![]() |
| Ilustrasi AI |
Pontianak, Kalimantan Barat — Pemerintah Provinsi
Kalimantan Barat (Kalbar) melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK)
memperketat kesiapsiagaan serta respons cepat terhadap ancaman kebakaran
hutan dan lahan (karhutla) di awal tahun 2026. Upaya ini dilakukan menyusul
peringatan dini cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)
yang menunjukkan beberapa wilayah di Kalbar mengalami periode tanpa hujan
dalam jangka waktu singkat, yang berpotensi memicu kebakaran bila tak
ditanggulangi secara serius.
Peringatan dini itu mencatat bahwa pada pertengahan Januari
2026, wilayah-wilayah seperti Kota Pontianak mengalami hari tanpa hujan
antara 1–5 hari, disertai suhu udara mencapai sekitar 32,3 derajat
Celsius. Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya karhutla meskipun
wilayah tersebut belum sepenuhnya memasuki musim kemarau.
Siaga Dini Menyusul Potensi Karhutla
Kepala DLHK Kalbar, Adi Yani, mengatakan langkah
antisipatif ini merupakan respons terhadap potensi karhutla yang meningkat
berdasarkan data BMKG. BMKG memberikan peringatan potensi karhutla untuk
periode 19–25 Januari 2026, terutama akibat “jeda hujan atau kondisi
berawan,” yang meskipun tidak menunjukkan musim kemarau panjang, bisa
menimbulkan titik api pada lahan kering.
Adi Yani menegaskan bahwa strategi utama menghadapi ancaman
karhutla adalah pencegahan dini dan respons cepat, serta kolaborasi
lintas sektor yang kuat antara berbagai institusi pemerintah dan masyarakat.
Mobilisasi Brigade dan Tim Lapangan
Sebagai bagian dari kesiapsiagaan tersebut, Unit Pelaksana
Teknis (UPT) Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) di wilayah Kalbar telah
menurunkan Regu Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhutla)
sejak 15 Januari 2026. Tim ini aktif melakukan pemantauan intensif dan
pemadaman di titik-titik rawan kebakaran, bekerja sama dengan unsur terkait
seperti Manggala Agni, TNI, Polri, BPBD, dan relawan.
Upaya ini terutama difokuskan di wilayah KPH Kubu Raya, di
mana tantangan terbesar adalah lahan gambut yang sangat sulit dipadamkan,
ditambah keterbatasan sumber air di beberapa lokasi. Meski tenaga dan sumber
daya terus dikerahkan, upaya pemadaman masih berlangsung dengan penuh
tantangan.
Selain itu, UPT KPH Mempawah dan Kayong juga
meningkatkan patroli, pengawasan lokasi rawan, serta koordinasi bersama
aparat dan pemangku kepentingan untuk mencegah perluasan karhutla di
wilayah mereka masing-masing. Langkah ini mencerminkan komitmen bersama
antarlembaga dalam menghadapi risiko bencana sejak dini.
Kolaborasi Lintas Sektor: Kunci Pengendalian Karhutla
Adi Yani menegaskan bahwa pengendalian karhutla tidak bisa
dilakukan oleh satu pihak saja. Sebaliknya, pendekatan kolaboratif sangat
penting untuk memastikan respons yang cepat dan sinergis di lapangan. DLHK
Kalbar aktif memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk BPBD
provinsi dan kabupaten/kota, Dinas Lingkungan Hidup di daerah, serta pemegang
izin usaha hutan dan perkebunan.
“Pengendalian karhutla membutuhkan kerja sama, respons
cepat, dan sinergi semua pihak. Pencegahan dan pemadaman dini adalah kunci agar
kebakaran tidak meluas dan menimbulkan dampak lingkungan, kesehatan, serta
sosial ekonomi masyarakat,” ujar Adi Yani.
Peran Masyarakat dalam Pencegahan
Selain respons pemerintah, DLHK Kalbar juga mengimbau
masyarakat agar turut berperan aktif dalam mencegah terjadinya karhutla. Salah
satu himbauan utama adalah tidak melakukan pembakaran lahan secara terbuka,
terutama dalam konteks pembukaan lahan pertanian atau pengolahan lahan tanpa
pengawasan yang tepat.
Masyarakat juga diminta untuk segera melaporkan bila
menemukan tanda-tanda kebakaran hutan atau lahan di sekitar mereka,
sehingga tim pemadam dan pihak berwenang bisa segera menindaklanjuti laporan
tersebut. Usaha ini dianggap penting, mengingat deteksi dini merupakan salah
satu kunci utama mengendalikan potensi kebakaran yang bisa dengan cepat
menyebar di lahan gambut yang kering dan mudah terbakar.
Tinjauan Risiko Karhutla di Kalbar
Kalbar dikenal sebagai salah satu provinsi yang rawan
mengalami kebakaran hutan dan lahan, terutama karena kondisi geografis dan
iklimnya yang memiliki musim kering pada beberapa periode tertentu. Berdasarkan
peringatan cuaca BMKG, potensi karhutla sering meningkat saat wilayah mengalami
jeda hujan meskipun musim kemarau belum dimulai secara resmi.
Selain itu, pemerintah pusat pun sebelumnya pernah
menegaskan pentingnya respons cepat terhadap karhutla di Kalimantan Barat.
Menteri Lingkungan Hidup RI, Hanif Faisol Nurofiq, telah memimpin koordinasi
tingkat nasional bersama BNPB dan BMKG, menegaskan bahwa kecepatan dalam
menangani setiap titik api adalah hal yang krusial untuk mencegah perluasan
kebakaran besar, terutama di lahan gambut yang sangat rentan.
Efek Lingkungan, Kesehatan, dan Sosial Ekonomi
Dampak karhutla tidak hanya terbatas pada kerusakan hutan
dan lahan produktif, tetapi juga memberi efek signifikan pada kualitas
udara, kesehatan masyarakat, dan aktivitas sosial ekonomi. Kabut asap yang
timbul akibat kebakaran dapat mengganggu sistem pernapasan warga, menghambat
aktivitas normal, bahkan meningkatkan risiko penyakit infeksi saluran
pernapasan akut (ISPA). Selain itu, kondisi asap yang pekat bisa mengganggu
jarak pandang dan operasional transportasi udara, seperti yang pernah
diperingatkan di beberapa kabupaten lain di wilayah Kalbar.
Persiapan Bencana Lain Secara Terintegrasi
Ancaman bencana di Kalbar tidak hanya sebatas karhutla.
Beberapa daerah, seperti Kabupaten Kubu Raya, juga menghadapi potensi risiko
lain seperti banjir dan angin puting beliung, yang juga telah menjadi
bagian dari perencanaan mitigasi dan kesiapsiagaan bencana oleh pemerintah
setempat. Upaya perencanaan terintegrasi ini menunjukkan bahwa kesiapsiagaan
terhadap bencana adalah strategi yang berkelanjutan, bukan hanya reaksi sementara.
Menuju Penanggulangan Bencana Lebih Baik
Kesiapsiagaan Kalbar dalam menghadapi ancaman karhutla di
awal 2026 menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas sektor, kesiapan teknis
tim lapangan, serta partisipasi aktif masyarakat. Ketiga aspek ini menjadi
pilar utama dalam strategi mitigasi bencana yang efektif. Respons cepat yang
digalang kini diharapkan dapat meminimalkan dampak karhutla dan menjaga
keseimbangan ekosistem, kesehatan masyarakat, serta produktivitas ekonomi di wilayah
Kalimantan Barat.
Dengan komitmen kuat dari pemerintah daerah, dukungan
pemerintah pusat, serta keterlibatan semua elemen masyarakat, Kalbar terus
memperkuat fondasi kesiapsiagaan bencana — sebuah langkah penting menghadapi
tantangan perubahan iklim dan variabilitas cuaca yang makin tidak menentu di
masa depan.





.webp)

