IKN — Dalam sebuah aksi kebersihan berskala besar yang
sekaligus menjadi momentum edukasi lingkungan, sekitar 300 relawan
masyarakat, instansi pemerintah, dan organisasi swasta berhasil mengumpulkan
total 885 kilogram sampah di sejumlah kawasan wisata alam yang termasuk
dalam wilayah delineasi Ibu Kota Nusantara (IKN). Kegiatan ini
berlangsung pada awal Februari 2026, sebagai bagian dari peringatan Hari
Peduli Sampah Nasional (HPSN) yang diperingati setiap 21 Februari 2026.
Aksi bersih-bersih ini digagas dan dipimpin oleh Deputi
Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita IKN, Myrna Asnawati
Safitri. Ia menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dimaksudkan tidak hanya untuk
membersihkan sampah, tetapi juga sebagai bentuk kampanye nyata mengenai
pentingnya menjaga lingkungan dan meningkatkan kesadaran wisatawan serta
masyarakat lokal terhadap kebersihan dan keberlanjutan alam.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Lingkungan yang Bersih dan Lestari
Relawan yang terlibat datang dari berbagai unsur,
mencerminkan kolaborasi lintas sektor yang kuat. Mereka terdiri dari:
- Otorita
IKN
- Kelompok
masyarakat peduli lingkungan
- Kelompok
sadar wisata
- Bank
Indonesia
- PT
ITCI Hutani Manunggal
- Aparatur
Sipil Negara dari Kementerian Kesehatan
- Grup
4 Komando Pasukan Khusus (Kopassus)
Kolaborasi ini menunjukkan bagaimana upaya menjaga
lingkungan dapat dilakukan bersama, di luar dari sekadar tugas pemerintah,
tetapi juga menjadi tanggung jawab komunitas, sektor swasta, dan organisasi
sosial.
“Kolaborasi lintas sektor ini mencerminkan semangat gotong
royong dalam menjaga lingkungan hidup,” ujar Myrna saat ditemui seusai kegiatan
di Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara.
Tiga Lokasi Wisata yang Dibersihkan
Aksi bersih-bersih dilakukan serentak di tiga kawasan
wisata alam di wilayah delineasi IKN yang mencakup area di Kabupaten
Penajam Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kartanegara. Ketiga lokasi tersebut
adalah:
- Air
Terjun Tembinus
- Gunung
Parung
- Batu
Dinding
Ketiga lokasi ini dipilih karena memiliki potensi besar
sebagai destinasi wisata alam unggulan di Kawasan IKN. Bersih-bersih sampah di
sana diharapkan dapat menjadi contoh pengelolaan destinasi wisata yang ramah
lingkungan dan berkelanjutan.
Rincian Sampah yang Terkumpul
Total sampah yang berhasil dikumpulkan oleh relawan mencapai
885 kilogram, yang terdiri dari berbagai jenis:
- Sampah
organik
- Sampah
anorganik
- Sampah
residu yang tidak dapat diolah
Dari jumlah tersebut, sebagian besar berasal dari kawasan
Air Terjun Tembinus yang mencapai 585 kilogram. Sementara itu, di Gunung
Parung terkumpul 165 kilogram sampah dan di Batu Dinding sebanyak 135
kilogram.
Memaknai Hari Peduli Sampah Nasional
Kegiatan bersih-bersih ini dilaksanakan menjelang peringatan
Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) yang jatuh tiap tanggal 21 Februari.
Hari ini merupakan momen penting nasional untuk meningkatkan kepedulian publik
terhadap masalah sampah dan polusi lingkungan di berbagai wilayah di Tanah Air.
Myrna menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari
rangkaian program yang lebih besar, yaitu implementasi arahan Presiden terkait gerakan
ASRI — sebuah gerakan gotong-royong masyarakat dalam menjaga lingkungan
hidup.
Menurutnya, fokus utama dari gerakan ini bukan hanya
mengangkat sampah secara fisik, tetapi menanamkan pemahaman mengenai pentingnya
tanggung jawab semua pihak dalam pelestarian alam, khususnya di destinasi
wisata yang terus berkembang seperti di sekitar IKN.
Edukasi dan Budaya Wisata Bertanggung Jawab
Salah satu tujuan penting kegiatan ini adalah edukasi
publik. Melalui aksi nyata, relawan sekaligus ikut menyampaikan pesan penting: berwisata
itu harus bertanggung jawab.
Banyak wisatawan dan pengunjung yang belum sepenuhnya
menyadari dampak sampah terhadap lingkungan jika tidak dikelola dengan baik.
Karena itu, kegiatan ini dimanfaatkan untuk menunjukkan bagaimana menjaga
kebersihan bukan sekadar kewajiban, tetapi juga bagian dari pengalaman wisata
yang layak dan bermartabat.
“Bersih-bersih sampah ini juga menjadi sarana edukasi
tentang cara berwisata yang bertanggung jawab,” lanjut Myrna dalam
pernyataannya.
Dampak Lingkungan dan Pariwisata Berkelanjutan
Pengurangan sampah di kawasan wisata tidak hanya memberikan
manfaat visual atau kebersihan semata, tetapi juga berdampak pada kesehatan
ekosistem lokal. Lingkungan yang bersih dapat mendukung flora dan fauna lokal,
mengurangi risiko polusi tanah dan air, serta memberikan pengalaman wisata yang
lebih nyaman dan ramah.
Pengelolaan sampah yang baik juga menjadi bagian penting
dari strategi pengembangan pariwisata berkelanjutan di IKN. Destinasi
wisata yang bersih dapat menarik lebih banyak pengunjung di masa depan, baik
wisatawan domestik maupun internasional, sekaligus memperkuat citra IKN sebagai
pusat pemerintahan dan kota modern yang menjaga prinsip keberlanjutan.
Myrna berharap agar kegiatan semacam ini dapat terus dilakukan secara berkala, tidak hanya pada momen tertentu. Ia melihat bahwa keterlibatan masyarakat lokal dalam menjaga lingkungan harus menjadi gerakan terus-menerus, karena pelestarian alam adalah tanggung jawab bersama.
“Saya berharap kegiatan ini dapat menumbuhkan budaya
berwisata yang bertanggung jawab — baik untuk masyarakat lokal maupun
pengunjung,” pungkasnya.
Dengan cara ini, kegiatan yang semula bersifat simbolis
dapat berkembang menjadi bagian dari kesadaran kolektif masyarakat dalam
menjaga dunia wisata alam yang bersih, lestari, serta berkelanjutan di Kawasan Ibu
Kota Nusantara (IKN).







