Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Konflik Timur Tengah Picu Risiko Inflasi Core Indonesia 2026: Ekonom CORE Sarankan Alihkan Anggaran MBG dan IKN ke Bantuan Sosial

 

Ilustrasi AI

IKN – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini mengancam stabilitas ekonomi Indonesia. Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memperingatkan lonjakan inflasi core akibat melonjaknya harga minyak dunia. Dampaknya langsung dirasakan pada harga pangan, transportasi, dan energi. Solusi yang diajukan: mengalihkan sebagian anggaran program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) untuk memperkuat bantuan sosial.

Pernyataan ini menjadi sorotan pelaku pasar dan pengamat kebijakan fiskal. Di saat pemerintah berupaya menjaga daya beli masyarakat pasca-pandemi, konflik luar negeri ini muncul sebagai ancaman baru yang bisa menggerus pertumbuhan ekonomi domestik.


Analisis CORE: Minyak Global Dorong Inflasi Core

Yusuf Rendy Manilet, ekonom CORE Indonesia, menjelaskan bahwa konflik tersebut menciptakan efek rambatan cepat ke Indonesia melalui kanal komoditas energi.

“Dampaknya paling cepat terasa pada kenaikan harga pangan, transportasi, dan energi. Kondisi ini membuat kelompok masyarakat berpendapatan menengah ke bawah tentu menjadi pihak yang paling rentan terdampak,” ujar Yusuf Rendy Manilet kepada Kontan.co.id, Rabu (4/3/2026).

Inflasi core – yang menghitung tekanan harga tanpa komponen volatile makanan dan energi – justru berisiko naik karena spillover dari biaya impor. Harga minyak yang melonjak mendorong ongkos logistik dan produksi, sehingga harga eceran ikut terdorong. Ini bukan inflasi sementara, melainkan tekanan jangka menengah yang bisa membentuk ekspektasi masyarakat.

Yusuf menekankan perlunya menjaga daya beli melalui penambahan bantuan sosial. Ia merekomendasikan relokasi belanja negara untuk membuka ruang fiskal tanpa menambah defisit.

“Dengan pendekatan seperti itu, pemerintah bisa membebaskan ruang anggaran dalam jumlah signifikan untuk kemudian dialihkan menjadi BLT tambahan, operasi pasar, atau penebalan subsidi energi yang sifatnya lebih mendesak,” tambahnya.

Program MBG dan IKN memang menjadi dua pos belanja besar dalam APBN 2026. Mengalihkan sebagian dana dari keduanya, menurut CORE, menjadi langkah cepat dan efektif di tengah ketidakpastian global.


Pemerintah: APBN Masih Tangguh, Simulasi Siap

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tampak lebih optimistis. Dalam pernyataan di Istana Kepresidenan, Selasa (3/3/2026), Purbaya menyatakan APBN masih cukup kuat menghadapi gejolak.

“Analisa kita yang ada sekarang cukup baik ya, jadi ga ada masalah (dampak konflik),” tegasnya.

Ia menyoroti penerimaan pajak Januari-Februari 2026 yang tumbuh 30% dibanding tahun lalu. Angka ini menunjukkan mesin ekonomi domestik masih berjalan baik. Terkait harga minyak, pemerintah telah menyiapkan simulasi skenario terburuk.

“Jadi masih bisa di absorb kalau harga minyak naik, kalau terlalu tinggi dan kalau ekstrem sekali tentu akan kita hitung ulang,” lanjut Purbaya.

Saat ini harga minyak dunia berada di kisaran US$ 80 per barel, level yang masih manageable. Namun, penyesuaian kebijakan tetap disiapkan jika situasi memburuk.


Dampak Nyata bagi Masyarakat dan Ekonomi

Bagi masyarakat Indonesia, terutama kelas menengah ke bawah, risiko ini sangat riil. Kenaikan harga beras, minyak goreng, tarif angkutan, hingga listrik bisa memangkas daya beli secara langsung. Program MBG yang dirancang untuk nutrisi anak sekolah dan IKN sebagai proyek strategis nasional memang penting, namun Yusuf mengingatkan prioritas harus disesuaikan dengan kebutuhan mendesak.

Relokasi anggaran bukan berarti menghentikan program, melainkan menunda sebagian tahap atau meningkatkan efisiensi. Dana yang didapat bisa langsung digunakan untuk BLT tambahan atau operasi pasar stabilisasi pangan.

Indonesia sebagai importir minyak bersih memang selalu sensitif terhadap gejolak Timur Tengah. Konflik AS-Israel-Iran berpotensi mengganggu pasokan melalui Selat Hormuz. Meski cadangan strategis dan energi terbarukan tersedia, dampak jangka pendek tetap harus diantisipasi.


Dialog dan Transparansi Jadi Kunci

Sebagai jurnalis yang mengamati isu ekonomi makro, saya melihat usulan CORE sebagai masukan konstruktif. Bukan kritik, melainkan upaya menjaga kebijakan fiskal tetap responsif. Pemerintah, ekonom independen, dan DPR perlu segera berdialog agar relokasi anggaran tidak menimbulkan kontroversi politik.

Publik kini menanti langkah konkret: apakah ada APBN Perubahan 2026? Bagaimana skenario relokasi detail dari Kemenkeu dan Bappenas? Transparansi menjadi harga mati agar masyarakat memahami prioritas nasional.

Konflik Timur Tengah mungkin jauh, tapi dampaknya dekat dengan kehidupan sehari-hari. Inflasi core bukan sekadar angka, melainkan cerita ibu rumah tangga yang harus memilih antara beras atau biaya sekolah anak.

Ekonom CORE telah berbicara. Kini saatnya pemerintah menunjukkan APBN yang “masih kuat” benar-benar siap menghadapi ujian. Pembangunan jangka panjang seperti IKN tetap penting untuk Indonesia Emas 2045, namun ketahanan ekonomi rakyat tidak boleh dikorbankan.

 

Also Read
Latest News
  • Konflik Timur Tengah Picu Risiko Inflasi Core Indonesia 2026: Ekonom CORE Sarankan Alihkan Anggaran MBG dan IKN ke Bantuan Sosial
  • Konflik Timur Tengah Picu Risiko Inflasi Core Indonesia 2026: Ekonom CORE Sarankan Alihkan Anggaran MBG dan IKN ke Bantuan Sosial
  • Konflik Timur Tengah Picu Risiko Inflasi Core Indonesia 2026: Ekonom CORE Sarankan Alihkan Anggaran MBG dan IKN ke Bantuan Sosial
  • Konflik Timur Tengah Picu Risiko Inflasi Core Indonesia 2026: Ekonom CORE Sarankan Alihkan Anggaran MBG dan IKN ke Bantuan Sosial
  • Konflik Timur Tengah Picu Risiko Inflasi Core Indonesia 2026: Ekonom CORE Sarankan Alihkan Anggaran MBG dan IKN ke Bantuan Sosial
  • Konflik Timur Tengah Picu Risiko Inflasi Core Indonesia 2026: Ekonom CORE Sarankan Alihkan Anggaran MBG dan IKN ke Bantuan Sosial
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad