Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Menyeimbangkan Ekonomi, Kesejahteraan, dan Kelestarian Alam dalam RKPD

 

Ilustrasi AI

TANJUNG SELOR, 1 Oktober 2025 – Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara (Pemprov Kaltara) menetapkan arah pembangunan 2026 melalui Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) dengan tema "Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Inklusif Berbasis Optimalisasi Potensi Daerah". Fokus utama adalah menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pemerataan kesejahteraan, dan pelestarian lingkungan, sesuai dengan visi jangka panjang Kaltara sebagai "Beranda Depan NKRI yang Maju, Makmur, dan Berkelanjutan" dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) 2025-2045. Wakil Gubernur Kaltara, Ingkong Ala, S.E., M.Si., menegaskan bahwa pembangunan harus menjangkau masyarakat di wilayah perbatasan, pesisir, dan pedalaman tanpa mengorbankan ekosistem alam yang menjadi kekuatan provinsi ini.

Dalam keterangannya pada Senin (29/9/2025), Ingkong Ala menyoroti pentingnya pendekatan holistik yang memadukan aspek sosial, budaya, dan ekologis. "Pembangunan bukan hanya soal angka ekonomi, tapi juga memastikan akses masyarakat terhadap pendidikan, informasi, dan teknologi, sehingga transformasi berjalan adil dan inklusif," ujarnya di sela-sela forum internal Pemprov Kaltara. Forum tersebut, yang melibatkan perangkat daerah, akademisi, dan pemangku kepentingan, menjadi wadah penyusunan RKPD 2026 yang terintegrasi dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025-2029. Acara ini juga dibuka oleh Pelaksana Harian Sekretaris Daerah Provinsi, Dr. Bustan, S.E., M.Si., pada Maret 2025, dengan penekanan pada sinkronisasi delapan program unggulan dengan prioritas nasional Asta Cita dan delapan Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) pemerintah pusat.

Delapan Pilar Pembangunan Kaltara 2026

RKPD 2026 mengusung delapan program prioritas yang dirumuskan berdasarkan isu strategis daerah, visi-misi Gubernur Zainal Arifin Paliwang dan Wakil Gubernur Ingkong Ala, serta kebutuhan nasional menuju Indonesia Emas 2045. Pertama, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang sehat, cerdas, dan setara gender, dengan alokasi Rp150 miliar untuk fasilitas pendidikan dan kesehatan di wilayah perbatasan seperti Nunukan dan Malinau. Program unggulan seperti Gratis Pol (pendidikan dan kesehatan gratis) telah berhasil menurunkan angka putus sekolah sebesar 15% pada 2024. Kedua, pembangunan kawasan perbatasan, dengan anggaran Rp500 miliar untuk mempercepat konektivitas jalan lintas batas Indonesia-Malaysia guna mendukung ekonomi dan keamanan wilayah.

Program ketiga, peningkatan produktivitas ekonomi kerakyatan dan pedesaan, berfokus padaEOSystem: pada UMKM berbasis potensi lokal, seperti pertanian organik Krayan dan perikanan tangkap Tarakan, yang diproyeksikan menyerap 10.000 tenaga kerja baru dalam dua tahun. Keempat, pengembangan sektor pangan dan agribisnis berkelanjutan menargetkan peningkatan produksi beras Krayan sebesar 20% melalui irigasi modern dan sertifikasi organik. Kelima, pembangunan ekonomi hijau dan biru menekankan kehutanan lestari, energi terbarukan seperti biomassa dari limbah sawit, serta perikanan dan ekowisata pesisir yang inklusif, sesuai definisi nasional ekonomi hijau rendah karbon dan ekonomi biru berbasis sumber daya laut.

Keenam, gerakan bersama membangun pariwisata dan budaya mengalokasikan Rp100 miliar untuk mempromosikan Taman Nasional Kayan Mentarang dan festival budaya Dayak, dengan target kunjungan wisatawan naik 25%. Ketujuh, percepatan konektivitas antarwilayah mencakup pembangunan 200 km jalan provinsi, termasuk ruas Tanjung Selor-Tarakan yang mencapai kelengkapan fisik 85% pada 2024. Terakhir, peningkatan tata kelola pemerintahan yang kolaboratif dan inovatif melalui digitalisasi layanan publik diharapkan meningkatkan efisiensi anggaran hingga 10%.

Sinergi Lintas Sektor untuk Dampak Nyata

Ingkong Ala menegaskan bahwa keberhasilan delapan program ini bergantung pada kolaborasi antara Pemerintah Pusat, provinsi, kabupaten/kota, dan masyarakat. "Pembangunan harus cepat, merata, dan berdampak langsung bagi semua lapisan masyarakat," katanya. Kolaborasi ini diperkuat melalui forum lintas perangkat daerah, dengan kontribusi riset dari Universitas Kaltara dan investasi swasta untuk infrastruktur. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 5,5% pada 2026 jika program ini berjalan optimal.

Tantangan dan Proyeksi Dampak

Meski ambisius, RKPD 2026 menghadapi tantangan seperti biaya pembangunan infrastruktur di medan berbukit dan hutan lebat, serta fluktuasi harga komoditas perbatasan. Namun, dengan APBD 2026 sebesar Rp4,5 triliun—naik 12% dari 2025—dan dana transfer pusat Rp3 triliun, program ini memiliki potensi besar. Ekonomi hijau dapat menghasilkan devisa Rp200 miliar dari produk lestari seperti madu hutan dan ikan berkelanjutan, sementara ekonomi biru berpotensi menciptakan 5.000 lapangan kerja di sektor perikanan. Secara keseluruhan, RKPD 2026 diharapkan menurunkan angka kemiskinan dari 8% menjadi 6% dan meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) hingga 75 poin.

Kaltara Menuju Masa Depan Berkelanjutan

Di bawah kepemimpinan Gubernur Zainal Arifin Paliwang dan Wakil Gubernur Ingkong Ala, yang dilantik Presiden Prabowo Subianto pada Februari 2025, RKPD 2026 menjadi tonggak menuju Kaltara yang maju dan inklusif. Program ini tidak hanya menggerakkan roda ekonomi, tetapi juga menjaga harmoni sosial dan lingkungan, dengan hutan 70% dan garis pantai 1.000 km sebagai aset utama. "Kaltara Hijau adalah komitmen untuk generasi mendatang, di mana pembangunan ekonomi berjalan seiring pelestarian alam," ujar Ingkong Ala. Dengan pengesahan RKPD paling lambat Juni 2026, Kaltara berpotensi menjadi model pembangunan berkelanjutan nasional.

 

Also Read
Latest News
  • Menyeimbangkan Ekonomi, Kesejahteraan, dan Kelestarian Alam dalam RKPD
  • Menyeimbangkan Ekonomi, Kesejahteraan, dan Kelestarian Alam dalam RKPD
  • Menyeimbangkan Ekonomi, Kesejahteraan, dan Kelestarian Alam dalam RKPD
  • Menyeimbangkan Ekonomi, Kesejahteraan, dan Kelestarian Alam dalam RKPD
  • Menyeimbangkan Ekonomi, Kesejahteraan, dan Kelestarian Alam dalam RKPD
  • Menyeimbangkan Ekonomi, Kesejahteraan, dan Kelestarian Alam dalam RKPD
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad