Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Sarawak Akan Kirim Listrik ke Brunei: Borneo Menuju Jaringan Energi Hijau ASEAN

Datuk Amar Dr Sim Kui Hian
Datuk Amar Dr Sim Kui Hian. Repro

KUCHING
-Pada 3 November 2025, di tengah hiruk-pikuk persiapan Anggaran Sarawak 2026, Wakil Perdana Menteri Datuk Amar Dr Sim Kui Hian menyampaikan pengumuman yang mengguncang lanskap energi regional: Sarawak akan segera menyuplai listrik antara 100 hingga 150 megawatt (MW) ke Brunei Darussalam. Ini bukan sekadar transaksi bisnis—melainkan langkah strategis yang mempercepat integrasi Borneo ke dalam ASEAN Power Grid, sekaligus memperkuat posisi Sarawak sebagai eksportir energi terbarukan nomor satu di Asia Tenggara. Bagi pulau yang selama ini terpecah oleh garis batas negara, pengumuman ini ibarat menyalakan lampu di koridor gelap konektivitas regional.

Pengumuman tersebut disampaikan Dr Sim dalam sidang Dewan Undangan Negeri Sarawak, saat membahas kemajuan Sarawak Energy Berhad (SEB). “Kami sudah menyuplai listrik ke Kalimantan Barat melalui jaringan West Kalimantan-Sarawak Link sejak 2016, dan ke Sabah via koneksi 275 kV. Kini giliran Brunei,” ujarnya dengan tegas. Proyek ini, yang ditargetkan operasional pada kuartal pertama 2026, akan memanfaatkan infrastruktur existing di Lawas dan Limbang, dengan tambahan interkoneksi bawah laut sepanjang 50 kilometer. Biaya proyek? Diperkirakan RM800 juta, sebagian besar didanai melalui obligasi hijau SEB.

Mengapa Brunei? Negara kaya minyak itu sedang menghadapi paradoks: cadangan hidrokarbon menipis, sementara permintaan listrik melonjak 5% per tahun akibat industrialisasi dan urbanisasi. Brunei Vision 2035 menargetkan 30% energi dari sumber terbarukan pada 2035—dan Sarawak, dengan kapasitas hidroelektrik 5.000 MW dari Bendungan Bakun, Murum, dan Baleh, menjadi mitra ideal. Lebih dari 70% listrik Sarawak berasal dari air, bukan batu bara atau gas. Ini bukan sekadar ekspor; ini transfer teknologi hijau.

Analisis mendalam mengungkap tiga lapisan implikasi yang saling terkait. Pertama, keamanan energi Borneo timur. Brunei selama ini bergantung pada pembangkit gas di Lumut dan Jerudong, yang rentan terhadap fluktuasi harga global. Dengan pasokan stabil dari Sarawak, Brunei bisa mengalihkan 20% kapasitas domestiknya untuk cadangan strategis. Dampak riaknya terasa hingga Sabah: jaringan interconnected ini memungkinkan aliran listrik darurat saat blackout, seperti yang pernah melanda Kota Kinabalu pada 2023.

Kedua, integrasi ke ASEAN Power Grid (APG). Sarawak bukan pemain baru. Sejak 2022, negara bagian ini telah menandatangani MoU dengan Laos dan Thailand untuk ekspor 1.000 MW via Laos-Thailand-Malaysia-Singapore Power Integration Project (LTMS-PIP). Kini, koneksi ke Brunei menjadi missing link yang menghubungkan jaringan barat (Malaysia-Indonesia) dengan timur (Brunei-Filipina). Menurut laporan ASEAN Centre for Energy, APG bisa menghemat US$10 miliar per tahun bagi kawasan melalui optimalisasi sumber daya. Sarawak, dengan surplus 2.000 MW hingga 2030, berada di posisi pole position.

Ketiga, sinergi dengan IKN Nusantara. Pemindahan ibu kota Indonesia ke Kalimantan Timur membutuhkan pasokan energi masif—diperkirakan 1.500 MW pada tahap awal. Meski IKN fokus pada PLTS dan microgrid, kebutuhan puncak malam hari sulit dipenuhi tanpa interkoneksi regional. Sarawak, yang hanya berjarak 800 km dari Nusantara via jalur laut, bisa menjadi penyangga kritis. Belum lagi rencana koridor ekonomi Pan-Borneo: jalan raya Serudong-Tawau-Simanggaris yang akan dibangun pada 2026 membutuhkan listrik untuk stasiun pengisian EV dan pusat logistik. Ekspor ke Brunei menjadi bukti kredibilitas Sarawak sebagai mitra energi IKN.

Namun, tantangan nyata mengintai. Infrastruktur bawah laut rentan terhadap kerusakan kapal atau gempa—seperti insiden kabel Laos-Thailand pada 2024. Selain itu, harga jual listrik ke Brunei (diperkirakan RM0.28 per kWh) harus kompetitif dengan gas domestik Brunei (RM0.22). “Kami tawarkan stabilitas dan kebersihan, bukan hanya harga,” kata Dr Sim. Isu lain: apakah Sarawak siap menghadapi kritik lingkungan dari bendungan besar? Aktivis Dayak di Kapit masih memprotes dampak sosial Bendungan Baleh.

Meski begitu, momentum tak terbendung. Sarawak Energy telah mengalokasikan RM2 miliar untuk ekspansi jaringan 2026-2030, termasuk studi kelayakan koneksi ke Kalimantan Utara via Tarakan. Jika sukses, model ini bisa direplikasi: Sabah menyuplai listrik ke Filipina Selatan, Kalimantan Barat ke Singapura via kabel bawah laut. Borneo tidak lagi pulau terisolasi—ia menjadi simpul energi ASEAN.

Bagi Brunei, ini langkah berani meninggalkan zona nyaman minyak. Bagi Sarawak, ini validasi visi “Energy for All”. Dan bagi IKN? Sebuah sinyal: masa depan Kalimantan tidak bisa berdiri sendiri. Saat lampu-lampu di Bandar Seri Begawan mulai menyala dengan tenaga air dari Bakun, Borneo memasuki era baru—bukan sebagai pengekspor komoditas, tapi sebagai pusat gravitasi energi hijau Asia Tenggara.

Pertanyaannya kini bukan apakah integrasi ini akan terjadi, tapi seberapa cepat kita bisa menyambungkan titik-titiknya. Sarawak telah menyalakan percikan. Siapa yang akan menyulut api berikutnya?

 

Also Read
Latest News
  • Sarawak Akan Kirim Listrik ke Brunei: Borneo Menuju Jaringan Energi Hijau ASEAN
  • Sarawak Akan Kirim Listrik ke Brunei: Borneo Menuju Jaringan Energi Hijau ASEAN
  • Sarawak Akan Kirim Listrik ke Brunei: Borneo Menuju Jaringan Energi Hijau ASEAN
  • Sarawak Akan Kirim Listrik ke Brunei: Borneo Menuju Jaringan Energi Hijau ASEAN
  • Sarawak Akan Kirim Listrik ke Brunei: Borneo Menuju Jaringan Energi Hijau ASEAN
  • Sarawak Akan Kirim Listrik ke Brunei: Borneo Menuju Jaringan Energi Hijau ASEAN
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad