![]() |
| Ilustrasi AI |
IKN – Arus kunjungan masyarakat ke Ibu Kota Nusantara
(IKN) selama libur Lebaran Idulfitri 1447 Hijriah membawa berkah ekonomi bagi
pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) setempat. Banyak pedagang
melaporkan lonjakan omzet hingga belasan hingga puluhan juta rupiah per hari,
jauh melampaui pendapatan hari biasa yang hanya berkisar Rp1–3 juta. Antusiasme
wisatawan yang datang melihat langsung progres pembangunan di Kawasan Inti
Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN menjadi pendorong utama geliat ekonomi lokal ini.
Menurut laporan dari berbagai pelaku usaha di sekitar IKN,
sektor kuliner dan suvenir menjadi yang paling diuntungkan. Kemudahan akses
jalan selama periode libur Lebaran turut mendukung mobilitas pengunjung,
sehingga kawasan IKN yang masih dalam tahap pembangunan ini mendadak ramai.
Bukan hanya sekadar melihat gedung-gedung baru, wisatawan juga menikmati produk
lokal dan kuliner khas yang dijual di titik-titik strategis seperti Plaza
Seremoni, Café Sepaku Empat, hingga area glamping.
Salah satu cerita sukses datang dari Nita, pemilik Café
Sepaku Empat. Sebelum libur Lebaran, omzet hariannya rata-rata Rp1,8 juta.
Namun, pada hari pertama hingga ketiga Lebaran, pendapatan melonjak drastis
menjadi Rp10 juta hingga Rp15 juta per hari. “Awalnya omzet sekitar Rp1,8 juta
per hari. Namun, selama Lebaran hari pertama hingga ketiga, omzet meningkat
signifikan menjadi sekitar Rp10 juta sampai Rp15 juta per hari,” ujar Nita.
Produk mochi buatannya menjadi favorit anak-anak, meski
proses pembuatannya memakan waktu cukup lama, penjualannya justru sangat cepat.
Pengunjung rela antre untuk mencicipi camilan manis ini, yang turut menyumbang
lonjakan omzet café tersebut.
Tak kalah mengesankan, Sri Mus Mulyawati dari D’sweet
Nusantara mencatat omzet tertinggi selama periode tersebut. Bakwan Malang
andalannya menjadi daya tarik tersendiri. “Selama Lebaran, omzet bisa mencapai
Rp10 sampai Rp20 juta per hari. Banyak pengunjung datang kembali karena
mengingat menu kami,” katanya. Ia menambahkan bahwa rasa bakwan yang “bikin
kangen” menjadi testimoni langsung dari para wisatawan. “Rasanya itu bikin
kangen pengunjung. Itu testimoni pengunjung sendiri. Katanya kalau ke IKN itu ingetnya
bakwan Malang D’sweet.”
Di Plaza Seremoni, Wahyu yang menjajakan dawet ayu “Bang
Brewok” juga merasakan euforia yang sama. Omzet hariannya mencapai Rp10 juta
hingga Rp12 juta selama libur Lebaran. Sementara itu, Ichi dari Goffee Latte
dan BJ Resto mengungkapkan pola yang konsisten: “Misal liburan gini atau ada
event kita bisa tembus Rp10 atau Rp15 juta, kalau ga ada event Rp2 atau Rp3
juta.”
Pedagang suvenir seperti Dina pun tak ketinggalan. Omzetnya
meningkat dua kali lipat dibandingkan hari-hari biasa, terutama untuk pakaian
dan merchandise bertema Nusantara yang banyak diburu sebagai oleh-oleh. Kevin
dari Rumah Makan Global di area glamping juga melaporkan peningkatan, meski
tidak sedramatis rekan-rekannya. Awalnya Rp1 juta per hari, kini ia berhasil
melampaui angka tersebut setelah meningkatkan kualitas dan variasi produk.
Troy Pantouw, Staf Khusus Kepala Otorita IKN Bidang
Komunikasi Publik dan Juru Bicara Otorita IKN, menyambut positif fenomena ini.
“Arus kunjungan masyarakat yang datang untuk melihat langsung progres
pembangunan tidak hanya menciptakan keramaian, tetapi juga menguatkan aktivitas
ekonomi, terutama bagi pelaku UMKM. Kami melihat bagaimana kunjungan masyarakat
ke IKN telah mendorong peningkatan pendapatan masyarakat setempat,” ujar Troy.
Ia menambahkan bahwa Otorita IKN memberikan apresiasi kepada
para pelaku usaha yang telah membuka outlet di berbagai titik di KIPP serta
kepada UMKM makanan, minuman, dan merchandise dari warga sekitar. “Ini bukan
sekedar berkah musim liburan namun juga menandai optimisme berusaha dan
berinvestasi di Ibu Kota Nusantara. Kami mengajak masyarakat untuk jangan
ragu-ragu memulai usaha dan berinvestasi di Ibu Kota Nusantara,” tegasnya.
Lonjakan ini terjadi karena masyarakat ingin melihat secara
langsung perkembangan IKN sebagai ibu kota baru Indonesia. Banyak yang datang
dari berbagai daerah di Kalimantan maupun luar pulau, memanfaatkan libur
Lebaran untuk wisata edukasi sekaligus rekreasi. Kehadiran mereka tidak hanya
menyemarakkan kawasan, tetapi juga membuktikan bahwa pembangunan IKN mulai
memberikan dampak ekonomi riil bagi masyarakat sekitar, khususnya pelaku UMKM.
Meski demikian, peningkatan omzet ini lebih dominan terjadi
pada momen-momen khusus seperti libur Lebaran atau event besar. Pada hari
biasa, pendapatan pedagang kembali ke level normal Rp1–3 juta per hari. Hal ini
menunjukkan bahwa daya tarik IKN sebagai destinasi wisata masih sangat
bergantung pada momentum dan progres pembangunan yang terus berlanjut.
Otorita IKN sendiri terus mendorong agar geliat positif ini
dapat dipertahankan dan dikembangkan. Dengan semakin banyak pelaku usaha yang
membuka outlet di kawasan inti, diharapkan ekosistem ekonomi baru akan
terbentuk secara berkelanjutan. Para pedagang lokal yang selama ini
mengandalkan kunjungan sporadis kini mulai melihat peluang jangka panjang di
balik pembangunan IKN.
Fenomena “wisata IKN meledak” ini menjadi sinyal awal bahwa
ibu kota baru tidak hanya akan menjadi pusat pemerintahan, tetapi juga magnet
ekonomi dan pariwisata di wilayah timur Indonesia. Bagi pedagang seperti Nita,
Sri Mus, Wahyu, dan rekan-rekannya, libur Lebaran tahun ini menjadi bukti nyata
bahwa antusiasme masyarakat terhadap IKN membawa dampak langsung pada kantong
mereka.
Dengan optimisme yang disuarakan Otorita IKN, diharapkan
momentum ini dapat terus berlanjut. Pembukaan akses yang lebih baik, penambahan
fasilitas wisata, dan dukungan bagi UMKM lokal akan menjadi kunci agar omzet
Rp10–20 juta per hari bukan hanya cerita Lebaran semata, melainkan menjadi
bagian dari kehidupan ekonomi sehari-hari di IKN.
Saat ini, ribuan pengunjung yang datang dengan rasa
penasaran terhadap masa depan ibu kota baru Indonesia telah berhasil mengubah
kawasan KIPP yang masih berkembang menjadi ladang rezeki bagi ratusan pedagang
kecil. Cerita sukses mereka menjadi bukti bahwa pembangunan besar-besaran pun
dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat akar rumput, asal ada
kesempatan dan dukungan yang tepat.







