![]() |
| Ilustrasi AI |
Pontianak – Minggu ini, Kalimantan Barat (Kalbar) diterpa
serangkaian peristiwa yang menggugat penegakan hukum dan moralitas masyarakat.
Dari demonstrasi mahasiswa yang menuntut pengusutan korupsi hingga kakek
residivis yang nekat mengirim sabu ke Surabaya, berbagai kasus mencuri
perhatian. Berikut rangkuman Kalbar Sepekan yang dikumpulkan tim Hi!Pontianak,
mengungkap sisi gelap di balik kebhinekaan Bumi Kadtu.
- Demo
di Kejati Kalbar: Mahasiswa PMII Desak Usut Tuntas Kasus Korupsi yang
Menggerogoti Daerah
Suasana panas menyelimuti Kantor Kejaksaan Tinggi (Kejati)
Kalbar pada Jumat (7/11/2025). Puluhan kader Pengurus Koordinator Cabang (PKC)
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kalbar menggelar aksi demonstrasi
bertajuk 'PMII Kalbar Menggugat', mendesak pengusutan tuntas dugaan kasus
korupsi di provinsi tersebut. Aksi dimulai pukul 13.00 WIB di Taman Digulis
Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, kemudian bergerak ke Kejati dengan
spanduk dan yel-yel yang menggelegar: "Korupsi Merajalela, Hukum Mana yang
Adil?"
Massa dari berbagai cabang PMII se-Kalbar menyoroti
kasus-kasus yang diduga melibatkan pejabat daerah, mulai dari pengadaan
infrastruktur hingga pengelolaan dana desa. "Kami desak Kejati Kalbar usut
tuntas! Jangan biarkan korupsi ini merampok masa depan rakyat Kalbar,"
teriak koordinator aksi, Andi Rahman. Sayangnya, hingga aksi bubar pukul 16.00
WIB, Kepala Kejati tak kunjung menemui. "Ini bukti penegakan hukum masih
mandul. Kami tak akan berhenti," tegas Andi. Aksi ini menjadi panggilan
darurat bagi aparat untuk membersihkan birokrasi dari praktik KKN yang
merajalela.
- Tergiur
Upah Rp500 Ribu, Kakek Residivis di Kubu Raya Kirim 21 Gram Sabu ke
Surabaya via Kargo Supadio
Nekat dan licik, begitu julukan bagi SN (61), kakek asal
Kubu Raya yang nekat mengirim 21 gram sabu melalui kargo Bandara Supadio pada
Rabu (29/10/2025). Paket mencurigakan itu terendus Tim K9 Bea Cukai, yang
mendeteksi aroma tersembunyi di balik kemasan rapi tujuan Surabaya. "SN
dikenal licik dan berhati-hati, residivis kasus serupa. Ia selalu ganti nomor
telepon pengirim untuk elak pelacakan," ungkap Kasatres Narkoba Polres
Kubu Raya, AKP Sagi, melalui Kasubsi Penmas Aiptu Ade, Selasa (4/11/2025).
Tergiur imbalan Rp500 ribu, SN mengemas sabu dalam bungkusan
khusus agar lolos scanner. Polisi langsung bergerak cepat, menangkapnya tanpa
perlawanan di rumah Jalan Imam Bonjol, Pontianak, pada Kamis (30/10/2025).
"Ini bukti peredaran narkoba tak pandang usia. Kami intensifkan razia di
bandara," kata AKP Sagi. Kasus ini menjadi peringatan: bahkan lansia pun
bisa jadi pion dalam jaringan gelap yang merusak generasi muda Kalbar.
- Robohnya
2 Ruko di Pasar Tengah Pontianak: Edi Kamtono Sebut Akibat Pencurian
Material Bangunan
Guncangan pagi menimpa Pasar Tengah Pontianak saat dua unit
ruko di Jalan Indragiri Barat, belakang Warung Kopi Suka Hati, ambruk pukul
08.45 WIB, Jumat (7/11/2025). Untung tak ada korban jiwa, tapi kerugian
mencapai puluhan juta. Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, langsung turun
ke lokasi, berbincang dengan penjaga malam dan warga. "Dari keterangan
warga, ini akibat pencurian bahan bangunan seperti kayu dan papan
penyangga," ujar Edi usai inspeksi.
Pencuri diduga memanfaatkan malam hari untuk membongkar
struktur utama, meninggalkan bangunan rapuh. "Ironis, di tengah kota,
maling material bangunan masih beraksi. Kami perkuat patroli dan edukasi
warga," tegas Edi. Kejadian ini memicu kekhawatiran keselamatan di kawasan
perdagangan ramai, sekaligus sorotan bagi penegakan hukum terhadap kejahatan
kecil yang berdampak besar.
- Tragis
di Sungai Pinyuh: Kakak Temukan Kerangka Adiknya Hilang 50 Hari di Hutan
Belakang Rumah
Heboh menyelimuti Kelurahan Sungai Pinyuh, Kecamatan Sungai
Pinyuh, Kabupaten Mempawah, saat kerangka manusia ditemukan Jumat pagi
(7/11/2025). Kerangka itu milik Lie Bun Kong (55), hilang sejak September 2025
atau sekitar 50 hari lalu. Penemunya adalah kakak kandungnya sendiri, Ciu Fa
(67), saat mencari belimbing wuluh di hutan belakang rumah pukul 07.00 WIB.
Kapolres Mempawah, AKBP Jonathan David Harianthono, melalui
Kapolsek Sungai Pinyuh AKP Setyadi, mengungkap kronologi: "Saksi mencium
bau bangkai dan mendapati sosok mayat yang hanya nampak tulang kaki sudah
mengering, telungkup di kubangan air lumpur samping gorong-gorong." Tim
Inafis langsung olah TKP, tapi identitas dikonfirmasi melalui DNA. "Kami
selidiki penyebab kematian, apakah kecelakaan atau kriminal," kata AKP
Setyadi. Tragedi ini menyisakan duka mendalam bagi keluarga, sekaligus ingatkan
warga untuk waspada di area hutan rawan.
- Polisi
Ungkap Penyelewengan Ribuan Liter Solar Subsidi di Singkawang dan
Ketapang: 2 Tersangka Ditahan
Penyalahgunaan BBM bersubsidi kembali terbongkar.
Dirreskrimsus Polda Kalbar menetapkan dua tersangka, T dan A, dalam kasus
penyelewengan solar di Singkawang dan Ketapang. Keduanya kini meringkuk di
Rutan Polda Kalbar. "Untuk Singkawang, kami amankan 21 jeriken plastik
biru berisi 680 liter biosolar, plus satu Toyota Hilux putih," ujar
Kasubdit Tipidter, Kompol Michael Terry Hendrata, Selasa (4/11/2025).
Di Ketapang, polisi gagalkan pengangkutan 4.600 liter solar
subsidi dengan satu pikap Grand Max hitam, berisi 88 jeriken 33 liter dan dua
baby tank 1.000 liter. "Barang bukti dititipkan di polres setempat untuk
percepat penyidikan," jelas Kompol Michael. Kasus ini bagian dari operasi
besar Polda untuk basmi mafia BBM, yang rugikan negara miliaran. "Subsidi
untuk rakyat kecil, bukan untuk dijual gelap," tegasnya.
Sepekan ini, Kalbar seperti cermin nasional: korupsi,
narkoba, kriminalitas, dan tragedi manusiawi. Dari desakan mahasiswa hingga
penangkapan kakek sabu, peristiwa ini ungkap urgensi reformasi hukum. Di Bumi
Kadtu, harapan tetap ada: penegak hukum harus gerak cepat, masyarakat waspada,
dan pemerintah responsif. Kalbar Sepekan bukan sekadar berita, tapi panggilan
untuk perubahan.





.webp)

