![]() |
| Ilustrasi AI |
Kalimantan Timur - Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat (GERAM) menggelar aksi demonstrasi di depan kantor Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud bersama Wakil Gubernur Seno Aji di Samarinda, Senin sore (23/2/2026). Aksi ini merupakan bentuk penyampaian aspirasi mahasiswa dalam rangka menandai satu tahun kepemimpinan Rudy-Seno di provinsi Benua Etam.
Sekitar pukul 15.00 WITA, massa mulai memadati Jalan Gajah
Mada, lokasi kantor gubernur, dengan membawa spanduk dan poster tuntutan.
Beberapa peserta aksi bahkan membakar ban bekas sebagai simbol protes terhadap
kebijakan pemerintahan provinsi saat ini. Suasana sempat memanas saat Gubernur
Rudy tidak segera menemui para mahasiswa, memicu dorong-dorongan di depan pagar
kantor, dan beberapa mahasiswa nekat memanjat pagar untuk menarik perhatian
pihak eksekutif.
Koordinator Lapangan GERAM, yang dikenakan nama Angga,
menyatakan kekesalan mereka terhadap pelaksanaan program unggulan pemerintah
provinsi yang disebut “Gratispol”. Ia menyebut program ini gagal total
dan ternyata tidak merata dalam implementasinya. “Pemprov bicara besar di
media soal Gratispol, padahal implementasinya minim. Banyak mahasiswa di Unmul
sudah mendaftar sesuai prosedur, tapi namanya tidak masuk. Kami pertanyakan,
gratisnya di mana?” ujar Angga, merujuk pada ketidakjelasan data dan
penerimaan mahasiswa yang seharusnya mendapatkan beasiswa atau pembebasan biaya
kuliah.
Mahasiswa yang tergabung dalam GERAM juga membentangkan
spanduk bertuliskan “Waluhpol”, yang merupakan sindiran tajam terhadap
janji-janji politik yang belum terealisasi oleh pemerintah daerah selama
setahun kepemimpinan Rudy-Seno. Tindakan ini memperlihatkan ketidakpuasan
publik, khususnya generasi muda, terhadap ekspektasi dan realitas kebijakan
pembangunan di wilayah Kalimantan Timur.
Setelah menunggu sekitar satu jam, pada pukul 16.20 WITA,
Gubernur Rudy Mas’ud akhirnya keluar dari kantor untuk menemui
perwakilan mahasiswa. Dalam langkah yang menunjukkan kemauan untuk berdialog
terbuka, Rudy duduk bersila di halaman kantor bersama para pendemo tanpa sekat,
menciptakan suasana yang lebih akrab dan santai di antara dua kubu.
Dalam pertemuan dialog tersebut, Rudy menyampaikan data dan
fakta yang berbeda mengenai program Gratispol. Ia memaparkan bahwa capaian
program ini sejauh ini jauh lebih luas dibandingkan program beasiswa pada
periode sebelumnya. Menurutnya, sebelum ada Gratispol, pemerintah provinsi
hanya mampu menjangkau sekitar 5.000 mahasiswa dengan program beasiswa.
Namun pada tahun 2025, program Gratispol berhasil menjangkau 24.492
mahasiswa dengan realisasi anggaran mencapai sekitar Rp127,88 miliar,
menunjukkan peningkatan signifikan dalam dukungan pendidikan. Ia juga
menyebutkan bahwa anggaran untuk pelaksanaan program pada 2026 telah disiapkan
hingga Rp1,37 triliun dengan target lebih dari 158.000 mahasiswa
dari semester dua hingga delapan.
Rudy menjelaskan bahwa penyesuaian terhadap janji kampanye
mengenai “gratis total” didasarkan pada regulasi yang diberlakukan oleh Kementerian
Dalam Negeri Republik Indonesia. Aturan tersebut membatasi pembiayaan
pendidikan secara seragam tanpa klasifikasi, terutama karena adanya perbedaan
besar dalam struktur biaya kuliah di setiap jurusan. Sebagai contoh, biaya
kuliah di jurusan kedokteran bisa mencapai sekitar Rp25 juta, sementara
jurusan lain relatif lebih rendah. Karena itu, pemerintah provinsi memutuskan
untuk membiayai sesuai batas kemampuan, seperti pembiayaan maksimal Rp15
juta untuk jurusan kedokteran.
Rudy menambahkan bahwa proses verifikasi penerima bantuan
dilakukan oleh pihak kampus sesuai ketentuan regulasi internal perguruan
tinggi. Pihak pemerintahan provinsi hanya menyediakan anggaran untuk program
tersebut, sedangkan seleksi dan verifikasi di lapangan berada di ranah
administrasi universitas. Ia juga menegaskan bahwa program ini dibuat tanpa
diskriminasi terhadap status sosial, jenis kelamin, atau agama, dan dirancang
demi meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Kalimantan Timur, terutama di
tengah peran strategis provinsi sebagai penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).
Tidak hanya soal pendidikan, dalam dialog tersebut, Rudy
juga memaparkan berbagai progres pembangunan infrastruktur di Kaltim. Salah
satu contoh yang disampaikan adalah pembukaan akses jalan sepanjang 23
kilometer yang menghubungkan Kabupaten Kutai Barat dengan Mahakam Ulu, sebuah
proyek yang menjadi simbol pemerataan pembangunan di wilayah tertinggal. Ia
juga mengundang para mahasiswa untuk hadir dalam peresmian Jembatan Sungai
Nibung di Kutai Timur, yang telah selesai dibangun setelah bertahun-tahun
proses konstruksi.
Menutup pertemuan dengan massa aksi, Gubernur Rudy Mas’ud
menandatangani sebuah pakta integritas di hadapan mahasiswa sebagai
bentuk komitmen untuk menindaklanjuti tujuh poin tuntutan yang disampaikan,
termasuk masalah ekologis, hak buruh, serta transparansi anggaran pendapatan
dan belanja daerah (APBD). Tindakan ini diterima mahasiswa secara simbolis dan
diharapkan menjadi dasar kerja sama yang lebih konstruktif antara pemerintah
dan elemen masyarakat sipil.
Aksi mahasiswa ini ditutup dengan pengawalan ketat dari
aparat Polresta Samarinda. Meskipun awalnya suasana sempat memanas, dialog
antara pihak demonstran dan pemerintahan berakhir secara damai dengan
penyerahan aspirasi secara resmi kepada jajaran Pemerintah Provinsi Kalimantan
Timur.







