![]() |
| Ilustrasi AI |
Malinau – Hujan deras yang mengguyur wilayah
Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, sejak beberapa hari terakhir memicu
longsor di Desa Long Berang, Kecamatan Long Bangun, pada Minggu malam, 16 Maret
2026. Kejadian ini menyebabkan material tanah dan batu longsor menutup sebagian
badan jalan desa serta mengancam beberapa rumah warga yang berada di lereng
bukit. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malinau langsung
turun ke lokasi dan mengeluarkan imbauan resmi agar seluruh warga meningkatkan
kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem.
Menurut laporan BPBD Malinau yang dirilis Senin pagi,
longsor terjadi sekitar pukul 21.00 WITA akibat curah hujan tinggi yang
berlangsung lebih dari 12 jam tanpa henti. Material longsor berupa tanah, batu,
dan pohon tumbang menutup jalan utama desa sepanjang sekitar 50 meter dengan
ketebalan hingga 2–3 meter. Untungnya, tidak ada korban jiwa atau luka-luka
yang dilaporkan. Namun, akses lalu lintas desa sempat terputus total hingga
pagi hari, sehingga warga kesulitan beraktivitas dan distribusi logistik terganggu.
Kepala BPBD Kabupaten Malinau, Ir. H. Muhammad Yasin,
menyatakan bahwa tim gabungan segera melakukan evakuasi darurat dan pembersihan
material longsor. “Kami sudah kerahkan alat berat dari Dinas PUPR dan relawan
untuk membuka akses jalan. Saat ini jalur sudah bisa dilalui kendaraan roda dua
dengan hati-hati, tapi tetap rawan longsor susulan. Warga kami imbau untuk
sementara menghindari aktivitas di lereng curam dan dekat tebing,” ujar Yasin
dalam keterangannya kepada media lokal.
BPBD juga mencatat bahwa Desa Long Berang termasuk wilayah
rawan bencana hidrometeorologi di Malinau. Sejak awal tahun 2026, kabupaten ini
telah mengalami beberapa kejadian serupa, termasuk banjir bandang dan longsor
kecil di kecamatan-kecamatan lain seperti Malinau Selatan dan Sungai Tubu.
Curah hujan ekstrem yang dipicu fenomena La Niña lemah serta pengaruh monsun
Asia menjadi faktor utama. BMKG Stasiun Meteorologi Tarakan memprediksi potensi
hujan lebat disertai petir dan angin kencang masih berlangsung hingga akhir
Maret 2026 di sebagian besar wilayah Kalimantan Utara.
Imbauan BPBD Malinau mencakup beberapa poin penting bagi
warga:
- Hindari
bepergian ke lokasi rawan longsor, terutama saat hujan deras atau malam
hari.
- Siapkan
tas siaga bencana berisi dokumen penting, makanan, air minum, obat-obatan,
dan pakaian ganti.
- Pantau
informasi cuaca dari BMKG melalui radio, aplikasi, atau kanal resmi
pemerintah daerah.
- Laporkan
segera jika melihat retakan tanah, pohon miring, atau tanda-tanda longsor
di sekitar rumah.
- Keluarga
yang tinggal di lereng bukit disarankan mengungsi sementara ke rumah
kerabat atau posko pengungsian yang telah disiapkan desa.
Pemerintah desa Long Berang bersama camat dan BPBD telah
mendirikan posko pengungsian darurat di balai desa dan sekolah setempat. Hingga
Senin siang, sekitar 15 keluarga (sekitar 60 jiwa) yang rumahnya berdekatan
dengan titik longsor telah dievakuasi sementara. Distribusi logistik berupa
sembako, air bersih, selimut, dan tenda darurat juga telah dikirim dari gudang
BPBD kabupaten.
Longsor di Desa Long Berang menjadi pengingat bagi seluruh
warga Malinau bahwa musim hujan tahun ini lebih ekstrem dibandingkan tahun
sebelumnya. Pemerintah kabupaten telah mempercepat program mitigasi bencana,
termasuk normalisasi sungai, pembuatan terasering di lereng rawan, serta
pemasangan early warning system berbasis sensor hujan di beberapa titik
strategis. Namun, keterbatasan anggaran dan medan yang sulit membuat upaya
pencegahan belum merata ke seluruh desa terpencil.
Bupati Malinau, Wempi W Mawa, dalam pernyataannya menyatakan
dukungan penuh terhadap penanganan darurat. “Kami prioritaskan keselamatan
warga. BPBD dan seluruh OPD terkait diminta bekerja maksimal. Bantuan dari
provinsi dan pusat juga kami koordinasikan agar cepat tiba,” katanya. Ia juga
mengajak masyarakat untuk tidak panik, tapi tetap disiplin mengikuti imbauan
petugas.
Di tengah tantangan geografis Kalimantan Utara yang
didominasi hutan lebat dan pegunungan, kejadian longsor seperti ini sering
terjadi saat musim hujan. BPBD Malinau terus mengimbau warga untuk proaktif
dalam mitigasi mandiri, seperti tidak menebang pohon sembarangan di lereng,
menjaga vegetasi penahan tanah, dan membangun saluran drainase rumah tangga
yang baik. Dengan kewaspadaan bersama, diharapkan dampak cuaca ekstrem tahun
ini bisa diminimalisir.
Hingga berita ini diturunkan, akses jalan di Desa Long
Berang sudah mulai pulih, tapi pemantauan 24 jam tetap dilakukan. Warga diminta
tetap tenang dan melapor jika ada tanda bahaya baru. Cuaca ekstrem masih
menjadi ancaman nyata, dan kesiapsiagaan menjadi kunci menjaga keselamatan di
wilayah rawan bencana seperti Malinau.







