Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

BPKP Temukan Risiko Anggaran Tidak Efektif Rp367,68 Miliar di Kalimantan Barat: Gubernur Ria Norsan Siap Tindak Lanjut dan Perbaiki Tata Kelola APBD

Ilustrasi AI

Pontianak – Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Kalimantan Barat kembali memberikan sinyal penting bagi pengelolaan keuangan daerah. Dalam Laporan Eksekutif Daerah Semester II Tahun 2025 yang baru diserahkan, BPKP mengidentifikasi potensi optimalisasi penerimaan, efisiensi pengeluaran, serta penyelamatan keuangan negara/daerah senilai Rp367,68 miliar. Angka fantastis ini langsung menjadi perhatian serius Pemprov Kalbar, karena menyangkut perencanaan dan penganggaran tahun 2026 yang akan datang.

Penyerahan laporan dilakukan di Kantor Gubernur Kalimantan Barat baru-baru ini. Kepala BPKP Kalbar, Rudy M. Harahap, menjelaskan bahwa temuan ini bukan sekadar catatan rutin, melainkan peta jalan konkret untuk memperbaiki tata kelola anggaran. “Salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian serius ialah perencanaan dan penganggaran tahun 2026,” tegas Rudy.

Ia mengutip hasil Evaluasi Perencanaan dan Penganggaran Tahun 2025 secara nasional. Rata-rata 74,74 persen intervensi sektoral berisiko tidak efektif dalam mendukung tujuan pembangunan nasional. Kondisi ini, menurut Rudy, menunjukkan perlunya penguatan fungsi pengawasan dan koordinasi lintas sektor di tingkat daerah. Oleh karena itu, BPKP merekomendasikan pembentukan Forum Governansi Daerah dengan mengoptimalkan Forkopimda Plus. Forum ini diharapkan berperan seperti dewan komisaris daerah, memastikan setiap rupiah belanja benar-benar berdampak bagi masyarakat.

Tak hanya soal tata kelola anggaran, laporan BPKP juga menyoroti isu ketahanan pangan yang menjadi tema utama pengawasan Semester II 2025: “Membangun Ketahanan Menuju Swasembada Pangan Kalimantan Barat”. Rudy mengungkapkan adanya fenomena yang ia sebut “ilusi surplus”. Produksi pangan lokal belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan penduduk Kalbar. Dari 14 komoditas pangan strategis, hanya dua komoditas yang benar-benar surplus. Sisanya masih bergantung pada pasokan dari luar daerah.

“Melihat kondisi itu, diperlukan kebijakan turunan yang lebih spesifik, penguatan manajemen risiko, serta penyusunan peta komoditas pangan provinsi yang komprehensif,” jelas Rudy. Ia menambahkan, koordinasi lintas sektor dan peningkatan proporsi anggaran untuk ketahanan pangan harus segera diperkuat agar kebijakan tidak lagi berjalan setengah hati.

Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, langsung menyambut baik laporan tersebut. Saat menerima langsung Laporan Eksekutif Daerah beserta surat pengantar dari Deputi Bidang Pengawasan Penyelenggaraan Keuangan Daerah BPKP, Ria Norsan menyampaikan apresiasi tinggi. “Saya sangat mengapresiasi dan berterima kasih kepada BPKP atas penyerahan Laporan Eksekutif Daerah ini,” ujarnya.

Bagi Gubernur Ria Norsan, laporan BPKP bukan sekadar dokumen administratif biasa. “Laporan tersebut merupakan potret kondisi riil di lapangan yang harus segera ditindaklanjuti,” tegasnya. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat akan segera mengambil langkah-langkah perbaikan sesuai rekomendasi. “Tentu dari rekomendasi ini kami akan segera melakukan langkah-langkah perbaikan,” tambah Ria Norsan.

Apresiasi Gubernur ini sekaligus menunjukkan komitmen Pemprov Kalbar untuk meningkatkan akuntabilitas dan efektivitas program pembangunan. Dengan potensi penyelamatan hingga Rp367,68 miliar, setiap rekomendasi BPKP menjadi peluang emas untuk mengoptimalkan APBD Kalimantan Barat. Mulai dari efisiensi belanja, peningkatan penerimaan daerah, hingga memastikan anggaran ketahanan pangan tidak lagi berbasis asumsi semata.

Bayangkan saja: kalau Rp367,68 miliar itu benar-benar dioptimalkan, berapa banyak infrastruktur jalan, irigasi, atau program pemberdayaan petani yang bisa dibiayai? Berapa banyak rumah tangga yang bisa terbantu ketahanan pangannya? Angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan representasi dari potensi besar yang selama ini mungkin masih bocor atau tidak tepat sasaran.

Rudy M. Harahap sebagai Kepala BPKP Kalbar menegaskan bahwa penguatan Forkopimda Plus sebagai Forum Governansi Daerah akan menjadi terobosan penting. Forum ini diharapkan mampu mengawasi agar belanja daerah tidak lagi berisiko tinggi tidak efektif seperti yang terjadi secara nasional 74,74 persen. Sementara di sektor pangan, penyusunan peta komoditas yang komprehensif akan menjadi dasar kebijakan yang lebih tajam, sehingga “ilusi surplus” bisa diubah menjadi surplus yang sesungguhnya.

Bagi masyarakat Kalimantan Barat, temuan ini sebenarnya adalah kabar baik. Artinya, pemerintah daerah memiliki data akurat dari lembaga pengawas independen untuk memperbaiki diri. Gubernur Ria Norsan yang dikenal tegas dalam tata kelola pemerintahan ini langsung menunjukkan sikap proaktif dengan janji tindak lanjut cepat. Langkah ini diharapkan menjadi contoh bagi kabupaten/kota se-Kalbar bahwa pengawasan BPKP bukan untuk mencari-cari kesalahan, melainkan untuk bersama-sama membangun daerah yang lebih baik.

Ke depan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat diharapkan tidak hanya menindaklanjuti rekomendasi di atas kertas. Pembentukan Forum Governansi Daerah, penyusunan peta komoditas pangan, dan penguatan koordinasi lintas sektor harus segera terealisasi. Apalagi tahun 2026 merupakan tahun krusial menjelang berbagai agenda nasional dan daerah. Dengan pengelolaan anggaran yang lebih efektif, Kalbar bisa semakin kokoh dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan dan pembangunan berkelanjutan.

Laporan Eksekutif Daerah Semester II Tahun 2025 ini menjadi pengingat bahwa pengawasan keuangan bukan beban, melainkan investasi untuk masa depan. Gubernur Ria Norsan dan jajarannya telah menunjukkan sikap yang tepat: apresiasi dan komitmen tindak lanjut. Kini, tinggal bagaimana seluruh stakeholder di Kalimantan Barat bahu-membahu mewujudkan potensi Rp367,68 miliar itu menjadi kenyataan yang dirasakan langsung oleh rakyat.

BPKP telah memberikan lampu kuning sekaligus lampu hijau. Tinggal sekarang bagaimana Pemprov Kalbar menginjak gas perbaikan. Masyarakat Kalimantan Barat menanti hasil konkretnya.

 


Also Read
Latest News
  • BPKP Temukan Risiko Anggaran Tidak Efektif Rp367,68 Miliar di Kalimantan Barat: Gubernur Ria Norsan Siap Tindak Lanjut dan Perbaiki Tata Kelola APBD
  • BPKP Temukan Risiko Anggaran Tidak Efektif Rp367,68 Miliar di Kalimantan Barat: Gubernur Ria Norsan Siap Tindak Lanjut dan Perbaiki Tata Kelola APBD
  • BPKP Temukan Risiko Anggaran Tidak Efektif Rp367,68 Miliar di Kalimantan Barat: Gubernur Ria Norsan Siap Tindak Lanjut dan Perbaiki Tata Kelola APBD
  • BPKP Temukan Risiko Anggaran Tidak Efektif Rp367,68 Miliar di Kalimantan Barat: Gubernur Ria Norsan Siap Tindak Lanjut dan Perbaiki Tata Kelola APBD
  • BPKP Temukan Risiko Anggaran Tidak Efektif Rp367,68 Miliar di Kalimantan Barat: Gubernur Ria Norsan Siap Tindak Lanjut dan Perbaiki Tata Kelola APBD
  • BPKP Temukan Risiko Anggaran Tidak Efektif Rp367,68 Miliar di Kalimantan Barat: Gubernur Ria Norsan Siap Tindak Lanjut dan Perbaiki Tata Kelola APBD
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad