Pagi cerah di Kota Palangka Raya membawa
suasana berbeda di beberapa Taman Kanak-Kanak. Anak-anak usia dini berlarian
riang di halaman sekolah, sebagian sibuk menggambar, sementara lainnya
bernyanyi bersama guru mereka. Di tengah keceriaan itu hadir sosok yang memberi
perhatian lebih: Bunda PAUD Kalimantan Tengah, Aisyah Thisia Agustiar Sabran.
Kunjungannya ke TK Bakuwu, TK Sinar Surya, dan TK ABA menjadi bagian dari misi
besar: memastikan anak-anak di Kalimantan Tengah mendapatkan pendidikan terbaik
sejak usia dini.
Kunjungan ini bukanlah sekadar agenda
seremonial. Ia adalah langkah nyata untuk mengingatkan masyarakat bahwa usia
0–6 tahun adalah periode emas pertumbuhan anak. Pada masa inilah otak
berkembang dengan sangat cepat, kepribadian mulai terbentuk, dan kemampuan
sosial-emosional diasah. Tanpa stimulasi yang tepat, periode ini bisa lewat
begitu saja tanpa bekal optimal bagi masa depan anak.
Masa Emas Anak: Pondasi Kehidupan
Dalam setiap kesempatan, Aisyah menegaskan
bahwa pendidikan anak usia dini (PAUD) bukan hanya soal mengenal huruf dan
angka. Lebih dari itu, PAUD adalah wadah untuk membentuk karakter, kemandirian,
etika sosial, serta kemampuan beradaptasi. Anak-anak belajar berbagi, bekerja
sama, disiplin, dan berani mengekspresikan diri.
“Anak usia dini adalah generasi penerus
bangsa. Usia 0–6 tahun merupakan masa emas (golden age) di mana anak sangat
cepat menyerap pengetahuan dan meniru perilaku,” ucap Aisyah di hadapan para
guru dan orang tua.
Pernyataan ini menegaskan betapa pentingnya
investasi di bidang pendidikan sejak dini. Jika anak mendapatkan stimulasi dan
pembelajaran yang tepat pada periode emas, maka ia memiliki peluang lebih besar
untuk tumbuh menjadi pribadi cerdas, berkarakter, dan berdaya saing.
Peran Bunda PAUD: Menyapa Hingga Tingkat Desa
Program Bunda PAUD di Kalimantan Tengah
bukan hanya berhenti di tingkat provinsi. Dukungan pemerintah mendorong
hadirnya Bunda PAUD hingga tingkat kabupaten, kecamatan, bahkan desa dan
kelurahan. Plt Sekretaris Daerah Kalteng, Leonard S. Ampung, menegaskan bahwa
kehadiran Bunda PAUD di akar rumput sangat penting.
Menurutnya, Bunda PAUD adalah motor
penggerak kesadaran masyarakat. Dengan keterlibatan figur ini, pesan tentang
pentingnya pendidikan anak usia dini lebih mudah diterima oleh orang tua.
“Kesadaran orang tua adalah kunci. Kalau orang tua paham pentingnya PAUD,
anak-anak tidak akan tertinggal dalam memulai pendidikan formal,” jelas
Leonard.
Wajib Belajar Pra-Sekolah: Mencegah Anak Tertinggal
Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah juga
meluncurkan program wajib belajar pra-sekolah selama satu tahun. Program ini
dirancang untuk memastikan setiap anak mendapatkan pengalaman pendidikan
sebelum masuk ke sekolah dasar.
Kebijakan ini lahir dari keprihatinan masih adanya anak-anak yang langsung masuk SD tanpa pernah mengenal bangku PAUD. Akibatnya, mereka kerap kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah, baik dari sisi akademik maupun sosial. Dengan adanya wajib belajar pra-sekolah, diharapkan seluruh anak memiliki kesiapan mental, emosional, dan kognitif sebelum melangkah ke jenjang lebih tinggi.
Meski program terus digenjot, jalan yang
ditempuh tidak selalu mulus. Di banyak daerah terpencil, fasilitas PAUD masih
terbatas. Ada lembaga yang hanya memiliki satu ruang kelas seadanya, dengan
peralatan belajar yang minim. Guru-guru PAUD pun sebagian besar masih
membutuhkan peningkatan kapasitas, baik dari sisi metodologi pembelajaran
maupun keterampilan dalam menangani anak usia dini.
Selain itu, kesadaran orang tua masih
menjadi tantangan besar. Tidak sedikit yang beranggapan bahwa anak usia dini
tidak perlu sekolah formal karena dianggap “hanya bermain”. Padahal bermain
justru merupakan metode utama untuk menstimulasi perkembangan anak.
Pemerintah daerah bersama Bunda PAUD terus
melakukan sosialisasi agar orang tua memahami bahwa PAUD bukan membebani anak,
melainkan memberikan ruang tumbuh yang sesuai dengan tahap perkembangan mereka.
Kunjungan Lapangan: Dari Anak untuk Masa Depan
Dalam kunjungannya ke TK, Aisyah tampak
aktif berinteraksi dengan anak-anak. Ia menyapa dengan ramah, mendengarkan
celoteh polos, bahkan ikut bernyanyi bersama mereka. Kehadirannya memberi
semangat bagi guru dan orang tua. “Saya merasa anak-anak di sini penuh potensi.
Mereka hanya butuh bimbingan yang tepat,” katanya.
Di salah satu kelas, ia menyaksikan
anak-anak sedang belajar mewarnai sambil bercerita. Aktivitas sederhana ini
sebenarnya melatih banyak hal sekaligus: kreativitas, konsentrasi, serta
kemampuan bahasa. Aisyah pun menekankan bahwa setiap aktivitas di PAUD harus
didesain untuk menstimulasi perkembangan anak secara menyeluruh.
Generasi Emas 2045: Visi Jangka Panjang
Kalimantan Tengah menempatkan PAUD sebagai
bagian dari strategi menyongsong Generasi Emas Indonesia 2045. Anak-anak yang
saat ini berusia dini akan tumbuh dewasa dan mencapai usia produktif pada tahun
2045, tepat ketika Indonesia merayakan satu abad kemerdekaan.
“Jika sejak sekarang mereka dibekali
pendidikan berkualitas, kita bisa berharap lahirnya generasi yang sehat,
cerdas, berkarakter, dan mampu bersaing di dunia global,” ujar Aisyah.
Pernyataan ini menggambarkan visi jangka panjang: membangun masa depan bangsa dimulai dari ruang kelas sederhana PAUD di desa-desa dan kota kecil Kalimantan Tengah.
Peran Guru dan Masyarakat
Guru PAUD disebut sebagai ujung tombak.
Tanpa dedikasi mereka, program sebesar apa pun sulit berjalan. Karena itu,
pemerintah provinsi berkomitmen memberikan pelatihan dan peningkatan kapasitas
bagi guru PAUD agar mereka mampu mengikuti perkembangan kurikulum dan metode
terbaru.
Selain guru, peran masyarakat juga krusial.
Dukungan komunitas lokal dalam bentuk gotong royong memperbaiki fasilitas
sekolah, membantu menyediakan bahan ajar, atau sekadar ikut menjaga lingkungan
belajar yang nyaman, sangat berarti bagi kelangsungan pendidikan anak usia
dini.
Deklarasi semangat PAUD di Kalimantan
Tengah menunjukkan bahwa pendidikan anak usia dini bukan lagi urusan sampingan,
melainkan prioritas utama pembangunan manusia. Dari desa terpencil di pedalaman
hingga pusat kota Palangka Raya, komitmen yang sama digaungkan: jangan sampai
periode emas anak terlewat begitu saja.
Tantangan memang ada, tetapi dengan sinergi
pemerintah, guru, orang tua, dan masyarakat, harapan besar itu bisa terwujud.
Jika setiap anak mendapatkan pendidikan terbaik sejak dini, maka Kalimantan
Tengah tidak hanya mencetak siswa cerdas, tetapi juga manusia-manusia yang
berkarakter kuat, peduli, dan siap memimpin bangsa di masa depan.
Kunjungan Bunda PAUD ke sekolah-sekolah
hanyalah potongan kecil dari perjuangan panjang. Namun dari interaksi sederhana
itu, terpatri keyakinan bahwa masa depan Kalimantan Tengah sedang disemai hari
ini. Anak-anak yang duduk di bangku kecil PAUD akan tumbuh menjadi generasi
emas yang membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik.
Sebagaimana
pepatah, “Butuh satu desa untuk membesarkan seorang anak.” Maka butuh seluruh
Kalimantan Tengah untuk membesarkan generasi emasnya.







