Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Meski Hujan Redakan Karhutla, Gubernur Norsan Ingatkan Warga Kalbar Tetap Waspada: Ancaman Api di Lahan Gambut Belum Hilang

 

Hujan yang mengguyur sebagian besar wilayah Kalimantan Barat dalam beberapa hari terakhir membawa napas lega bagi warga yang selama berminggu-minggu dihantui oleh asap pekat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langit yang sebelumnya kelabu kini mulai menampakkan rona birunya kembali, udara terasa lebih segar, dan jarak pandang yang sempat terganggu kini perlahan membaik. Namun, di balik kabar gembira ini, Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, menegaskan bahwa ancaman kebakaran belum sepenuhnya sirna.

Menurut laporan terbaru, sebagian besar titik api di Kalbar sudah padam, namun masih ada sisa 1 hingga 2 titik kecil yang perlu diwaspadai. “Cuaca di Kalimantan Barat sudah mulai turun hujan, dan sekarang api sudah padam. Masih ada 1–2 titik api, tapi tidak terlalu besar,” ujar Norsan dalam Rapat Koordinasi Penanggulangan Karhutla yang digelar bersama Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo dan Menteri Lingkungan Hidup di Balai Pendidikan dan Pelatihan Transportasi Darat (BP2TD) Mempawah, Jumat (8/8).

Norsan menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang telah berjibaku di lapangan selama masa darurat karhutla. Baginya, keberhasilan memadamkan api ini bukanlah hasil kerja satu pihak semata, melainkan buah dari sinergi berbagai elemen, mulai dari Pemerintah Provinsi Kalbar, Polda Kalbar, Manggala Agni, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), relawan, hingga masyarakat umum yang turut turun tangan. “Kerja sama lintas sektor berjalan baik. Terima kasih juga atas dukungan pemerintah pusat serta kunjungan Kapolri dan Menteri Lingkungan Hidup,” ujarnya.


Peringatan dari Kapolri: Jangan Lengah, Api Bisa Muncul Lagi

Meski situasi saat ini terkendali, Kapolri Listyo Sigit Prabowo menegaskan bahwa potensi kebakaran berulang tetap ada, khususnya di wilayah yang memiliki ekosistem gambut. Ia menjelaskan bahwa lahan gambut memiliki sifat unik: meskipun di permukaan terlihat basah atau padam, bara api dapat terus menyala di lapisan bawah tanah selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Bara ini bisa kembali memicu api ketika kondisi kering dan berangin.

“Masih ada sumber api yang muncul karena sengaja dibakar dan dari gambut kering yang memicu api secara alami. Pengawasan harus terus diperketat,” kata Kapolri. Ia mengingatkan bahwa faktor manusia masih menjadi penyebab dominan, baik karena pembukaan lahan secara ilegal dengan cara membakar maupun kelalaian dalam mengendalikan api saat kegiatan di lahan.

Kapolri juga menyoroti pentingnya posko pemantauan di titik-titik rawan karhutla. Posko ini tidak hanya berfungsi sebagai pusat koordinasi pemadaman, tetapi juga sebagai garda terdepan dalam deteksi dini. Teknologi, seperti citra satelit, drone, dan sensor panas, menjadi senjata penting dalam mendeteksi munculnya titik api sebelum meluas. “Kita harus memadukan kearifan lokal dengan teknologi modern,” tegasnya.


Kearifan Lokal di Bawah Aturan Hukum

Salah satu hal yang dibahas dalam rapat tersebut adalah penerapan aturan pembakaran lahan berdasarkan kearifan lokal. Di banyak daerah pedesaan Kalimantan, membakar lahan untuk bertani merupakan tradisi yang telah dilakukan turun-temurun. Namun, praktik ini harus dijalankan dengan pengawasan ketat agar tidak menjadi penyebab bencana.

Kapolri menegaskan bahwa ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Cipta Kerja masih memungkinkan penerapan kearifan lokal tersebut, tetapi dengan syarat adanya sekat bakar, pengawasan, dan pembatasan luas area pembakaran. “Kearifan lokal tetap bisa dijalankan, tapi harus ada sekat bakar dan pengawasan ketat agar tidak meluas,” katanya.

Sejak beberapa tahun terakhir, pemerintah bersama masyarakat adat telah mencoba berbagai metode pencegahan, mulai dari membentuk kelompok tani peduli api, hingga melakukan pelatihan teknik pembakaran terkendali. Namun, kesadaran dan kedisiplinan menjadi kunci utama keberhasilan metode ini.


Kebutuhan Infrastruktur Pencegah Kebakaran

Tidak hanya mengandalkan pengawasan, Kapolri juga menyoroti pentingnya infrastruktur pencegah karhutla. Sumber air menjadi elemen vital dalam penanggulangan kebakaran, sehingga pembangunan embung, kanal, dan waduk di area rawan harus diprioritaskan. “Kalau sumber air dekat, tim di lapangan bisa cepat merespons. Ini sangat penting, apalagi menghadapi kemarau panjang tahun depan akibat fenomena La Niña,” ujarnya.

Fenomena La Niña, yang umumnya membawa curah hujan tinggi, bisa berdampak berbeda di wilayah tertentu. Di beberapa daerah, La Niña justru dapat memicu periode kering yang ekstrem setelahnya, menciptakan kondisi ideal bagi api untuk kembali berkobar. Karena itu, kesiapsiagaan harus tetap dijaga meskipun saat ini hujan turun.

Selain infrastruktur air, Kapolri menekankan bahwa peralatan pemadam juga harus disesuaikan dengan karakteristik wilayah. Di daerah gambut, misalnya, dibutuhkan alat khusus untuk menyemprotkan air langsung ke dalam tanah, bukan hanya ke permukaan. Koordinasi lintas instansi, mulai dari TNI, Polri, BPBD, hingga kelompok masyarakat, harus berjalan tanpa hambatan.


Solusi Jangka Panjang: Ubah Lahan Gambut Rawan Terbakar Jadi Lahan Produktif

Dalam kesempatan yang sama, Kapolda Kalbar menyampaikan gagasan untuk mengatasi akar masalah karhutla di wilayah gambut. Menurutnya, lahan gambut yang hampir setiap tahun terbakar sebaiknya dievaluasi dan dialihkan fungsinya menjadi lahan pertanian produktif. “Perlu evaluasi dan riset agar lahan yang sering terbakar bisa dimanfaatkan untuk tanaman pangan,” ujarnya.

Langkah ini tidak hanya bertujuan mengurangi risiko kebakaran, tetapi juga mendukung program ketahanan pangan nasional. Dengan pemanfaatan yang tepat, lahan gambut bisa menjadi sumber produksi beras, sayuran, atau komoditas lain yang bernilai ekonomi tinggi. Namun, konversi lahan gambut memerlukan penelitian mendalam agar tidak merusak ekosistem yang ada.


Refleksi atas Karhutla: Pelajaran dari Masa Lalu

Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat bukanlah fenomena baru. Setiap tahun, terutama saat musim kemarau, ancaman ini selalu menghantui. Asap pekat yang ditimbulkan tidak hanya mengganggu kesehatan warga setempat, tetapi juga sering menyebar ke provinsi lain bahkan ke negara tetangga, memicu ketegangan diplomatik.

Berbagai studi menunjukkan bahwa penyebab utama karhutla adalah ulah manusia, baik karena pembukaan lahan, pembalakan liar, maupun pembakaran ilegal. Namun, faktor alam seperti kekeringan panjang dan kondisi gambut yang mudah terbakar turut memperparah situasi.

Pelajaran penting dari masa lalu adalah bahwa penanggulangan karhutla tidak bisa dilakukan secara reaktif, hanya setelah api muncul. Upaya preventif, seperti patroli rutin, edukasi masyarakat, pengelolaan lahan berkelanjutan, dan penegakan hukum yang tegas, jauh lebih efektif dan murah dibanding memadamkan api yang sudah meluas.


Mengapa Waspada Tetap Diperlukan Meski Hujan Turun?

Turunnya hujan memang memberi harapan, tetapi sifatnya sementara. Dalam beberapa kasus, hujan hanya membasahi permukaan tanah sementara bara api di kedalaman gambut tetap hidup. Begitu cuaca kembali panas dan angin bertiup kencang, bara ini dapat berubah menjadi kobaran api yang meluas.

Selain itu, musim hujan di Kalimantan tidak berlangsung terus-menerus. Sering kali hujan datang secara sporadis, hanya di beberapa wilayah, sehingga daerah lain tetap kering. Hal ini menciptakan tantangan tersendiri bagi petugas di lapangan, yang harus memantau kondisi di setiap titik rawan.

Dengan kerja sama lintas sektor, pemanfaatan teknologi, dan kesadaran masyarakat, diharapkan Kalimantan Barat dapat mengurangi frekuensi dan dampak karhutla di masa depan. Gubernur Norsan mengajak seluruh warga untuk tetap menjaga lingkungan, tidak membakar lahan secara sembarangan, dan segera melapor jika menemukan tanda-tanda kebakaran.

“Pencegahan adalah kunci. Mari kita jaga Kalbar tetap hijau, lestari, dan bebas asap,” pesannya.

Langkah-langkah yang diambil saat ini, baik oleh pemerintah daerah maupun pusat, bukan hanya untuk memadamkan api, tetapi juga untuk membangun sistem pertahanan yang tangguh terhadap ancaman kebakaran di masa mendatang. Jika semua pihak mau bekerja sama, bukan tidak mungkin Kalbar suatu hari nanti terbebas dari siklus tahunan karhutla yang selama ini menjadi momok.

 

Also Read
Tag:
Latest News
  • Meski Hujan Redakan Karhutla, Gubernur Norsan Ingatkan Warga Kalbar Tetap Waspada: Ancaman Api di Lahan Gambut Belum Hilang
  • Meski Hujan Redakan Karhutla, Gubernur Norsan Ingatkan Warga Kalbar Tetap Waspada: Ancaman Api di Lahan Gambut Belum Hilang
  • Meski Hujan Redakan Karhutla, Gubernur Norsan Ingatkan Warga Kalbar Tetap Waspada: Ancaman Api di Lahan Gambut Belum Hilang
  • Meski Hujan Redakan Karhutla, Gubernur Norsan Ingatkan Warga Kalbar Tetap Waspada: Ancaman Api di Lahan Gambut Belum Hilang
  • Meski Hujan Redakan Karhutla, Gubernur Norsan Ingatkan Warga Kalbar Tetap Waspada: Ancaman Api di Lahan Gambut Belum Hilang
  • Meski Hujan Redakan Karhutla, Gubernur Norsan Ingatkan Warga Kalbar Tetap Waspada: Ancaman Api di Lahan Gambut Belum Hilang
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad