![]() |
| Ilustrasi AI |
IKN – Dalam upaya mempercepat pembangunan Ibu Kota Nusantara
(IKN) sebagai kota masa depan yang berkelanjutan, Otorita IKN menyambut baik
komitmen pemerintah Korea Selatan. Hibah proyek pasokan air bersih dan pusat
korporasi smart city dari negeri ginseng ini dijadwalkan mulai digarap pada
awal 2026. Kerja sama ini tidak hanya menjanjikan infrastruktur vital bagi
ribuan warga calon ibu kota, tapi juga memperkuat ikatan bilateral kedua negara
di tengah tantangan perubahan iklim global.
Pertemuan koordinasi antara Otorita IKN dan Pemerintah Korea
Selatan digelar baru-baru ini di Jakarta, menjadi tonggak penting bagi proyek
hibah tersebut. Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, menyatakan apresiasinya
atas dukungan ini. "Terima kasih atas kunjungannya. Kami menantikan proyek
ini segera berjalan dan memberikan manfaat nyata bagi pembangunan IKN,"
ujar Basuki dalam pertemuan tersebut, seperti dikutip dari sumber resmi Otorita
IKN.
Proyek ini mencakup dua komponen utama: fasilitas pasokan
air bersih (water supply) dan pusat korporasi smart city. Fasilitas air bersih
dirancang untuk memastikan ketersediaan sumber daya air yang aman dan
berkualitas bagi penduduk IKN, yang diproyeksikan mencapai puluhan ribu jiwa
dalam waktu dekat. Sementara itu, pusat smart city akan mengintegrasikan
teknologi canggih untuk pengelolaan kota yang efisien, termasuk sistem
monitoring lingkungan dan layanan publik berbasis data.
Menurut Acting Ambassador Kedutaan Besar Republik Korea
untuk Republik Indonesia, Park Soo-deok, yang hadir dalam pertemuan, tim teknis
Korea akan segera bergerak. "Dua minggu lagi tim teknis kami akan segera
ke IKN untuk membahas kembali kelanjutannya," katanya. Langkah ini
menandakan tahap perencanaan proyek pemurnian air (water purification) yang
kini memasuki fase krusial. Pemerintah Korea akan mengirimkan lembaga teknis
khusus untuk diskusi mendalam dan penyelarasan rencana kerja di lapangan.
Hibah ini datang di saat yang tepat bagi IKN, yang terus
menarik perhatian investor global sejak digagas Presiden Joko Widodo pada 2019.
Hingga akhir 2025, progres pembangunan IKN telah mencapai 60% untuk
infrastruktur dasar, termasuk jalan raya, gedung pemerintahan, dan kawasan
hijau. Namun, tantangan utama tetap pada penyediaan utilitas esensial seperti
air bersih, yang krusial untuk mendukung relokasi ASN dan pertumbuhan ekonomi.
Data dari Kementerian PUPR menunjukkan bahwa IKN membutuhkan kapasitas air hingga
1.000 liter per detik untuk tahap awal, dan proyek hibah Korea ini diharapkan
menutup sebagian besar kebutuhan tersebut.
Kolaborasi Indonesia-Korea Selatan bukanlah yang pertama.
Sejak era Soeharto, kedua negara telah menjalin hubungan erat di bidang
infrastruktur, dengan Korea menjadi mitra utama dalam proyek-proyek seperti MRT
Jakarta dan pembangkit listrik. Pada 2024 saja, nilai investasi Korea di
Indonesia mencapai Rp 150 triliun, mayoritas di sektor manufaktur dan energi
terbarukan. Proyek IKN ini melanjutkan momentum itu, sekaligus menyoroti
komitmen Korea dalam agenda Green New Deal-nya, yang menekankan teknologi ramah
lingkungan.
Dari sisi manfaat, proyek air bersih ini akan menjadi pilar
utama bagi visi IKN sebagai kota hutan yang berkelanjutan. Dengan luas lahan
hijau mencapai 70% dari total 256.000 hektare, IKN rentan terhadap isu
kekeringan musiman. Fasilitas pemurnian air dari Korea, yang memanfaatkan
teknologi membran canggih, diharapkan mampu mengolah air tanah dan sungai
setempat menjadi sumber minum layak konsumsi. Ini sejalan dengan target
Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 6 tentang air bersih dan sanitasi,
yang menjadi prioritas pemerintah Indonesia.
Lebih lanjut, integrasi smart city corporation center akan
memungkinkan pengelolaan terintegrasi. Bayangkan sensor IoT yang memantau
kualitas air secara real-time, dikombinasikan dengan AI untuk prediksi
kebutuhan harian. "Proyek ini akan memperkuat ekosistem kolaborasi
strategis untuk pengembangan Nusantara di sektor pasokan air bersih dan smart
city," tambah Basuki, menekankan dampak jangka panjang bagi ekonomi lokal.
Diperkirakan, proyek ini bisa menciptakan ribuan lapangan kerja sementara selama
konstruksi, serta mendukung UMKM di Kalimantan Timur.
Namun, tantangan tetap ada. Koordinasi antarlembaga dan
adaptasi teknologi Korea dengan kondisi tropis Indonesia memerlukan perencanaan
matang. Tim teknis Korea yang tiba dua minggu mendatang akan fokus pada survei
lapangan, termasuk analisis geologi dan hidrologi di kawasan Penajam Paser
Utara dan Kutai Kartanegara. Pembangunan fisik dijadwalkan dimulai Januari
2026, dengan target operasional penuh pada akhir 2027, seiring dengan gelombang
kedua relokasi pegawai negeri.
Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri,
menyambut hibah ini sebagai bentuk diplomasi ekonomi yang efektif. "Kerja
sama ini membuktikan bahwa IKN bukan hanya proyek nasional, tapi juga magnet
bagi kemitraan internasional," kata seorang pejabat senior. Sementara itu,
di tingkat masyarakat, antusiasme terlihat dari komunitas lokal yang berharap
proyek ini membuka peluang pendidikan dan pelatihan teknologi.
Melihat ke depan, hibah Korea ini bisa menjadi model bagi
negara lain. Jepang, misalnya, telah menyumbang Rp 5 triliun untuk kereta cepat
IKN, sementara Cina terlibat di sektor energi. Dengan total investasi IKN
mencapai Rp 466 triliun hingga 2024, kontribusi asing seperti ini krusial untuk
mengurangi beban APBN.
Secara keseluruhan, proyek hibah air bersih dan smart city
dari Korea Selatan menjanjikan babak baru bagi IKN. Bukan hanya soal pipa dan
sensor, tapi tentang membangun fondasi kota yang adil, hijau, dan inovatif.
Saat pembangunan dimulai awal 2026, Nusantara akan semakin dekat dengan impian
menjadi pusat peradaban baru Asia Tenggara. Bagi warga Indonesia, ini adalah
pengingat bahwa kolaborasi global bisa mewujudkan visi besar di tanah air
sendiri.







