kalimantan Tengah benar-benar siap menjadi benteng pertahanan terakhir kedaulatan pangan Republik Indonesia di masa depan.

 

Also Read
Latest News
  • Sukamara Targetkan Perluasan Cetak Sawah 904 Hektare Guna Menopang Ketahanan Pangan Kalimantan Tengah
  • Sukamara Targetkan Perluasan Cetak Sawah 904 Hektare Guna Menopang Ketahanan Pangan Kalimantan Tengah
  • Sukamara Targetkan Perluasan Cetak Sawah 904 Hektare Guna Menopang Ketahanan Pangan Kalimantan Tengah
  • Sukamara Targetkan Perluasan Cetak Sawah 904 Hektare Guna Menopang Ketahanan Pangan Kalimantan Tengah
  • Sukamara Targetkan Perluasan Cetak Sawah 904 Hektare Guna Menopang Ketahanan Pangan Kalimantan Tengah
  • Sukamara Targetkan Perluasan Cetak Sawah 904 Hektare Guna Menopang Ketahanan Pangan Kalimantan Tengah
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad