Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Narkoba Mengguncang Air Upas: Desa Tahu Siapa Bandarnya, Tapi Tak Satu Pun Tertangkap

 

Di pelosok Kecamatan Air Upas, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, keresahan masyarakat kian memuncak. Bukan hanya karena peredaran narkoba yang semakin tak terkendali, tapi juga lantaran kejanggalan besar yang sulit diterima akal sehat: para bandar yang disebut-sebut sudah jelas identitasnya, tetap melenggang bebas, seakan kebal dari hukum. Fenomena ini diungkap langsung oleh Kepala Desa Air Upas, Agus Purwanto, yang tak lagi bisa menahan rasa prihatin dan kemarahannya atas situasi yang berlangsung bertahun-tahun tanpa ada penyelesaian berarti.

Agus mengatakan, warga di desanya bukan hanya sekadar mendengar kabar, melainkan benar-benar tahu siapa saja pemain besar di balik peredaran narkotika di wilayah mereka. Nama-nama itu sudah beredar di kalangan masyarakat, bahkan bukan rahasia lagi di forum-forum desa. Namun ironisnya, yang kerap diamankan aparat hanyalah pengguna dan kaki tangan kecil, sementara aktor utama tetap berada di luar jangkauan jerat hukum. “Siapa bandar dan pengedar narkoba di Air Upas ini bukan rahasia lagi. Masyarakat tahu, kami tahu. Tapi yang ditangkap hanya pemakai dan kaki tangannya saja. Bandarnya tetap aman,” ujarnya, Jumat (8/8/2025), melalui sambungan telepon.

Yang membuat keadaan ini semakin mencengangkan adalah fakta bahwa narkoba kini bukan lagi sekadar masalah kalangan remaja atau orang dewasa. Agus mengungkapkan, anak-anak usia sekolah dasar di Air Upas kini sudah bisa mendapatkan barang haram itu hanya dengan modal Rp 20.000. Fenomena ini, menurutnya, menjadi bukti nyata bahwa jaringan peredaran narkoba di wilayahnya telah merambah ke level yang paling mengkhawatirkan—menghancurkan generasi sejak dini. “Bahkan sekarang, anak-anak SD pun sudah bisa memakai narkoba. Mereka beli hanya dengan uang Rp 20.000,” katanya, suaranya terdengar getir.

Dampak dari peredaran narkoba ini pun tak berhenti pada rusaknya moral dan masa depan generasi muda. Agus menyebut, berbagai tindak kriminal lain mulai bermunculan, seolah menjadi efek domino dari maraknya narkotika. Kasus pencurian, perkelahian antarwarga, hingga pembakaran rumah yang baru-baru ini terjadi di wilayah itu, semua dikaitkan dengan pengaruh narkoba. “Bukan cuma narkoba yang jadi masalah. Tapi karena narkoba, muncul kejahatan lain,” tambahnya.

Agus menegaskan, persoalan ini sudah melewati batas yang bisa diselesaikan dengan sekadar imbauan atau penyuluhan. Ia mendorong aparat penegak hukum untuk bertindak tegas hingga ke akar jaringan, bukan hanya sekadar menangkap pengguna atau pengedar kecil. “Kalau hanya kaki tangannya yang ditangkap, peredarannya tetap jalan. Yang harus diberantas itu sumbernya,” ucapnya.

Nada serupa juga datang dari tokoh pemuda setempat, Goda Tohan. Ia bahkan menyebut kondisi di Air Upas saat ini sudah berada pada tingkat darurat. Transaksi narkoba, kata Goda, dilakukan secara terang-terangan, bahkan di tempat terbuka seperti layaknya lapak dagangan biasa. “Kita bisa lihat sendiri di lapangan, mereka sampai membuka lapak. Ini sungguh ironis dan sangat meresahkan,” ungkapnya.

Tak hanya memberi gambaran situasi, Goda juga berani menyebutkan beberapa inisial nama yang diduga sebagai bandar besar di wilayah itu: I, T, Y, R, dan W. Nama-nama itu, menurutnya, bukan sekadar tuduhan tanpa dasar, sebab warga kerap melihat langsung aktivitas mereka. Namun, entah mengapa, penindakan terhadap para bandar tersebut tak kunjung terjadi. “Ini menimbulkan pertanyaan besar bagi kami, apakah ada permainan di balik ini semua. Padahal mereka jualan pun ada lapaknya. Kalau aparat tidak tahu, kami bisa tunjukkan,” tegasnya.

Lebih jauh, Goda menuturkan bahwa pemuda dan masyarakat setempat sebenarnya siap untuk dilibatkan dalam upaya pemberantasan narkoba. Mereka bersedia menjadi mata dan telinga aparat, memantau pergerakan para pelaku, dan memberikan informasi langsung dari lapangan. Sayangnya, hingga kini belum ada langkah nyata dari pihak kepolisian untuk mengajak warga bekerja sama. “Kami siap jadi mata dan telinga aparat. Tapi selama ini belum ada langkah konkret untuk melibatkan masyarakat dalam upaya pemberantasan narkoba,” ucapnya.

Kepada Kapolres Ketapang yang baru, Goda menyampaikan harapan besar agar masalah ini segera menjadi perhatian khusus. Ia menegaskan, tanpa keberanian menindak para bandar besar, maka segala bentuk upaya pemberantasan hanya akan menjadi formalitas tanpa hasil. “Kami harap, Kapolres yang baru bisa lebih peka dan menaruh perhatian khusus pada Air Upas. Kami masyarakat siap dilibatkan,” pungkasnya.

Sementara itu, ketika dimintai konfirmasi, Kasat Narkoba Polres Ketapang, AKP Aris Pamudji Widodo, belum memberikan jawaban substantif mengenai tudingan dan keluhan yang dilontarkan oleh warga Air Upas. Aris menyebut bahwa semua pernyataan resmi akan disampaikan melalui Humas Polres, sesuai dengan prosedur yang berlaku. “Saya masih di Pontianak. Terkait masalah pemberitaan itu satu pintu lewat Humas atas seizin Kapolres. Terima kasih,” katanya singkat.

Kondisi di Air Upas saat ini menggambarkan potret kelam perang melawan narkoba di daerah. Masyarakat menyimpan kekecewaan mendalam karena aparat dinilai hanya menyentuh permukaan masalah, sementara sumber utama peredaran tetap tidak tersentuh. Situasi ini menimbulkan berbagai spekulasi, mulai dari dugaan lemahnya penegakan hukum, kurangnya sumber daya, hingga kemungkinan adanya permainan di balik layar yang membuat para bandar tetap bebas beroperasi.

Fakta bahwa anak-anak sekolah dasar kini sudah menjadi target pasar narkoba membuat keresahan warga mencapai titik tertinggi. Generasi yang seharusnya sibuk belajar dan bermain, malah terjerumus dalam lingkaran gelap yang akan merusak masa depan mereka. Lebih buruk lagi, dampak sosial dari narkoba mulai menggerogoti kehidupan masyarakat secara menyeluruh: meningkatnya tindak kriminal, hilangnya rasa aman, dan hancurnya tatanan sosial yang sebelumnya harmonis.

Di tengah keterbatasan kewenangan pemerintah desa, suara-suara seperti yang disampaikan Agus Purwanto dan Goda Tohan menjadi peringatan keras bagi semua pihak, khususnya aparat penegak hukum. Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan hanya generasi muda yang hilang, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap institusi hukum akan terkikis habis.

Kisah Air Upas ini sejatinya adalah potret kecil dari pertempuran panjang Indonesia melawan narkoba. Namun, yang membedakannya adalah keterusterangan warganya yang berani mengungkap nama-nama, lokasi transaksi, hingga modus operandi yang digunakan. Sayangnya, keberanian ini belum mendapat respons setimpal dari pihak yang memiliki kewenangan untuk bertindak.

Warga kini menunggu, apakah Kapolres Ketapang yang baru akan menjawab tantangan ini, atau justru membiarkan Air Upas terus menjadi ladang subur bagi peredaran narkoba. Satu hal yang pasti, kesabaran masyarakat tidak akan selamanya bertahan. Jika aparat tak juga bergerak, bukan mustahil warga akan mengambil langkah sendiri, dengan segala risiko yang mungkin terjadi. Dalam situasi genting ini, waktu menjadi musuh terbesar: setiap hari yang terlewat tanpa tindakan berarti, adalah satu langkah lagi menuju hilangnya masa depan generasi Air Upas.

Also Read
Latest News
  • Narkoba Mengguncang Air Upas: Desa Tahu Siapa Bandarnya, Tapi Tak Satu Pun Tertangkap
  • Narkoba Mengguncang Air Upas: Desa Tahu Siapa Bandarnya, Tapi Tak Satu Pun Tertangkap
  • Narkoba Mengguncang Air Upas: Desa Tahu Siapa Bandarnya, Tapi Tak Satu Pun Tertangkap
  • Narkoba Mengguncang Air Upas: Desa Tahu Siapa Bandarnya, Tapi Tak Satu Pun Tertangkap
  • Narkoba Mengguncang Air Upas: Desa Tahu Siapa Bandarnya, Tapi Tak Satu Pun Tertangkap
  • Narkoba Mengguncang Air Upas: Desa Tahu Siapa Bandarnya, Tapi Tak Satu Pun Tertangkap
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad