Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Jerit Hati Masyarakat Adat Terpinggirkan oleh Megaproyek Ibu Kota Nusantara Kini Kesulitan Air Bersih

Ilustrasi AI

IKN – Kemegahan megaproyek Ibu Kota Nusantara di Provinsi Kalimantan Timur ternyata menyisakan kisah pilu yang luput dari sorotan gemerlap lampu ibu kota baru. Di balik gegap gempita pembangunan infrastruktur cerdas dan visi kota hutan berkelanjutan, terdapat realitas pahit yang harus ditelan oleh masyarakat adat setempat. Kelompok rentan yang telah mendiami wilayah pesisir dan pedalaman jauh sebelum alat berat merambah tanah mereka ini, kini harus berhadapan dengan krisis ekologis yang mengancam ruang hidup dasar. Salah satu ironi paling tajam yang kini mencuat ke permukaan adalah hilangnya akses terhadap sumber air bersih secara cuma-cuma, sebuah kebutuhan paling esensial yang sebelumnya selalu disediakan oleh alam secara berlimpah.

Warga Suku Balik, yang merupakan komunitas masyarakat adat asli di wilayah Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, kini menjadi saksi hidup bagaimana perubahan lanskap lingkungan terjadi begitu drastis. Selama berabad-abad, roda kehidupan mereka sangat bergantung pada aliran Sungai Sepaku dan berbagai anak sungai kecil yang membelah perkampungan. Sungai bukan sekadar sumber air minum, melainkan urat nadi kebudayaan, tempat mereka mencari nafkah, mandi, hingga menjalankan ritual adat. Namun, masifnya aktivitas pembukaan lahan, pengerukan tanah, serta mobilisasi kendaraan berat dalam dua tahun terakhir telah mengubah air sungai yang tadinya jernih menjadi keruh, berlumpur, dan tidak lagi layak untuk dikonsumsi maupun digunakan untuk kebutuhan sanitasi sehari-hari.

Kondisi ekologis yang memburuk ini memaksa masyarakat adat untuk menempuh jalan yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan dalam sejarah leluhur mereka, yakni membeli air bersih. Untuk memenuhi kebutuhan harian seperti memasak dan air minum keluarga, warga kini harus mengeluarkan biaya ekstra demi mendatangkan pasokan air melalui mobil-mobil tangki komersial. Berdasarkan penuturan sejumlah tokoh adat dan warga setempat, harga satu tandon air berkapasitas seribu liter bisa mencapai puluhan hingga ratusan ribu rupiah, sangat bergantung pada tingkat kesulitan akses menuju permukiman mereka. Bagi masyarakat pedesaan yang sebagian besar berprofesi sebagai petani ladang, pekebun, dan nelayan sungai tradisional, pengeluaran tambahan ini jelas sangat membebani dan mengancam ketahanan ekonomi rumah tangga mereka yang perlahan ikut tergerus oleh penyusutan lahan garapan.

Krisis air bersih ini terasa semakin paradoks dengan keberadaan proyek infrastruktur penunjang Ibu Kota Nusantara, seperti pembangunan Bendungan Sepaku Semoi dan fasilitas Intake Sungai Sepaku. Infrastruktur raksasa yang dibangun dengan sokongan anggaran triliunan rupiah tersebut dirancang khusus untuk menyuplai pasokan air baku bagi Kawasan Inti Pusat Pemerintahan serta titik-titik kamp pekerja proyek. Sementara itu, perkampungan warga adat yang berjarak hanya sepelemparan batu dari bendungan justru tidak masuk dalam skema prioritas jaringan perpipaan air bersih tersebut. Sistem pipanisasi yang dibangun membelah desa-desa mereka seolah menjadi dinding pembatas kasat mata yang menegaskan kesenjangan antara fasilitas modern bagi para pendatang dan keterbatasan yang harus dipikul oleh warga asli.

Aliansi Masyarakat Adat Nusantara mencatat bahwa fenomena sosial yang terjadi di Sepaku merupakan bentuk nyata dari beban ekologis yang kerap mengiringi proyek strategis berskala nasional. Ketika lingkungan hidup yang menjadi ruang komunal warga mengalami degradasi akibat intervensi industri konstruksi secara masif, maka yang terjadi bukan sekadar krisis air secara fisik, melainkan juga krisis identitas budaya. Masyarakat Suku Balik merasa semakin terasing di tanah kelahirannya sendiri akibat hilangnya sumber daya alam penyokong hidup. Suara-suara penolakan dan keluhan yang mereka sampaikan melalui berbagai forum musyawarah desa hingga audiensi dengan pihak otoritas kerap kali hanya ditampung tanpa adanya langkah mitigasi yang konkret, proporsional, dan berkesinambungan di lapangan.

Pihak Otorita Ibu Kota Nusantara sejatinya tidak tinggal diam menghadapi kritik tajam terkait dampak sosial dan lingkungan ini. Dalam beberapa kesempatan, perwakilan pemerintah menyatakan komitmennya untuk tidak meninggalkan masyarakat lokal dalam gerbong pembangunan daerah. Bantuan berupa distribusi air bersih melalui armada truk tangki milik pemerintah dan perusahaan kontraktor sesekali disalurkan ke permukiman warga yang paling terdampak. Namun, langkah penanggulangan tersebut dinilai oleh banyak pemerhati sosial sebagai solusi karitatif yang bersifat reaktif dan sangat sementara, bukan penyelesaian akar masalah. Warga tidak membutuhkan bantuan air yang datang dengan jadwal tidak menentu, melainkan jaminan pemulihan ekosistem sungai dan pembangunan jaringan air bersih permanen yang mengalir langsung ke rumah-rumah penduduk lokal secara adil.

Tantangan pemenuhan hak dasar ini seharusnya menjadi bahan evaluasi kritis bagi seluruh pemangku kebijakan yang merancang masterplan peradaban ibu kota masa depan. Visi besar untuk membangun sebuah mahakarya kota modern berlabel ramah lingkungan, cerdas, dan inklusif akan kehilangan makna luhurnya apabila fondasinya secara tidak langsung dibangun di atas penderitaan warga lokal. Pembangunan yang beradab tidak boleh hanya diukur dari seberapa cepat gedung-gedung pemerintahan menjulang tinggi atau seberapa mulus aspal jalan tol membelah kawasan hutan. Tolok ukur kesuksesan yang sesungguhnya terletak pada bagaimana sebuah negara memposisikan, menghormati, serta melindungi hak-hak hidup kelompok minoritas yang paling rentan terdampak oleh modernisasi.

Pada akhirnya, tetesan air mata dan peluh masyarakat adat Suku Balik di pesisir Sepaku adalah pengingat keras bagi seluruh elemen bangsa. Membangun peradaban baru di Kalimantan Timur harus senantiasa berjalan beriringan dengan prinsip keadilan sosial dan perlindungan ekologis. Jika pemerintah tidak segera melakukan intervensi kebijakan yang terstruktur untuk mengembalikan hak atas air bersih bagi warga lokal, maka tata kota yang megah hanya akan mewariskan memori kolektif yang kelam. Kemajuan sebuah wilayah tidak akan pernah bisa dikatakan berhasil secara utuh jika penduduknya yang paling asli justru harus merogoh kocek untuk membeli air dari tanah yang telah diwariskan oleh nenek moyang mereka selama berabad-abad lamanya.

 

Also Read
Latest News
  • Jerit Hati Masyarakat Adat Terpinggirkan oleh Megaproyek Ibu Kota Nusantara Kini Kesulitan Air Bersih
  • Jerit Hati Masyarakat Adat Terpinggirkan oleh Megaproyek Ibu Kota Nusantara Kini Kesulitan Air Bersih
  • Jerit Hati Masyarakat Adat Terpinggirkan oleh Megaproyek Ibu Kota Nusantara Kini Kesulitan Air Bersih
  • Jerit Hati Masyarakat Adat Terpinggirkan oleh Megaproyek Ibu Kota Nusantara Kini Kesulitan Air Bersih
  • Jerit Hati Masyarakat Adat Terpinggirkan oleh Megaproyek Ibu Kota Nusantara Kini Kesulitan Air Bersih
  • Jerit Hati Masyarakat Adat Terpinggirkan oleh Megaproyek Ibu Kota Nusantara Kini Kesulitan Air Bersih
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad