![]() |
| Ilustrasi AI |
Nunukan, 24 November 2025 – Jalan Trans Kalimantan Utara (Kaltara), yang menjadi urat nadi transportasi di wilayah perbatasan, kembali menjadi sorotan. Longsor dahsyat yang melanda ruas jalan Sp.3 Apas Simanggaris STA 53+850 di kawasan Batu Mayau, Desa Sebulu, Kecamatan Tulin Onsoi, Kabupaten Nunukan, sejak Agustus lalu, masih belum menemui titik terang untuk perbaikan permanen. Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Wilayah I Kalimantan Utara mengungkapkan bahwa keterbatasan anggaran menjadi penghalang utama, meski upaya sementara terus dilakukan untuk menjaga kelancaran lalu lintas.
Peristiwa longsor ini terjadi pada Senin, 13 Agustus 2025,
akibat curah hujan ekstrem yang mengguyur wilayah tersebut. Hujan deras membuat
tanah tebing menjadi labil, sehingga material longsor menutupi sebagian besar
permukaan jalan. Kondisi ini bukan hanya mengganggu mobilitas warga setempat,
tapi juga berdampak pada rantai pasok barang antar-kabupaten di Kaltara. Dari
Nunukan hingga Malinau dan Tanjung Selor, jalan trans ini menjadi jalur vital
yang menghubungkan kegiatan ekonomi dan sosial masyarakat. Sudah hampir tiga
bulan berlalu, keluhan masyarakat tentang kondisi "mangkrak" jalan
ini semakin menggema, terutama di tengah musim hujan yang kian tak menentu.
Ahmad Zais, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 1.4 Satker PJN
Wilayah I Kalimantan Utara, yang mewakili BPJN Kaltara, menyampaikan penjelasan
mendalam melalui pernyataan resminya pada Minggu (23 November 2025).
"Untuk penanganan sementara di tahun 2025 ini, kami hanya melakukan
pembersihan material, pemasangan rambu, barrier, dan pemasangan bronjong untuk
mengantisipasi longsor susulan," ujar Zais. Ia menekankan bahwa
langkah-langkah ini diambil demi menjaga keselamatan pengguna jalan, meski
tidak menyelesaikan akar masalah secara permanen.
Longsor Dahsyat yang Mengguncang Akses Utama Jalan Trans Kaltara
Longsor di Batu Mayau bukanlah kejadian pertama di jalur
Trans Kaltara. Wilayah pegunungan Nunukan, dengan topografi curam dan curah
hujan tahunan yang mencapai ribuan milimeter, rentan terhadap bencana geologis
seperti ini. Pada Agustus 2025, hujan lebat selama berhari-hari memicu longsor
yang menimbun ratusan meter kubik tanah dan batu ke permukaan jalan. Akibatnya,
lebar jalan menyempit drastis, memaksa pengendara – terutama truk pengangkut
barang – untuk berhati-hati ekstra. Minimnya pembatas jalan membuat situasi
semakin berbahaya; pengendara sering kali tak sadar akan bahaya hingga
terlambat.
Keluhan masyarakat tak terbendung. Sopir truk yang melintas
rutin dari Nunukan ke Tarakan, misalnya, mengeluhkan risiko kecelakaan yang
meningkat. "Setiap hujan deras, jantung berdegup kencang. Rambu peringatan
sering hilang diterpa angin, dan tanpa barrier yang kuat, satu kesalahan kecil
bisa fatal," cerita salah seorang pengemudi yang enggan disebut namanya.
Kondisi ini juga memengaruhi ekonomi lokal; penundaan pengiriman komoditas
seperti kelapa sawit dan ikan segar berpotensi merugikan petani dan nelayan di
Kaltara.
BPJN tak tinggal diam. Tim teknis mereka telah memantau
lokasi secara intensif sejak longsor terjadi. Alat berat seperti ekskavator
selalu disiagakan di posko terdekat, siap beraksi jika ada longsor susulan.
Pada 23 November 2025, tim bahkan melakukan pengerjaan tambahan: pemasangan
empat plat seng sebagai tanda batas baru. "Ini agar lebih terlihat jelas
oleh pengendara, terutama di malam hari atau saat kabut tebal," tambah
Zais. Upaya ini, meski sederhana, menunjukkan komitmen BPJN untuk menjaga
fungsionalitas jalan di tengah keterbatasan.
Upaya Sementara di Tengah Keterbatasan Anggaran BPJN
Kendala utama, seperti yang diungkap Zais, adalah efisiensi
anggaran tahun 2025. "Aktivitas pekerjaan fisik permanen belum dapat
dilakukan tahun ini karena keterbatasan dan efisiensi anggaran," katanya
tegas. Dana yang tersedia lebih diprioritaskan untuk preservasi pemeliharaan
rutin jalan nasional lainnya, serta persiapan jalur khusus menjelang libur
Natal dan Tahun Baru. Di tengah tekanan fiskal nasional pasca-pandemi dan
fluktuasi harga bahan bakar, alokasi untuk infrastruktur daerah seperti Kaltara
memang sering kali terjepit.
Pemasangan rambu dan barrier pun tak luput dari tantangan.
Zais mengaku, "Untuk pemasangan rambu, kami sudah maksimal. Beberapa kali
kami pasang, rambu tersebut hilang diterpa angin pada saat hujan." Meski
demikian, BPJN terus berupaya. Bronjong – anyaman kawat berisi batu untuk
menahan erosi – dipasang di lereng tebing untuk mencegah longsor tambahan.
Langkah ini, walau temporer, telah membantu mengurangi frekuensi gangguan lalu
lintas.
Dari perspektif lebih luas, isu anggaran ini mencerminkan
tantangan infrastruktur di Kalimantan Utara. Sebagai provinsi muda yang
dibentuk tahun 2012, Kaltara bergantung pada jalan trans untuk pertumbuhan
ekonomi. Data Kementerian PUPR menunjukkan bahwa panjang jaringan jalan
nasional di Kaltara mencapai sekitar 1.200 kilometer, dengan sebagian besar
berada di medan sulit. Longsor seperti di Batu Mayau bukan hanya bencana alam,
tapi juga pengingat akan urgensi investasi berkelanjutan.
Harapan Perbaikan Permanen Jalan Trans Kaltara pada 2026
Meski tahun ini terbatas pada solusi darurat, BPJN punya
rencana jangka panjang. Zais menjanjikan kajian teknis menyeluruh dan desain
perbaikan akan dimulai pada Tahun Anggaran 2026. "Kajian dan desain
tersebut baru dapat dilaksanakan di Tahun Anggaran 2026. Semoga setelah desain
selesai, dapat diikuti dengan penanganan longsoran yang permanen di tahun
anggaran yang sama," harapnya.
Proses ini melibatkan analisis geoteknik mendalam, termasuk
pemantauan kestabilan tanah dan desain struktur penahan longsor modern, seperti
dinding gabion atau drainase canggih. Jika terealisasi, perbaikan permanen di
STA 53+850 ini tak hanya mengatasi longsor saat ini, tapi juga mencegah
kejadian serupa di masa depan. Bagi masyarakat Nunukan, ini adalah kabar
gembira di tengah kekecewaan.
Zais tak lupa menyampaikan permohonan maaf. "Mohon maaf
atas ketidaknyamanan masyarakat pengguna jalan pada saat melintas di lokasi
tersebut. Di tengah keterbatasan anggaran tahun ini, kami tetap berupaya agar
jalan tersebut tetap bisa fungsional." Pernyataan ini mencerminkan sikap
rendah hati pejabat yang paham betul beban tanggung jawabnya.
Dampak Ekonomi dan Sosial: Mengapa Jalan Trans Kaltara Harus Segera Diperbaiki?
Longsor di jalan Trans Kaltara bukan sekadar masalah teknis;
ia menyentuh denyut nadi kehidupan warga. Di Nunukan, yang berbatasan dengan
Malaysia, jalan ini menjadi pintu gerbang perdagangan lintas batas. Penundaan
perbaikan berpotensi menaikkan biaya logistik hingga 20-30%, menurut estimasi
sederhana dari asosiasi pengusaha lokal. Petani sawit di Malinau, misalnya,
harus mengalihkan rute alternatif yang lebih panjang, menambah waktu tempuh
hingga dua hari.
Secara sosial, akses pendidikan dan kesehatan juga
terganggu. Anak-anak di Desa Sebulu kesulitan menjangkau sekolah di pusat
kecamatan, sementara pasien darurat sering terhambat. Pemerintah daerah Kaltara
telah berkoordinasi dengan BPJN, mendorong percepatan anggaran melalui usulan
ke Kementerian Keuangan. "Kami harap dukungan pusat lebih masif untuk
infrastruktur perbatasan," kata seorang anggota DPRD Nunukan yang menolak
dikutip namanya.
Di tengah itu semua, semangat gotong royong warga patut
diapresiasi. Beberapa kelompok relawan setempat ikut membersihkan material
longsor secara sukarela, meski risikonya tinggi. Ini menjadi pengingat bahwa
pembangunan tak hanya urusan pemerintah, tapi juga tanggung jawab bersama.
BPJN Kaltara tak berhenti di janji. Selain kajian 2026, mereka berencana mengintegrasikan teknologi pemantauan dini, seperti sensor getaran tanah, untuk jalur rawan longsor lainnya. Kolaborasi dengan BMKG juga akan ditingkatkan guna prediksi cuaca lebih akurat. Jika anggaran nasional membaik – didorong oleh pertumbuhan ekonomi pasca-reformasi pajak – perbaikan jalan Trans Kaltara bisa menjadi model sukses untuk daerah lain.
Bagi pembaca yang sering melintas di wilayah ini, tetap
waspada adalah kunci. Patuhi rambu lalu lintas, hindari kecepatan tinggi saat
hujan, dan laporkan kerusakan melalui hotline PUPR di 1500-009. Hanya dengan
kesadaran kolektif, jalan Trans Kaltara bisa kembali menjadi simbol kemajuan
Kaltara.
Pemerintah pusat dan daerah diharapkan segera bertindak.
Longsor di Batu Mayau adalah panggilan darurat: infrastruktur aman adalah
investasi untuk generasi mendatang. Semoga 2026 membawa angin segar bagi warga
Nunukan dan sekitarnya.







