Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

CarbonEthics Gandeng Lima Desa di Pulang Pisau, Kalteng: Restorasi Gambut 21 Ribu Hektare Jadi Harapan Baru Tekan Karhutla dan Dorong Kesejahteraan Masyarakat

 

Palangka Raya, 6 Januari 2026 – Di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih menghantui Kalimantan Tengah setiap musim kemarau, muncul inisiatif baru yang patut diapresiasi. Perusahaan restorasi ekosistem berbasis alam CarbonEthics resmi menjalin kerja sama jangka panjang dengan lima desa di Kabupaten Pulang Pisau. Proyek ambisius bernama Pulang Pisau PRESERVE ini menargetkan pemulihan lebih dari 21.000 hektare lahan gambut yang rusak, sekaligus melibatkan masyarakat setempat sebagai aktor utama dan penerima manfaat langsung.

Penandatanganan kesepakatan dilakukan pada Selasa, 6 Januari 2026, dihadiri perwakilan lima desa: Desa Henda, Pilang, Simpur, Tumbang Nusa, dan Tanjung Sangalang. Proses ini bukan sekadar tanda tangan di atas kertas, melainkan hasil dari rangkaian diskusi panjang yang mengedepankan prinsip Free, Prior, and Informed Consent (FPIC). Artinya, masyarakat desa diberi informasi lengkap, waktu yang cukup untuk mempertimbangkan, serta hak untuk menyetujui atau menolak tanpa tekanan.

Data historis menunjukkan betapa krusialnya proyek ini. Selama satu dekade terakhir, laju kebakaran di kawasan gambut Pulang Pisau mencapai rata-rata 7 persen per tahun. Kebakaran gambut bukan hanya masalah lokal; ketika gambut terbakar, emisi karbon yang dilepaskan bisa mencapai ratusan juta ton CO2e dalam satu musim, setara dengan emisi tahunan beberapa negara kecil. Lebih dari itu, kerusakan ekosistem ini mengancam keberadaan spesies endemik yang dilindungi, seperti orangutan Kalimantan, kucing merah (flat-headed cat), owa kalawat, hingga monyet ekor panjang yang masuk dalam Daftar Merah IUCN sebagai spesies terancam punah.


Pendekatan 3R: Rewetting, Revegetation, Revitalization

CarbonEthics menerapkan pendekatan terintegrasi yang disebut 3R:

  1. Rewetting (pembasahan kembali) Sistem kanal blok dan sumur bor akan dibangun untuk mengembalikan tingkat muka air tanah ke kondisi ideal. Gambut yang kering mudah terbakar karena kandungan organiknya yang sangat mudah teroksidasi. Dengan menjaga kelembaban, risiko karhutla bisa ditekan drastis.
  2. Revegetation (penanaman kembali) Penanaman vegetasi asli seperti jelutung, ramin, meranti, dan berbagai jenis pohon gambut lainnya akan dilakukan secara bertahap. Tujuannya bukan hanya menutup lahan kosong, tapi juga memulihkan fungsi ekologi hutan gambut sebagai penyimpan karbon terbesar di daratan tropis.
  3. Revitalization (pemberdayaan masyarakat) Inilah yang menjadi pembeda utama proyek ini. CarbonEthics tidak hanya fokus pada aspek teknis, tapi juga pada manusia yang tinggal di sekitar kawasan tersebut. Program pemberdayaan mencakup pelatihan pertanian berkelanjutan, pengembangan usaha kecil berbasis sumber daya alam non-kayu, pendidikan melalui beasiswa dan pelatihan vokasi, serta pengembangan ekowisata berbasis masyarakat.

Co-Founder & Chief Executing Officer CarbonEthics, Bimo Soewadji, menegaskan filosofi dasar perusahaan. “Kami percaya bahwa ketika masyarakat berdaya secara ekonomi dan pengetahuan, hutan akan terjaga dengan sendirinya. Tidak perlu paksaan, tidak perlu pengawasan ketat dari luar. Itu sebabnya revitalisasi menjadi pilar ketiga yang tidak kalah pentingnya dengan rewetting dan revegetation,” jelas Bimo.


Dampak yang Diharapkan dan Manfaat Nyata bagi Masyarakat

Secara lingkungan, restorasi 21 ribu hektare gambut berpotensi menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah sangat besar—setara dengan mengurangi emisi dari jutaan kendaraan bermotor setiap tahunnya. Selain itu, pemulihan ekosistem akan meningkatkan kualitas air, mencegah banjir, dan menjaga keanekaragaman hayati.

Dari sisi sosial-ekonomi, program ini diharapkan menciptakan lapangan kerja baru bagi warga desa. Misalnya:

  • Pekerja harian untuk pembangunan infrastruktur hidrologi
  • Petani dan pembibit tanaman gambut
  • Pemandu ekowisata
  • Pengrajin produk lokal berbasis sumber daya alam

Kelompok perempuan dan pemuda desa juga akan mendapat kesempatan khusus melalui pelatihan kewirausahaan. Beberapa desa bahkan mulai merancang paket wisata gambut yang menggabungkan pengamatan satwa liar, belajar budaya Dayak, dan pengalaman hidup bersama masyarakat lokal.

Rusli, perwakilan Lembaga Pengelola Hutan Desa Pilang, menyampaikan harapan yang sama. “Kami tidak ingin hutan hanya jadi objek yang dijaga dari jauh. Dengan pola kerja sama ini, hutan lestari dan masyarakat sejahtera bisa berjalan bersama. Itu yang kami perjuangkan selama ini,” ujarnya.


Konteks Lebih Luas: Restorasi Gambut Nasional dan Tantangan ke Depan

Indonesia memiliki sekitar 14,9 juta hektare lahan gambut tropis, terbesar di dunia. Namun, kerusakan akibat drainase untuk perkebunan, pertambangan, dan kebakaran telah membuat sebagian besar gambut rentan. Pemerintah pusat melalui Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) terus mendorong pendekatan berbasis masyarakat, dan proyek seperti Pulang Pisau PRESERVE menjadi contoh nyata implementasi kebijakan tersebut.

Tantangan tetap ada. Cuaca ekstrem, potensi konflik kepentingan lahan, serta kebutuhan dana berkelanjutan menjadi hal yang harus diantisipasi. CarbonEthics berkomitmen untuk pendampingan minimal 25–30 tahun ke depan, sehingga proyek ini bukan sekadar program jangka pendek, melainkan investasi jangka panjang bagi lingkungan dan masyarakat.

Di tengah tekanan global untuk menurunkan emisi dan melindungi biodiversitas, inisiatif seperti ini menunjukkan bahwa solusi terbaik sering kali lahir dari kolaborasi antara swasta, masyarakat lokal, dan pemerintah. Pulang Pisau kini memiliki harapan baru: gambut yang lembab, hutan yang hijau kembali, dan masyarakat yang semakin mandiri. Jika berhasil, model ini berpotensi direplikasi di ratusan desa gambut lainnya di Kalimantan Tengah, bahkan di seluruh Indonesia.

Restorasi gambut bukan lagi sekadar kewajiban lingkungan. Ia telah menjadi jalan menuju kesejahteraan bersama, di mana alam dan manusia bisa saling menguntungkan. Di tahun 2026 ini, langkah kecil di lima desa Pulang Pisau berpotensi menjadi lompatan besar bagi masa depan yang lebih hijau dan adil.

 

Also Read
Latest News
  • CarbonEthics Gandeng Lima Desa di Pulang Pisau, Kalteng: Restorasi Gambut 21 Ribu Hektare Jadi Harapan Baru Tekan Karhutla dan Dorong Kesejahteraan Masyarakat
  • CarbonEthics Gandeng Lima Desa di Pulang Pisau, Kalteng: Restorasi Gambut 21 Ribu Hektare Jadi Harapan Baru Tekan Karhutla dan Dorong Kesejahteraan Masyarakat
  • CarbonEthics Gandeng Lima Desa di Pulang Pisau, Kalteng: Restorasi Gambut 21 Ribu Hektare Jadi Harapan Baru Tekan Karhutla dan Dorong Kesejahteraan Masyarakat
  • CarbonEthics Gandeng Lima Desa di Pulang Pisau, Kalteng: Restorasi Gambut 21 Ribu Hektare Jadi Harapan Baru Tekan Karhutla dan Dorong Kesejahteraan Masyarakat
  • CarbonEthics Gandeng Lima Desa di Pulang Pisau, Kalteng: Restorasi Gambut 21 Ribu Hektare Jadi Harapan Baru Tekan Karhutla dan Dorong Kesejahteraan Masyarakat
  • CarbonEthics Gandeng Lima Desa di Pulang Pisau, Kalteng: Restorasi Gambut 21 Ribu Hektare Jadi Harapan Baru Tekan Karhutla dan Dorong Kesejahteraan Masyarakat
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad