![]() |
| Ilustrasi AI |
IKN – Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) menegaskan
komitmennya agar pembangunan ibu kota baru tidak hanya megah, tapi juga
memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar. Pendekatan inklusif ini
ditekankan agar warga lokal menjadi pelaku utama dalam pertumbuhan ekonomi
kawasan. Pengumuman ini disampaikan pada Minggu, 1 Maret 2026, di wilayah
Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur.
OIKN fokus pada pemberdayaan masyarakat agar pembangunan IKN benar-benar terasa
manfaatnya, bukan sekadar janji.
Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, menyatakan bahwa
masyarakat sekitar harus aktif terlibat. "Masyarakat sekitar tidak hanya
akan menjadi penerima manfaat, melainkan juga pelaku utama dalam pertumbuhan
ekonomi kawasan," ujar Basuki dalam keterangan resminya. Ia menambahkan
bahwa penguatan potensi ekonomi lokal melalui peningkatan kapasitas produksi
dan pemasaran produk unggulan menjadi prioritas. Hal ini sejalan dengan
kerangka Superhub Ekonomi Nusantara (SEN), yang bertujuan mendiversifikasi
sektor ekonomi untuk mencapai target secepatnya.
OIKN memastikan bahwa program-programnya dirancang untuk
memberdayakan masyarakat pesisir dan sekitar IKN. Contohnya, pengembangan
kawasan tambak di Tanjung atau Desa Muara Sembilang, Kecamatan Samboja,
Kabupaten Kutai Kartanegara. Kawasan ini berpotensi menjadi desa wisata yang
menarik pengunjung, sekaligus pusat produksi pangan berbasis sumber daya lokal.
Komoditas utama seperti ikan bandeng, udang, dan rumput laut diolah tidak hanya
sebagai bahan mentah, tapi juga produk bernilai tambah tinggi.
Detail Program dan Inisiatif Pemberdayaan
Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir menjadi
salah satu inisiatif utama OIKN. Program ini melibatkan masyarakat secara aktif
dalam pembangunan IKN, dengan fokus pada peningkatan produksi dan pemasaran
untuk mencapai kemandirian. Basuki Hadimuljono menjelaskan bahwa fortifikasi
pangan, seperti bubuk protein dari ikan bandeng dan udang, serta pengolahan
rumput laut menjadi bahan dasar kosmetik dan farmasi, akan menjadi langkah
diversifikasi. "Fortifikasi pangan meliputi bubuk protein dari bandeng dan
udang, serta rumput laut yang akan diolah menjadi bahan dasar kosmetik dan
farmasi untuk diversifikasi sektor dan mencapai target SEN segera,"
katanya.
Inovasi produk lokal juga ditekankan untuk meningkatkan daya
saing. Selain produk mentah, OIKN mendorong pengembangan camilan olahan seperti
amplang dari udang dan kepiting yang diproduksi oleh pelaku usaha lokal. Ke
depan, produk ini akan ditingkatkan dengan penambahan mikro-nutrisi, vitamin,
dan mineral untuk kualitas lebih baik. Pendekatan ini tidak hanya menambah
nilai ekonomi, tapi juga membuka peluang usaha baru bagi warga di sekitar IKN.
OIKN telah melakukan koordinasi intensif dengan pemerintah
daerah untuk mengimplementasikan program ini. Di Desa Muara Sembilang,
misalnya, kawasan tambak direncanakan sebagai destinasi wisata yang
terintegrasi dengan produksi pangan. Ini akan menciptakan ekosistem di mana
masyarakat bisa menjual produk langsung ke wisatawan, sekaligus mempromosikan
keunikan lokal. Program juga mencakup pelatihan bagi masyarakat agar mereka
bisa mengelola usaha secara mandiri, mulai dari budidaya hingga pemasaran
digital.
Selain itu, OIKN menyoroti pentingnya diversifikasi ekonomi
untuk mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah. Dengan SEN sebagai
kerangka, inisiatif ini diharapkan bisa segera terealisasi melalui kolaborasi
dengan pelaku usaha dan komunitas. Basuki menambahkan bahwa pendekatan ini
memastikan masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tapi ikut serta dalam
rantai nilai ekonomi IKN. Program pemberdayaan juga melibatkan monitoring rutin
untuk menyesuaikan dengan kebutuhan lokal, memastikan keberlanjutan jangka
panjang.
Langkah konkret lainnya termasuk pengembangan produk olahan
dari rumput laut, yang potensial untuk industri kecantikan dan kesehatan. OIKN
bekerja sama dengan ahli untuk memberikan bimbingan teknis, sehingga masyarakat
bisa memproduksi bahan dasar berkualitas tinggi. Ini tidak hanya meningkatkan
pendapatan, tapi juga membuka pasar baru di luar daerah. Di sisi lain,
fortifikasi pangan dari ikan bandeng dan udang dirancang untuk memenuhi standar
nasional, dengan tujuan ekspor ke pasar yang lebih luas.
OIKN juga mendorong partisipasi masyarakat dalam pengelolaan
desa wisata. Di Tanjung, kawasan tambak akan dikembangkan dengan fasilitas
pendukung seperti jalur wisata dan pusat pengolahan produk. Ini akan
menciptakan lapangan kerja baru, dari petani hingga pemandu wisata, semuanya
berbasis pada potensi lokal. Program ini selaras dengan visi IKN sebagai kota
inklusif, di mana manfaat pembangunan dirasakan secara merata oleh warga
Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara.
Secara keseluruhan, inisiatif OIKN ini menekankan
keseimbangan antara pembangunan infrastruktur dan pemberdayaan masyarakat.
Dengan fokus pada produk unggulan seperti bandeng, udang, dan rumput laut,
program ini dirancang untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang mandiri. OIKN
terus memantau kemajuan, dengan rencana ekspansi ke lebih banyak desa di
sekitar IKN. Kolaborasi dengan pemerintah provinsi dan kabupaten menjadi kunci
untuk keberhasilan, memastikan bahwa setiap langkah memberikan nilai tambah bagi
masyarakat lokal.







