![]() |
| Ilustrasi AI |
IKN, 10 Januari 2026 – Proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) yang
menjadi kebanggaan nasional kembali diuji oleh alam. Banjir besar yang melanda
wilayah sekitar IKN pada awal Januari ini menimbulkan kekhawatiran bagi
masyarakat dan pemerintah. Meski tidak langsung menyentuh Kawasan Inti Pusat
Pemerintahan (KIPP), genangan air yang mencapai ketinggian hingga 80 cm di
Kelurahan Mentawir, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU),
telah merendam puluhan rumah dan mengganggu aktivitas sehari-hari penduduk lokal.
Ini adalah banjir terparah dalam 26 tahun terakhir di daerah tersebut, menurut
laporan resmi.
Sebagai jurnalis yang telah mengikuti perkembangan IKN sejak
awal, saya melihat ini bukan sekadar bencana alam biasa. Banjir di IKN ini
mencerminkan tantangan besar dalam membangun kota baru di tengah hutan
Kalimantan Timur yang rawan curah hujan tinggi. Otorita IKN, badan yang
bertanggung jawab atas pembangunan ini, langsung merespons dengan
langkah-langkah konkret, termasuk normalisasi dan revitalisasi sungai. Tapi,
apa sebenarnya yang terjadi, dan bagaimana upaya pencegahan ini bisa menjamin
masa depan IKN yang lebih tangguh?
Penyebab Banjir di IKN: Kombinasi Alam dan Aktivitas Manusia
Banjir yang terjadi pada 8 Januari 2026 ini dipicu oleh
hujan deras yang mengguyur wilayah IKN sejak 1 Januari. Intensitas hujan
mencapai puncaknya dari Rabu, 7 Januari pukul 17.00 WITA hingga Kamis, 8
Januari pukul 06.00 WITA. Debit air sungai-sungai di sekitar Sepaku meluap,
menyebabkan genangan di tiga RT di Kelurahan Mentawir. Selain hujan, faktor air
pasang atau rob juga memperburuk situasi, terutama di jalan nasional seperti
Margasari-Rantau yang berada di wilayah pesisir.
Menurut Deputi Bidang Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan
Masyarakat Otorita IKN, Alimuddin, banjir ini melanda wilayah IKN secara umum,
bukan hanya di KIPP. "Penyebab utamanya adalah curah hujan tinggi dan air
pasang," katanya dalam wawancara dengan media pada Jumat, 9 Januari.
Prediksi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memang
menunjukkan potensi hujan lebat di Kalimantan Timur, meskipun pada hari
kejadian suhu berada di kisaran 23-30 derajat Celsius tanpa indikasi hujan
ekstrem yang spesifik.
Namun, tak bisa dipungkiri bahwa faktor antropogenik ikut
berperan. Pembangunan cepat di IKN, yang melibatkan penebangan hutan dan
pengubahan lahan hulu, diduga mempercepat erosi tanah dan menyempitkan alur
sungai. Wilayah Sepaku sendiri sudah dikenal sebagai salah satu dari 10 titik
rawan banjir di IKN. Perubahan iklim global juga turut memperburuk kondisi,
dengan pola curah hujan yang semakin tidak terduga. BMKG bahkan memperingatkan
bahwa hujan lebat di Kaltim bisa berlanjut hingga 10 April, dengan risiko
banjir dan longsor yang lebih tinggi.
Saya ingat, saat pertama kali meliput IKN dua tahun lalu,
para ahli lingkungan sudah memperingatkan tentang vulnerabilitas ini.
Pembangunan kota baru di daerah tropis seperti ini memang penuh risiko, tapi
juga peluang untuk menerapkan teknologi ramah lingkungan. Sayangnya, banjir
kali ini menjadi pengingat bahwa mitigasi harus lebih proaktif.
Dampak Banjir terhadap Masyarakat dan Infrastruktur IKN
Dampak banjir ini paling terasa bagi penduduk lokal di
sekitar IKN. Puluhan rumah di Mentawir terendam, memaksa warga mengungsi
sementara ke tempat lebih tinggi. Aktivitas ekonomi terganggu, terutama bagi
petani dan pedagang kecil yang bergantung pada akses jalan. Rob di jalan
nasional Margasari-Rantau membuat lalu lintas macet, menghambat distribusi
barang dan mobilitas pekerja proyek IKN.
Meski KIPP aman dari genangan langsung, infrastruktur
penyangga seperti drainase dan jembatan di daerah penyangga ikut terdampak. Ini
menimbulkan pertanyaan besar tentang ketahanan lingkungan IKN secara
keseluruhan. Sebagai proyek ambisius untuk memindahkan pusat pemerintahan dari
Jakarta, IKN dirancang untuk menampung jutaan penduduk baru. Banjir seperti ini
bisa memperlambat migrasi dan investasi jika tidak ditangani serius.
Di sisi lain, banjir penduduk akibat pembangunan IKN justru
menambah beban. Kabupaten PPU, misalnya, bakal menambah kursi DPRD menjadi 30
karena lonjakan populasi. Ini menunjukkan betapa cepatnya perubahan demografi
di wilayah ini, yang jika tidak diimbangi dengan infrastruktur anti-banjir,
bisa menjadi bom waktu.
Respons Cepat Otorita IKN: Normalisasi dan Revitalisasi Sungai sebagai Solusi Utama
Otorita IKN tidak tinggal diam. Alimuddin menjelaskan bahwa
mereka telah menyiapkan proyek pengendali banjir, termasuk pembangunan
bendungan dan sistem drainase untuk mengendalikan debit air. "Kami punya
infrastruktur seperti bendungan dan drainase yang sedang diselesaikan,"
ujarnya. Langkah ini diharapkan bisa mengurangi risiko luapan di masa depan.
Yang paling menonjol adalah program normalisasi dan
revitalisasi sungai. Normalisasi melibatkan pembersihan sungai dari sedimentasi
dan sampah, sementara revitalisasi fokus pada pelebaran alur sungai untuk
meningkatkan kapasitas aliran air. Tujuannya sederhana: mencegah air meluap
saat hujan deras datang. Otorita juga bekerja sama dengan pakar internasional,
seperti Monash University dari Australia, untuk mendesain sistem anti-banjir
yang mirip dengan kota-kota di sana, yang terkenal tangguh terhadap banjir.
Selain infrastruktur fisik, pendekatan sosial juga
dikedepankan. Otorita gencar melakukan edukasi masyarakat melalui kampanye
pelestarian lingkungan. "Kami terus menerus upayakan pengelolaan sampah
dan kesadaran tentang dampak aktivitas manusia terhadap banjir," tambah
Alimuddin. Ini termasuk sosialisasi kepada warga Sepaku untuk tidak membuang
sampah sembarangan dan menjaga vegetasi di sekitar sungai.
Dari pengalaman saya meliput bencana serupa di daerah lain,
seperti banjir di Jakarta, pendekatan holistik seperti ini memang efektif.
Bukan hanya membangun tembok penahan, tapi juga melibatkan komunitas agar
banjir tidak menjadi musibah berulang.
Tantangan dan Harapan ke Depan untuk IKN Bebas Banjir
Meski upaya Otorita patut diapresiasi, tantangan masih ada.
Pembangunan IKN yang ambisius harus seimbang dengan pelestarian alam. Kritikus
lingkungan sering menyoroti bahwa penebangan hutan untuk proyek ini bisa
memperburuk erosi, yang pada akhirnya menyumbang banjir. Selain itu, perubahan
iklim membuat prediksi cuaca semakin sulit, sehingga sistem early warning dari
BMKG perlu diintegrasikan lebih baik dengan rencana Otorita.
Harapannya, dengan normalisasi sungai IKN dan revitalisasi
yang sedang berjalan, wilayah ini bisa menjadi contoh kota masa depan yang
hijau dan tangguh. Kerja sama dengan Monash University, misalnya, bisa membawa
teknologi seperti drainase pintar yang sudah terbukti di Australia. Pemerintah
juga perlu memastikan bahwa dana untuk mitigasi banjir dialokasikan cukup,
mengingat proyek IKN menelan triliunan rupiah.
Bagi masyarakat, banjir ini adalah pelajaran berharga. Warga
di sekitar IKN, yang jumlahnya semakin bertambah, harus aktif dalam program
edukasi. Saya percaya, jika semua pihak berkolaborasi, IKN bukan hanya akan
menjadi ibu kota baru, tapi juga model kota berkelanjutan di tengah ancaman
iklim.
Akhirnya, banjir di IKN ini mengingatkan kita semua bahwa
pembangunan harus selaras dengan alam. Otorita telah menunjukkan komitmen
dengan normalisasi dan revitalisasi sungai, tapi keberhasilan tergantung pada
implementasi yang konsisten. Mari kita pantau bersama perkembangannya, agar IKN
benar-benar menjadi nusantara yang aman dan sejahtera.





.webp)

