![]() |
| Ilustrasi AI |
Banjarmasin – Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri)
melalui Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum (Ditjen Pol &
PUM) kembali menggelar program penguatan wawasan kebangsaan di kalangan
pelajar. Kali ini, kegiatan bertajuk “Ngobras Wasbang” (Ngobrol Asyik Wawasan
Kebangsaan) digelar di SMA Negeri 1 Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada Senin,
17 Maret 2026. Acara ini diikuti ratusan siswa kelas XI dan XII dari berbagai
sekolah di Kota Banjarbaru, dengan tujuan memperkuat rasa nasionalisme di
tengah tantangan globalisasi dan radikalisme digital.
Kegiatan dibuka langsung oleh Direktur Politik Dalam Negeri
Kemendagri, Dr. Bahtiar, yang hadir sebagai narasumber utama. Dalam paparannya,
Bahtiar menekankan pentingnya generasi muda sebagai benteng terakhir ideologi
Pancasila dan keutuhan NKRI. “Pelajar adalah aset terbesar bangsa. Kalau
generasi muda kita sudah goyah soal nasionalisme, maka masa depan negara ini
akan rapuh. Lewat Ngobras Wasbang, kami ingin membangun dialog asyik, bukan
ceramah satu arah, agar nilai-nilai Pancasila terasa dekat dan relevan dengan
kehidupan sehari-hari kalian,” ujar Bahtiar saat menyapa para siswa.
Ngobras Wasbang kali ini mengambil tema “Memperkuat
Nasionalisme di Era Digital: Tantangan dan Peluang bagi Generasi Z”. Diskusi
interaktif berlangsung selama hampir tiga jam, melibatkan siswa secara aktif
melalui sesi tanya jawab, diskusi kelompok, dan presentasi singkat. Beberapa
isu hangat yang dibahas meliputi dampak media sosial terhadap paham
radikalisme, hoaks yang mengadu domba suku dan agama, serta cara menjaga
identitas nasional di tengah pengaruh budaya asing yang masif.
Salah satu momen menarik terjadi ketika siswa kelas XII
bernama Aisyah dari SMA Negeri 2 Banjarbaru bertanya tentang bagaimana melawan
narasi disintegrasi yang sering muncul di platform TikTok dan Instagram.
Bahtiar menjawab dengan pendekatan praktis: “Mulailah dari diri sendiri. Jangan
mudah terprovokasi konten yang memecah belah. Verifikasi informasi, pahami
sejarah bangsa, dan aktif ikut kegiatan positif seperti Pramuka, OSIS, atau
komunitas literasi. Nasionalisme bukan cuma hafal Pancasila, tapi sikap sehari-hari
yang menjunjung tinggi persatuan.”
Kegiatan ini juga dihadiri Kepala Dinas Pendidikan Kota
Banjarbaru, H. M. Said Abdullah, serta perwakilan Forum Koordinasi Pencegahan
Terorisme (FKPT) Kalimantan Selatan. Said Abdullah menyambut baik inisiatif
Kemendagri, karena menurutnya pendidikan karakter dan wawasan kebangsaan harus
terus digenjot di sekolah-sekolah. “Kami di Banjarbaru mendukung penuh program
seperti ini. Pelajar kita perlu dibekali imunitas ideologi agar tidak mudah
terpengaruh paham ekstrem atau separatisme yang kini banyak beredar di dunia
maya,” katanya.
Program Ngobras Wasbang sendiri merupakan bagian dari
strategi Kemendagri dalam melaksanakan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang
Pembentukan Kementerian Dalam Negeri serta Peraturan Presiden tentang Penguatan
Ideologi Pancasila. Sejak 2024, program serupa telah digelar di berbagai
provinsi, termasuk Jawa Timur, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, dan Papua. Di
Kalimantan Selatan, Banjarbaru dipilih karena kota ini menjadi pusat pendidikan
di provinsi tersebut dan memiliki populasi pelajar yang besar.
Para siswa yang hadir mengaku mendapat banyak pencerahan.
“Awalnya saya pikir nasionalisme itu cuma upacara bendera doang. Ternyata lebih
dalam lagi, harus bisa menangkal hoaks dan paham radikal lewat media sosial,”
ujar Rizky, siswa kelas XI SMA Negeri 4 Banjarbaru. Sementara itu, guru
pendamping dari SMA Negeri 1 Banjarbaru, Siti Nurhaliza, berharap program
seperti ini bisa rutin digelar agar nilai-nilai kebangsaan benar-benar tertanam
di jiwa generasi muda.
Di tengah maraknya tantangan disintegrasi bangsa akibat
polarisasi digital, inisiatif Kemendagri ini menjadi langkah preventif yang
tepat waktu. Dengan pendekatan dialog asyik dan relevan dengan kehidupan
remaja, Ngobras Wasbang diharapkan tidak hanya menambah pengetahuan, tapi juga
membangun sikap cinta tanah air yang kuat dan tangguh. Bagi pelajar Banjarbaru,
acara ini menjadi pengingat bahwa nasionalisme bukan beban masa lalu, melainkan
kekuatan untuk masa depan Indonesia yang lebih baik.
Ke depan, Kemendagri berencana memperluas program serupa ke
sekolah-sekolah di kabupaten lain di Kalimantan Selatan, termasuk daerah
pedalaman, agar tidak ada generasi muda yang tertinggal dalam penguatan wawasan
kebangsaan. Dengan semangat “Bhinneka Tunggal Ika” yang terus digaungkan,
kegiatan seperti Ngobras Wasbang menjadi jembatan penting antara pemerintah dan
pelajar dalam menjaga keutuhan NKRI.







