Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Realisasi Investasi Kaltim Rp70,43 Triliun Serap 50.706 Tenaga Kerja: Dorong Penurunan Pengangguran dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah

 

Ilustrasi AI

Kalimantan Timur, 16 Januari 2026 – Arus investasi yang masuk ke Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) sepanjang Januari hingga September 2025 berhasil mencapai nilai fantastis Rp70,43 triliun dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) nonmigas serta non-pertambangan. Capaian ini tidak hanya menjadi indikator pertumbuhan ekonomi, tapi juga langsung berdampak pada penyerapan tenaga kerja sebanyak 50.706 orang, yang turut membantu menekan angka pengangguran di provinsi tersebut menjadi 5,18 persen pada Maret 2025.

Data ini diungkap Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Kaltim, Fahmi Prima Laksana, di Samarinda pada Kamis (15/1/2026). "Sebanyak 50.706 tenaga kerja berasal dari investasi PMDN maupun PMA nonmigas dan non-pertambangan," ujar Fahmi. Rinciannya, dari PMDN terserap 35.728 tenaga kerja Indonesia (TKI) dan 19 tenaga kerja asing (TKA), sementara dari PMA terserap 14.883 TKI dan 76 TKA.

Investasi besar ini menunjukkan bahwa Kaltim tetap menjadi magnet bagi pelaku usaha, meski di tengah transisi pembangunan nasional seperti proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) di Penajam Paser Utara. Meskipun artikel tidak secara spesifik menyebut kontribusi IKN, realisasi ini mencakup berbagai sektor yang mendukung ekosistem ekonomi provinsi, termasuk kawasan penyangga ibu kota baru.


Sektor Unggulan Penyerap Tenaga Kerja Terbanyak

Sektor tanaman pangan, perkebunan, dan peternakan menjadi juara dalam penyerapan tenaga kerja. Di PMDN, sektor ini menyerap 17.960 TKI dari 892 proyek dengan nilai investasi Rp7,21 triliun. Sementara di PMA, sektor yang sama menyerap 11.348 TKI dan 14 TKA dari 248 proyek senilai Rp1,76 triliun.

Sektor lain yang menonjol meliputi:

  • Industri kimia dan farmasi (PMDN): 219 proyek, Rp8,57 triliun, serap 449 TKI dan 10 TKA.
  • Industri makanan (PMDN): 400 proyek, Rp3,09 triliun, serap 1.812 TKI.
  • Transportasi, gudang, dan komunikasi (PMDN): 2.588 proyek, Rp3,55 triliun, serap 2.883 TKI dan 3 TKA.
  • Industri kertas dan pencetakan (PMA): 5 proyek, Rp2,51 triliun, serap 951 TKI dan 8 TKA.
  • Industri logam dasar dan barang logam (PMA): 58 proyek, Rp1,01 triliun, serap 248 TKI dan 15 TKA.

Fahmi menekankan bahwa semakin besar investasi yang masuk, semakin besar pula multiplier effect bagi masyarakat dan daerah. "Tiap adanya proyek maupun kegiatan usaha baru, maka akan membutuhkan berbagai kebutuhan pokok bagi lingkungan sekitar, termasuk lapangan kerja lokal yang turut terserap," katanya. Dampak ini terasa langsung di kabupaten/kota yang menjadi lokasi investasi, mulai dari peningkatan daya beli hingga pertumbuhan usaha mikro di sekitar proyek.


Konteks Nasional dan Provinsi: Momentum Pertumbuhan

Capaian Kaltim ini selaras dengan tren nasional. Pada 15 Januari 2026, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengumumkan realisasi investasi nasional 2025 mencapai Rp1.931,2 triliun (101,3% dari target), dengan penyerapan 2,71 juta tenaga kerja. Meski Kaltim tidak masuk lima besar provinsi nasional (didominasi Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur, Banten, dan Sulawesi Tengah), kontribusi provinsi ini tetap signifikan, terutama di sektor nonmigas dan non-pertambangan yang menjadi fokus data tersebut.

Di tingkat provinsi, angka pengangguran 5,18% pada Maret 2025 menunjukkan tren positif. Investasi berperan penting dalam mengurangi pengangguran terbuka, sekaligus mendukung program pemerintah pusat untuk menciptakan lapangan kerja berkualitas di era transisi energi dan hilirisasi.

Meski berhasil, tantangan tetap ada. Penyerapan tenaga kerja asing (TKA) yang relatif kecil menunjukkan prioritas pada TKI lokal, tapi perlu terus ditingkatkan melalui pelatihan dan sertifikasi agar masyarakat Kaltim lebih kompetitif. Selain itu, distribusi investasi harus merata agar tidak hanya terkonsentrasi di kota-kota besar, tapi juga menjangkau kabupaten penyangga IKN dan wilayah pedalaman.

Dengan momentum ini, Kaltim berpotensi terus menjadi lokomotif ekonomi Kalimantan. Investasi yang masuk bukan hanya soal angka triliunan, melainkan kesempatan bagi ribuan keluarga untuk memiliki pekerjaan layak. Seperti dikatakan Fahmi, "Semakin besar investasi yang masuk, makin besar pula pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat dan daerah."

Di tengah pembangunan IKN yang terus berlanjut, realisasi investasi seperti ini menjadi bukti bahwa Kaltim siap menjadi pusat pertumbuhan baru Indonesia—hijau, inklusif, dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat.

 

Also Read
Tag:
Latest News
  • Realisasi Investasi Kaltim Rp70,43 Triliun Serap 50.706 Tenaga Kerja: Dorong Penurunan Pengangguran dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah
  • Realisasi Investasi Kaltim Rp70,43 Triliun Serap 50.706 Tenaga Kerja: Dorong Penurunan Pengangguran dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah
  • Realisasi Investasi Kaltim Rp70,43 Triliun Serap 50.706 Tenaga Kerja: Dorong Penurunan Pengangguran dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah
  • Realisasi Investasi Kaltim Rp70,43 Triliun Serap 50.706 Tenaga Kerja: Dorong Penurunan Pengangguran dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah
  • Realisasi Investasi Kaltim Rp70,43 Triliun Serap 50.706 Tenaga Kerja: Dorong Penurunan Pengangguran dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah
  • Realisasi Investasi Kaltim Rp70,43 Triliun Serap 50.706 Tenaga Kerja: Dorong Penurunan Pengangguran dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad