Mempawah, Kalimantan Barat — Di tengah hamparan hijau
perbukitan Desa Sepang Tokong, Kecamatan Toho, Wakil Presiden Gibran Rakabuming
Raka berdiri di hadapan masyarakat adat Dayak dan Pasukan Merah Tariu Borneo
Bangkule Rajakng (TBBR). Bukan sekadar kunjungan kerja, kehadiran Gibran pada
Sabtu, 23 Agustus 2025, menjadi momentum penting: menyatukan visi pendidikan
inklusif dan pelestarian budaya lokal dalam satu napas pembangunan.
Dalam suasana hangat dan penuh harap, Gibran menyampaikan
komitmen pemerintah untuk membangun dua jenis sekolah di Kabupaten Mempawah:
Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda Unggulan. Dua program ini dirancang untuk
menjembatani kesenjangan pendidikan antara Jawa dan Kalimantan, sekaligus
menjadi jawaban atas keterbatasan akses pendidikan di wilayah pedalaman.
“Sekolah Rakyat itu boarding school. Anak-anak nanti
menginap di sekolah, makan tiga kali sehari plus snack. Semua seragam, sepatu,
tas, alat sekolah disediakan,” ujar Gibran dalam sambutannya, menjelaskan
konsep yang dirancang untuk menjangkau anak-anak dari keluarga kurang mampu dan
daerah terpencil.
Pernyataan ini disambut antusias oleh warga, terutama mereka
yang selama ini menghadapi tantangan geografis dan ekonomi dalam menyekolahkan
anak-anak mereka. Di Kalimantan Barat, jarak bukan sekadar angka di peta—ia
adalah penghalang nyata bagi mimpi-mimpi kecil yang ingin tumbuh besar.
Gibran menegaskan bahwa pembangunan sekolah ini bukan
sekadar proyek fisik, tetapi bagian dari komitmen Presiden Prabowo Subianto
untuk mengakhiri paradigma Jawa-sentris dalam pembangunan nasional. “Kita ingin
pendidikan di Jawa dan Kalimantan ini tidak ada gap. Semuanya bisa menikmati
program-program dari pemerintah pusat,” tegasnya.
Langkah konkret telah dimulai. Untuk Sekolah Garuda
Unggulan, lahan seluas 30 hektare telah disiapkan di Jalan Johansyah Bakri,
Desa Antibar, Kecamatan Mempawah Timur. Sementara untuk Sekolah Rakyat, Pemkab
Mempawah mengusulkan lahan seluas 8,1 hektare di Desa Toho Ilir, Kecamatan
Toho. Peninjauan lapangan telah dilakukan oleh Bupati Mempawah Erlina bersama
jajaran OPD, menandai keseriusan daerah dalam menyambut program ini.
Namun, di balik semangat pendidikan, ada suara lain yang tak
kalah penting: aspirasi budaya. Dalam pertemuan tersebut, Panglima Jilah,
pemimpin Pasukan Merah TBBR, menyampaikan harapan besar kepada Wapres Gibran.
Ia mengungkapkan bahwa hingga kini, komunitas TBBR belum memiliki rumah adat.
Selama ini, mereka hanya menggunakan tenda sebagai tempat berkumpul dan
menjalankan tradisi.
“Kami bersyukur mempunyai Wakil Presiden yang mau
mengunjungi kami masyarakat di pedalaman Kalimantan ini. Besar harapan kami,
Bapak bisa membangun daerah kami, terutama di sini. Kami tidak mempunyai rumah
adat. Kami hanya bisa pakai tenda-tenda, Pak,” kata Panglima Jilah, dengan nada
yang menggugah dan penuh harap.
Permintaan ini bukan sekadar soal bangunan. Rumah adat bagi
masyarakat Dayak adalah simbol identitas, ruang spiritual, dan pusat
kebudayaan. Di tengah arus modernisasi dan pembangunan fisik, keberadaan rumah
adat menjadi penanda bahwa pembangunan tidak melupakan akar budaya dan
nilai-nilai lokal.
Gibran mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia tidak
memberikan janji instan, tetapi menunjukkan keterbukaan terhadap aspirasi
tersebut. Dalam konteks pembangunan yang inklusif, mendengarkan adalah langkah
pertama menuju kebijakan yang berakar pada kebutuhan nyata masyarakat.
Kunjungan ini juga menjadi momen penting dalam membangun
sinergi antara pemerintah pusat dan daerah. Wakil Menteri Sosial dijadwalkan
akan meninjau langsung lokasi pembangunan Sekolah Garuda Unggulan pada tahun
2026. Dengan dukungan lintas kementerian dan pemerintah daerah, program ini
diharapkan tidak hanya menjadi wacana, tetapi realitas yang bisa dirasakan
langsung oleh masyarakat.
Di Kalimantan Barat, pendidikan dan budaya bukan dua hal
yang terpisah. Mereka saling menguatkan. Sekolah yang dibangun di tengah
komunitas adat harus mampu menghargai dan mengintegrasikan nilai-nilai lokal
dalam kurikulumnya. Anak-anak Dayak tidak hanya perlu belajar matematika dan
sains, tetapi juga sejarah leluhur, bahasa daerah, dan filosofi hidup yang
diwariskan turun-temurun.
Pembangunan rumah adat dan sekolah rakyat di Mempawah
menjadi simbol bahwa pembangunan tidak harus seragam. Ia bisa beragam, berakar,
dan berjiwa. Di tengah perbukitan yang indah, harapan itu tumbuh—dalam bentuk
bangunan, dalam bentuk anak-anak yang belajar, dan dalam bentuk komunitas yang
merasa dihargai.
Gibran, dalam kunjungan ini, tidak hanya membawa program,
tetapi juga membawa pesan: bahwa negara hadir, mendengar, dan berusaha
menjawab. Di Kalimantan Barat, pesan itu diterima dengan tangan terbuka dan
harapan yang besar.
Jika semua rencana ini berjalan sesuai harapan, maka
tahun-tahun mendatang akan menjadi saksi perubahan besar di Mempawah. Anak-anak
yang dulu harus berjalan jauh untuk sekolah akan memiliki tempat belajar yang
layak. Komunitas adat yang selama ini berkumpul di tenda akan memiliki rumah
adat yang kokoh dan bermakna. Dan Kalimantan Barat akan menjadi contoh bahwa
pembangunan bisa menyatu dengan pendidikan dan budaya.







