![]() |
| Ilustrasi AI |
IKN, 16 Januari 2026 – Presiden Prabowo Subianto
memberikan arahan yang sangat spesifik dan berorientasi risiko lingkungan
selama kunjungan kerjanya ke Ibu Kota Nusantara (IKN) pada 12–13 Januari 2026.
Salah satu poin utama yang disorot adalah keharusan desain keseluruhan kawasan
IKN mampu mengantisipasi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang
kerap melanda Kalimantan Timur di musim kemarau. Arahan ini diungkap secara
terbuka oleh Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi pada Kamis
(15/1/2026) di Kompleks Istana Kepresidenan.
“Dalam rapat itu Bapak Presiden memberikan beberapa koreksi
terkait desain. Desain itu dalam arti luas, termasuk fungsi kawasan. Contohnya
penambahan embung-embung untuk mengatasi iklim yang panas di sana,” ujar
Prasetyo. Ia menjelaskan bahwa Presiden secara khusus menyoroti dua faktor
risiko utama di wilayah IKN: suhu udara yang tinggi dan potensi karhutla yang
besar karena masih banyaknya tutupan hutan di sekitar kawasan pembangunan.
“Karena di sana kan masalah iklim itu satu panas, kedua ada
potensi karena di wilayah yang banyak hutan ada juga potensi kebakaran hutan,”
kata Prasetyo mengutip langsung penjelasan Presiden Prabowo. Arahan ini bukan
sekadar catatan kecil, melainkan instruksi strategis yang menuntut Otorita IKN
merevisi dan memperkuat berbagai elemen desain agar kawasan tersebut tangguh
menghadapi ancaman bencana alam yang semakin sering terjadi akibat perubahan
iklim.
Mengapa Karhutla Menjadi Perhatian Serius?
Kalimantan Timur, termasuk Penajam Paser Utara tempat IKN
berada, termasuk provinsi dengan catatan karhutla tertinggi di Indonesia selama
satu dekade terakhir. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)
mencatat bahwa pada periode 2015–2024, luas lahan terbakar di Kaltim mencapai
ratusan ribu hektare, dengan puncak tertinggi terjadi pada 2015 (sekitar 2,6
juta ha secara nasional, sebagian besar di Kalimantan dan Sumatera) dan 2019.
Faktor pemicu utama meliputi:
- Kekeringan
ekstrem akibat El Niño
- Pembukaan
lahan untuk perkebunan dan pertambangan
- Pembakaran
lahan secara tradisional oleh masyarakat
- Angin
kencang yang mempercepat penyebaran api
Meskipun IKN dirancang sebagai forest city dengan target 70%
area hijau dan ruang terbuka, justru luasnya tutupan vegetasi tersebut menjadi
pedang bermata dua: sangat baik untuk biodiversitas dan penyerapan karbon,
namun rentan terhadap kebakaran jika musim kemarau datang tanpa persiapan
memadai.
Presiden Prabowo tampaknya memahami risiko ini dengan sangat
baik. Kunjungannya yang berlangsung dua hari penuh—termasuk bermalam di kawasan
IKN—memberi kesempatan langsung melihat kondisi lapangan, termasuk vegetasi
alami yang masih dominan di sekitar Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) dan
wilayah penyangga.
Langkah Konkret yang Sudah dan Akan Dilakukan
Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono melaporkan kepada
Presiden bahwa beberapa langkah mitigasi sudah mulai diimplementasikan, di
antaranya:
- Pemasangan
sensor deteksi panas Sistem sensor thermal dan smoke detector mulai
diuji coba di beberapa titik strategis. Sensor ini mampu mendeteksi
kenaikan suhu abnormal dan asap sejak dini, sehingga tim pemadam dapat
bergerak dalam hitungan menit, bukan jam.
- Penambahan
embung dan sistem retensi air Embung-embung kecil hingga sedang akan
dibangun di berbagai zona untuk menjaga kelembapan tanah dan menyediakan
cadangan air saat musim kemarau panjang. Air ini juga bisa digunakan untuk
water bombing jika terjadi kebakaran.
- Zona
penyangga hijau terkelola Pembuatan zona buffer berupa sabuk hijau
yang dirancang khusus dengan jenis tanaman tahan api (fire-resistant
species) dan jalur pemutus api (firebreak) selebar minimal 20–50 meter di
perimeter kawasan.
- Integrasi
dengan sistem peringatan dini nasional Sinkronisasi dengan aplikasi
Info BMKG, SiPongi KLHK, dan dashboard BNPB agar semua pihak terkait
mendapatkan notifikasi real-time.
Presiden meminta agar semua inisiatif ini tidak hanya di
atas kertas, melainkan benar-benar diuji coba dan dievaluasi secara berkala.
“Bapak Presiden minta untuk diuji coba terus,” tegas Prasetyo.
Konteks Lebih Luas: Komitmen Prabowo pada Ketahanan Iklim
Arahan ini sejalan dengan visi pemerintahan Prabowo-Gibran
yang menempatkan ketahanan iklim dan bencana sebagai salah satu prioritas
nasional. Berbeda dengan narasi sebelumnya yang lebih fokus pada kecepatan
pembangunan infrastruktur fisik, pemerintahan saat ini tampaknya ingin
menunjukkan bahwa IKN bukan sekadar kota baru megah, melainkan model kota masa
depan yang adaptif terhadap krisis iklim global.
Penambahan embung juga memiliki manfaat ganda: selain
mitigasi karhutla, infrastruktur ini membantu mengatasi risiko banjir musiman
yang kerap melanda wilayah rendah seperti Mentawir dan sekitarnya, sebagaimana
terjadi pada awal Januari 2026.
Meski langkah-langkah ini terlihat progresif, tantangan tetap besar. Biaya pemasangan sensor, pembangunan embung, dan pemeliharaan zona penyangga tidak murah. Selain itu, koordinasi lintas kementerian (KLHK, PU, BNPB, BMKG, dan Otorita IKN) harus berjalan mulus agar tidak terjadi tumpang tindih atau celah pengawasan.
Di sisi lain, arahan Presiden Prabowo ini memberikan sinyal
positif kepada masyarakat dan investor. Dengan memprioritaskan aspek ketahanan
lingkungan sejak tahap desain, pemerintah menunjukkan bahwa IKN bukan proyek
yang mengorbankan alam demi ambisi politik, melainkan upaya serius membangun
kota yang selaras dengan tantangan iklim abad 21.
Kunjungan singkat Prabowo ke IKN telah melahirkan sejumlah
koreksi penting—dari percepatan gedung legislatif-yudikatif, penambahan
fasilitas air, hingga antisipasi karhutla. Semua itu menggambarkan satu pesan
besar: IKN harus tetap menjadi prioritas nasional, namun dengan standar
keamanan dan keberlanjutan yang lebih tinggi.
Di tengah kritik yang masih bergaung tentang biaya dan
urgensi pemindahan ibu kota, arahan Presiden ini menjadi pengingat bahwa
pembangunan besar harus diimbangi dengan kearifan menghadapi alam. Dengan
demikian, IKN berpotensi tidak hanya menjadi ibu kota politik baru, melainkan
juga laboratorium nasional tentang bagaimana manusia bisa hidup harmonis dengan
lingkungan di era perubahan iklim yang semakin nyata.





.webp)

