Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Kunjungan Profesor AS ke IKN: Pengakuan Internasional atas Ambisi Hijau Indonesia

 

Ilustrasi AI

IKN, 11 Januari 2026 – Di tengah perdebatan panas seputar keberlanjutan dan progres pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), sebuah kunjungan akademik dari Amerika Serikat memberikan angin segar. Prof. Thomas C. Hilde, Ph.D., dari School of Public Policy, University of Maryland, menyebut IKN sebagai "proyek ambisius yang luar biasa" yang sangat dibutuhkan dunia untuk mewujudkan masa depan hijau. Pernyataan ini disampaikan dalam kunjungan strategis delegasi universitas tersebut ke Kantor Otorita IKN pada Kamis (8/1/2026), menandai pengakuan internasional atas visi Indonesia membangun kota berkelanjutan di tengah hutan Kalimantan.

Prof. Hilde, yang merupakan akademisi terkemuka di bidang kebijakan publik dan inovasi, menyatakan: “IKN merupakan proyek ambisius yang luar biasa. Ambisi ini sangat dibutuhkan untuk menciptakan masa depan yang hijau. Semoga IKN akan terus menjadi percontohan di dunia.” Kutipan ini langsung menjadi headline di berbagai media, karena datang dari institusi bergengsi dekat Washington, D.C., yang dikenal sebagai pusat riset kebijakan publik global.

Kunjungan ini bukan sekadar wisata akademik. Delegasi dari University of Maryland terlibat dalam diskusi mendalam tentang tata kelola modern, integrasi prinsip keberlanjutan dalam infrastruktur skala besar, serta kolaborasi internasional di bidang perencanaan kota. Prof. Hilde bahkan turut menanam pohon simbolis di kawasan IKN pada Jumat (9/1/2026), disaksikan langsung oleh Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita IKN, Myrna Asnawati Safitri. Aksi ini memperkuat narasi bahwa IKN bukan hanya proyek nasional, melainkan laboratorium hidup bagi praktik urbanisasi inklusif dan berorientasi masa depan.


Mengapa IKN Dianggap Dibutuhkan Dunia?

Menurut Prof. Hilde, IKN telah bertransformasi menjadi model global untuk pembangunan kota yang mengintegrasikan tiga pilar keberlanjutan: lingkungan, sosial, dan ekonomi. Di era krisis iklim, di mana urbanisasi cepat menjadi salah satu penyumbang terbesar emisi karbon, proyek seperti IKN menawarkan solusi konkret. Kota ini dirancang sebagai forest city dengan 70% area hijau, konsep smart city berbasis teknologi, dan pendekatan nol karbon bersih (net zero emission).

Pengamat internasional melihat IKN sebagai respons nyata terhadap tantangan global: bagaimana membangun kota baru yang tidak mengorbankan alam, tapi justru memulihkannya. Berbeda dengan kota-kota besar di dunia yang sering terjebak dalam kemacetan, polusi, dan ketimpangan, IKN berusaha menjadi contoh sebaliknya. Kunjungan dari University of Maryland menunjukkan bahwa komunitas akademik global mulai memperhatikan IKN sebagai referensi untuk desain kota hijau di negara berkembang lainnya.

Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, menyambut positif kunjungan ini. Ia menjelaskan secara komprehensif proses pembangunan IKN, mulai dari visi pemindahan ibu kota hingga infrastruktur dasar yang berlandaskan keberlanjutan. Basuki juga menekankan komitmen pemerintahan baru di bawah Presiden Prabowo Subianto: “Komitmen Presiden Prabowo untuk memindahkan Ibu Kota ke Nusantara sudah sangat jelas. Antusiasme masyarakat sangat tinggi, terbukti pada periode Natal dan Tahun Baru lalu, lebih dari 300 ribu orang berkunjung ke IKN.”

Angka kunjungan wisatawan itu menunjukkan bahwa IKN mulai hidup sebagai destinasi, bukan hanya proyek konstruksi. Dari infrastruktur jalan tol hingga kawasan inti pemerintahan (KIPP), progres terus berlanjut meski tantangan seperti curah hujan tinggi dan banjir musiman tetap ada.

Meski mendapat pujian dari kalangan akademik AS, IKN tetap menghadapi kritik domestik dan internasional. Beberapa media asing menyebut risiko menjadi "kota hantu" jika tidak berhasil menarik populasi dan investasi swasta yang memadai. Namun, kunjungan Prof. Hilde menawarkan perspektif optimis: ambisi besar memang diperlukan untuk perubahan signifikan. Tanpa ambisi, dunia sulit maju menuju target iklim Paris Agreement.

IKN juga membuka pintu kolaborasi lebih luas. Dengan dukungan teknologi dari perusahaan AS seperti yang terlihat di proyek Integrated Command and Control Center sebelumnya, serta minat akademik seperti ini, proyek ini bisa menjadi jembatan kerjasama Indonesia-AS di bidang urbanisme berkelanjutan. Para ahli berharap kunjungan serupa dari institusi lain akan terus berdatangan, memperkaya diskursus dan mempercepat transfer pengetahuan.

Di akhir kunjungan, Prof. Hilde menekankan harapannya agar IKN terus berkembang sebagai percontohan dunia. Ini adalah pengingat bahwa di balik kritik, ada pengakuan bahwa Indonesia sedang mencoba sesuatu yang berani dan visioner: membangun ibu kota baru yang tidak hanya melayani pemerintahan, tapi juga menjadi inspirasi bagi umat manusia dalam menghadapi tantangan abad 21.

Pembangunan IKN memang ambisius, tapi seperti kata Prof. Thomas C. Hilde, ambisi seperti inilah yang dunia butuhkan saat ini—untuk masa depan yang lebih hijau, inklusif, dan berkelanjuta.

 

Also Read
Tag:
Latest News
  • Kunjungan Profesor AS ke IKN: Pengakuan Internasional atas Ambisi Hijau Indonesia
  • Kunjungan Profesor AS ke IKN: Pengakuan Internasional atas Ambisi Hijau Indonesia
  • Kunjungan Profesor AS ke IKN: Pengakuan Internasional atas Ambisi Hijau Indonesia
  • Kunjungan Profesor AS ke IKN: Pengakuan Internasional atas Ambisi Hijau Indonesia
  • Kunjungan Profesor AS ke IKN: Pengakuan Internasional atas Ambisi Hijau Indonesia
  • Kunjungan Profesor AS ke IKN: Pengakuan Internasional atas Ambisi Hijau Indonesia
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad