Di tepian Sungai Sarawak yang tenang, malam pergantian tahun
2025 ke 2026 bukan hanya pesta kembang api biasa. Ribuan orang berkumpul di
Kuching Waterfront, menyaksikan momen bersejarah ketika Sarawak, negara bagian
Malaysia yang kaya akan hutan hujan dan budaya multietnis, resmi memecahkan
rekor Guinness World Records. Ini bukan sekadar prestasi teknologi; ini adalah
pernyataan tegas bahwa Sarawak siap menjadi gerbang utama menuju Pulau Borneo,
menarik wisatawan global melalui kampanye Visit Malaysia 2026.
Bayangkan: puluhan ribu pasang mata menatap langit malam
yang gelap, dihiasi sorot lampu kota dan hembusan angin lembab khas tropis.
Tepat saat jarum jam menyentuh tengah malam, pengumuman resmi bergema dari
panggung. Sarawak berhasil mencatatkan "The Longest GPS Journey by Drone
Relay" – perjalanan drone estafet terpanjang di dunia, mencapai 1.706,7
kilometer. Rute ini dimulai dari District Lawas di Sabah, melintasi Brunei
Darussalam, hingga mencapai Tanjung Datu di ujung barat Sarawak. Selama 28
hari, drone-drone itu melayang di atas hutan lebat, sungai berkelok, pesisir
pantai yang indah, dan desa-desa tradisional, merekam gambar udara yang tak
terputus.
Momen ini bukan kebetulan. Seperti yang diungkapkan Dato Sri
Haji Abdul Karim Rahman Hamzah, Menteri Pariwisata, Industri Kreatif, dan Seni
Pertunjukan Sarawak, pencapaian ini adalah bagian dari strategi besar untuk
memposisikan Sarawak sebagai "Gateway to Borneo". "Pencapaian
ini meningkatkan kepercayaan diri Sarawak sebagai wilayah yang progresif,
negara yang bersatu dan berwawasan ke depan," katanya di depan kerumunan
yang bergemuruh. "Ini mencerminkan siapa kami hari ini: Sarawak yang
merangkul inovasi sambil tetap berakar kuat pada nilai-nilai kami, budaya,
masyarakat, dan lanskap."
Rekor ini bukan hanya tentang jarak; ini tentang cerita.
Film rekaman dari drone tersebut menjadi alat promosi pariwisata yang powerful,
menampilkan keanekaragaman alam Sarawak – dari pegunungan hijau hingga sungai
yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat adat. Perdana Menteri Sarawak,
Datuk Patinggi Tan Sri Abang Haji Abdul Rahman Zohari, menekankan bahwa ini
adalah langkah awal dalam rencana pemulihan pascapandemi Covid-19 menuju visi
2030. "Tahun 2026 menjadi fase yang penting bagi Sarawak dalam usaha
memajukan wilayah pada 2030 dengan fokus pada ekonomi yang berdampak dan
pembangunan infrastruktur bagi masa depan," ujarnya.
Sebagai jurnalis yang berkesempatan menyaksikan langsung,
saya merasakan getaran euforia itu. Hujan deras yang mengguyur Kuching
sepanjang hari 31 Desember 2025 tak menyurutkan semangat. Badan Pariwisata
Sarawak (STB) mengajak rombongan wartawan menjelajahi kota, mulai dari pasar
tradisional hingga situs bersejarah, seolah ingin membuktikan bahwa Sarawak
bukan hanya tentang alam liar, tapi juga kehangatan keseharian warganya.
Perjalanan dimulai di Satok, pusat perdagangan rakyat yang
ramai. Di bawah jalan layang yang sibuk, terdapat Kedai Fly Over, sebuah warung
sederhana yang telah berdiri puluhan tahun. Menu andalannya? Mie Sapi – mi
kenyal dengan irisan daging sapi empuk, disiram kuah kaldu yang kaya rasa. Bagi
warga Kuching, tempat ini bukan sekadar kedai makan; ini adalah bagian dari
memori kolektif kota. Pejabat kantor, sopir truk, dan pedagang pasar sering
mampir di sini untuk memulai hari. Saya mencicipinya sendiri: rasa gurih yang
autentik, dicampur aroma rempah lokal, membuat saya paham mengapa makanan
sederhana ini menjadi ikon kuliner Sarawak.
Hujan masih deras saat kami berpindah ke Black Bean Coffee,
kafe kecil di pusat kota yang menawarkan pengalaman ngopi ala urban. Di sini,
biji kopi dari seluruh dunia – Kolombia, Tanzania, Peru, Etiopia, bahkan
Mandailing dan Gayo dari Indonesia – bercampur dengan andalan lokal: Sarawak
Liberica. Budaya minum kopi di Sarawak ternyata punya akar sejarah panjang,
sejak era perdagangan di pelabuhan Kuching yang menjadi pertemuan pedagang
China, Melayu, dan Eropa. Secangkir kopi panas di tangan, sambil menyaksikan
hujan deras di jalan kecil depan kafe, terasa seperti jeda sempurna untuk
merenungkan perpaduan tradisi dan modernitas di kota ini.
Siang hari, tur berlanjut ke Roselyn’s Gallery Cafe, sebuah
bangunan kolonial yang telah diubah menjadi ruang makan dan galeri seni.
Terletak di kawasan warisan budaya Kuching, tempat ini menyimpan jejak
pemerintahan era Rajah Brooke, penguasa Eropa yang memerintah Sarawak pada abad
ke-19. Menu makan siangnya menonjolkan masakan asli suku Orang Ulu dan Kayan –
hidangan tradisional yang kaya rempah dan bahan segar dari hutan. Makan di sini
seperti menyantap sejarah: arsitektur tua yang dipadukan dengan seni kontemporer,
menciptakan suasana yang unik. Ini adalah contoh bagaimana Sarawak merawat
warisannya sambil memberi ruang bagi kreativitas generasi muda.
Tak lengkap rasanya tanpa mengunjungi Tua Pek Kong Temple,
kuil tertua di Kuching yang berdiri sejak abad ke-19. Menghadap sungai, kuil
ini menjadi simbol kedatangan komunitas China awal ke Sarawak. Aroma dupa yang
menyengat, lilin merah yang menyala, dan detail arsitektur tradisional
menciptakan suasana hening di tengah hiruk-pikuk kota. Kuil ini bukan hanya
tempat ibadah; ini adalah bukti keberagaman etnis yang membentuk identitas
Sarawak – campuran Melayu, China, Dayak, dan suku-suku adat lainnya yang hidup
harmonis.
Malam hari, Kuching Waterfront menjadi pusat perayaan.
Sebelum kembang api meledak, panggung dihibur oleh artis Malaysia seperti KRU,
Dayang Nurfaizah, Jatt Ali, dan Naqiu. Seniman lokal memamerkan tarian
tradisional dan pertunjukan kontemporer, mencerminkan kekayaan seni Sarawak.
Setelah tengah malam, penyanyi Indonesia Judika tampil sebagai penutup, menjaga
semangat tetap tinggi hingga dini hari.
Di balik pesta ini, ada rencana besar. Sarawak sedang gencar
membangun infrastruktur: jalan raya baru untuk menghubungkan daerah terpencil,
perluasan jaringan listrik, air bersih, dan internet berkecepatan tinggi.
Beasiswa pendidikan ditingkatkan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Yang paling menarik, maskapai Air Borneo direncanakan beroperasi tahun ini,
memudahkan akses wisatawan ke Borneo. Semua ini bagian dari visi 2030, di mana
ekonomi hijau dan pariwisata berkelanjutan menjadi prioritas.
Sebagai gerbang Borneo, Sarawak menawarkan lebih dari
sekadar petualangan alam. Pulau ini rumah bagi hutan hujan tertua di dunia,
rumah panjang suku Dayak, dan festival budaya seperti Gawai Dayak. Kampanye
Visit Malaysia 2026 memanfaatkan rekor drone untuk mempromosikan ini semua,
menarik wisatawan yang mencari pengalaman autentik – dari trekking di Taman
Nasional Mulu hingga menyelam di perairan Sipadan.
Tapi, tantangan tetap ada. Pembangunan harus seimbang dengan
pelestarian alam; deforestasi dan perubahan iklim mengancam keanekaragaman
hayati Borneo. Pejabat Sarawak menjanjikan pendekatan berkelanjutan, di mana
inovasi seperti drone digunakan untuk pemantauan lingkungan, bukan hanya
promosi.
Melihat ke depan, 2026 bisa menjadi tahun emas bagi Sarawak.
Rekor dunia ini bukan akhir, tapi awal dari cerita baru. Bagi wisatawan, ini
undangan untuk menjelajahi gerbang Borneo yang sesungguhnya – tempat di mana
masa lalu bertemu masa depan, alam berpadu teknologi, dan keramahan manusia
menjadi daya tarik utama. Jika Anda mencari destinasi wisata unik, Sarawak siap
menyambut dengan tangan terbuka.







