Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Bubur Nusantara Jadi Takjil Paling Laris di Masjid Negara IKN Saat Ramadan

Ilustrasi AI

IKN – Menjelang waktu berbuka puasa, aroma harum Bubur Nusantara langsung memenuhi halaman Masjid Negara Ibu Kota Nusantara (IKN). Menu takjil spesial ini menjadi favorit utama jamaah sejak awal Ramadan 1447 H. Setiap sore, ratusan porsi habis dalam hitungan menit, membuat Bubur Nusantara tak hanya sekadar makanan pembuka, melainkan simbol kebersamaan dan kekayaan kuliner Indonesia di tengah pembangunan ibu kota baru.

Takmir Masjid Negara IKN, H. Ahmad Syarifuddin, mengungkapkan antusiasme jamaah luar biasa. “Bubur Nusantara ini memang spesial. Kami buat dari bahan-bahan lokal Kalimantan yang dikombinasikan dengan cita rasa dari berbagai daerah Nusantara. Ternyata langsung jadi favorit,” ujarnya saat ditemui di kompleks masjid, Senin (2/3/2026). Menurutnya, menu ini sengaja diciptakan untuk memperkenalkan kekayaan kuliner Indonesia kepada ASN, pekerja proyek, dan masyarakat sekitar yang kini semakin ramai di kawasan IKN.

Bubur Nusantara disajikan dalam dua varian utama: gurih dan manis. Varian gurih menggunakan beras lokal, santan kelapa segar, ikan bandeng asap dari pesisir Kaltim, serta taburan bawang goreng dan daun seledri. Sementara varian manis mengandung gula merah, pisang kepok, dan potongan buah nangka yang melambangkan kekayaan alam Kalimantan. Tak ketinggalan topping khas Nusantara seperti serundeng kelapa, kacang tanah goreng, dan sambal terasi pilihan. Satu porsi dijual hanya Rp 15.000, sangat terjangkau bagi semua kalangan.


Persiapan Harian dan Antusiasme Jamaah

Setiap hari, tim dapur Masjid Negara mulai memasak sejak pukul 13.00 WITA. Bahan baku didatangkan langsung dari petani dan nelayan sekitar Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara. “Kami libatkan UMKM lokal agar manfaat ekonomi juga dirasakan masyarakat,” jelas H. Ahmad. Porsi yang disiapkan setiap hari mencapai 500-700 porsi, tapi sering kali habis sebelum azan Magrib berkumandang.

Jamaah seperti Bu Siti, warga Sepaku, mengaku sudah ketagihan. “Ini enak sekali, gurihnya pas, ada rasa Indonesia banget. Anak-anak saya juga suka. Tiap sore saya sengaja datang lebih awal biar tidak kehabisan,” ceritanya sambil membawa beberapa porsi untuk dibawa pulang. Tak hanya warga lokal, para pekerja konstruksi dan ASN yang baru pindah ke IKN juga antusias. Banyak yang mengabadikan momen berbuka dengan Bubur Nusantara di media sosial, hingga tagar #BuburNusantaraIKN sempat trending di kalangan komunitas Ramadan.


Makna Lebih Dalam di Balik Menu Takjil

Menurut Ketua Takmir, Bubur Nusantara bukan sekadar takjil biasa. Hidangan ini dirancang untuk memperkuat semangat persatuan di IKN. “Kita ingin setiap suap bubur mengingatkan bahwa Indonesia itu kaya raya. Dari Sabang sampai Merauke ada di sini, di satu mangkuk bubur,” katanya. Konsep ini selaras dengan visi IKN sebagai kota yang inklusif dan mencerminkan kebhinekaan.

Selain itu, menu ini juga mendukung program pemberdayaan masyarakat. Bahan seperti beras, kelapa, dan ikan didapat dari koperasi petani dan nelayan binaan Otorita IKN. “Kami harap ini bisa menjadi contoh bagaimana masjid tidak hanya tempat ibadah, tapi juga pusat ekonomi kecil yang memberdayakan warga sekitar,” tambah H. Ahmad.

Pengelola masjid juga menyiapkan variasi menu pendamping seperti es buah segar dan kurma impor, tapi Bubur Nusantara tetap juara. Bahkan beberapa tamu undangan dari luar daerah yang berkunjung ke IKN sengaja mampir ke Masjid Negara hanya untuk mencicipi takjil legendaris ini.


Tradisi Ramadan yang Semakin Hidup di IKN

Ramadan tahun ini menjadi momen spesial bagi Masjid Negara IKN. Selain takjil gratis untuk yang membutuhkan, masjid juga menggelar kajian rutin, tarawih bersama, dan kegiatan sosial seperti pembagian takjil ke kampung-kampung sekitar. Bubur Nusantara menjadi salah satu daya tarik utama yang membuat masjid semakin ramai setiap sore.

Takmir berencana mempertahankan menu ini hingga akhir Ramadan dan mungkin menjadikannya menu tetap di luar bulan puasa sebagai kuliner khas IKN. “Kami ingin Bubur Nusantara ini menjadi ikon baru, seperti halnya gudeg di Yogyakarta atau soto di Madura,” pungkas H. Ahmad.

Antusiasme jamaah yang tinggi membuktikan bahwa pembangunan IKN tidak hanya soal gedung megah, tapi juga tentang menciptakan kehidupan yang hangat dan penuh makna. Di Masjid Negara, setiap mangkuk Bubur Nusantara bukan hanya mengenyangkan perut, tapi juga menyatukan hati masyarakat di ibu kota baru.

 


Also Read
Tag:
Latest News
  • Bubur Nusantara Jadi Takjil Paling Laris di Masjid Negara IKN Saat Ramadan
  • Bubur Nusantara Jadi Takjil Paling Laris di Masjid Negara IKN Saat Ramadan
  • Bubur Nusantara Jadi Takjil Paling Laris di Masjid Negara IKN Saat Ramadan
  • Bubur Nusantara Jadi Takjil Paling Laris di Masjid Negara IKN Saat Ramadan
  • Bubur Nusantara Jadi Takjil Paling Laris di Masjid Negara IKN Saat Ramadan
  • Bubur Nusantara Jadi Takjil Paling Laris di Masjid Negara IKN Saat Ramadan
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad