Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Kaltim Intensifkan Kemoprevensi Cegah Malaria, Target Eliminasi Dipercepat

 

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) menggiatkan program kemoprevensi atau pemberian obat pencegahan massal sebagai respons cepat atas temuan 63 kasus malaria di wilayah tersebut. Langkah ini diambil guna mempercepat pencapaian target eliminasi malaria di seluruh kabupaten dan kota.

Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin, menyatakan program ini merupakan bagian dari strategi terpadu untuk menekan laju penularan, terutama pada kelompok masyarakat yang memiliki risiko tinggi terpapar.

“Berdasarkan data terbaru terdapat 63 kasus positif malaria di Kaltim dengan satu kasus kematian. Ini menjadi pengingat bahwa perjuangan belum usai dan upaya pencegahan harus terus diperkuat,” ujarnya di Samarinda, Selasa (12/8/2025).


Distribusi Kasus dan Data Epidemiologi

Data Annual Parasite Incidence (API) atau angka parasit tahunan malaria di Kaltim saat ini tercatat berada di level 0,15 per 1.000 penduduk. Meski relatif rendah secara angka, distribusi kasus menunjukkan adanya daerah yang masih menjadi sumber penularan.

Kabupaten Kutai Timur menjadi penyumbang kasus terbanyak dengan 17 kasus. Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Berau dengan 15 kasus dan Kota Samarinda dengan 11 kasus. Sisanya tersebar di beberapa daerah lain di provinsi ini.

Dinkes Kaltim juga mencatat bahwa penderita laki-laki mendominasi data kasus malaria, mencapai 96 persen. Dari jenis parasitnya, Plasmodium vivax atau malaria tertiana menduduki posisi teratas sebagai penyebab utama, menyumbang 56 persen dari total kasus.


Program Kickoff Chemoprevention

Menindaklanjuti temuan ini, Dinkes Kaltim akan meluncurkan program bertajuk Kickoff Chemoprevention pada 19 Agustus 2025. Program tersebut menyasar kelompok masyarakat berisiko tinggi, khususnya para pekerja yang sering beraktivitas di dalam dan sekitar kawasan hutan.

“Kami secara khusus memberikan perhatian kepada pekerja yang sering keluar masuk hutan, terutama di wilayah endemis malaria,” ujar Jaya.

Dalam pelaksanaannya, pemerintah menyiapkan paket hutan yang akan dibagikan melalui petugas kesehatan. Paket tersebut terdiri dari obat pencegahan malaria, kelambu, dan losion anti nyamuk. Tujuannya adalah memastikan para pekerja dapat beraktivitas di lingkungan rawan penularan tanpa harus khawatir terjangkit penyakit tersebut.


Tahapan dan Siklus Pencegahan

Program kemoprevensi ini dirancang untuk berlangsung dalam beberapa siklus. Pemberian obat pencegahan malaria akan dilakukan dalam dua siklus yang dimulai serentak pada 19 Agustus. Selain itu, bagi kelompok penjamah hutan, akan ada perawatan pencegahan berkala sebanyak tiga siklus pada bulan September.

“Dengan pola siklus ini, kami berharap daya tahan tubuh terhadap potensi infeksi malaria dapat terjaga, terutama pada musim penularan tinggi,” jelas Jaya.


Slogan “Merdeka! dari Malaria”

Kegiatan pencegahan massal ini mengusung slogan Merdeka! dari Malaria, bertepatan dengan momentum peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Slogan tersebut dipilih untuk membangkitkan kesadaran bahwa bebas malaria adalah bagian dari kemerdekaan masyarakat untuk hidup sehat dan produktif.

Dinkes Kaltim mengajak seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah, perusahaan perkebunan dan tambang, hingga masyarakat umum, untuk berpartisipasi aktif dalam kampanye ini.

Upaya kemoprevensi yang digencarkan saat ini merupakan bagian dari peta jalan eliminasi malaria Kaltim. Berdasarkan data, tren endemisitas malaria di provinsi ini menunjukkan perbaikan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2025, sebagian besar wilayah Kaltim telah masuk kategori endemis rendah, seperti Kutai Timur, Paser, Kutai Barat, dan Penajam Paser Utara (PPU). Meski demikian, beberapa titik rawan penularan masih memerlukan perhatian khusus untuk mencegah kebangkitan kembali kasus dalam jumlah besar.


Kelompok Rentan dan Tantangan Lapangan

Dinkes Kaltim mengidentifikasi kelompok pekerja hutan, nelayan yang beraktivitas di wilayah rawa, serta masyarakat yang tinggal di sekitar perbatasan sebagai kelompok rentan yang memerlukan perlindungan ekstra.

Tantangan yang dihadapi di lapangan meliputi akses ke lokasi terpencil, kepatuhan masyarakat dalam mengikuti siklus pengobatan, serta keterbatasan jumlah tenaga kesehatan di wilayah endemis. Untuk itu, kerja sama lintas sektor menjadi sangat penting agar program kemoprevensi berjalan optimal.


Harapan Eliminasi Lebih Cepat

Dengan langkah-langkah yang sedang dijalankan, Pemprov Kaltim optimistis dapat mempercepat target eliminasi malaria yang sebelumnya diproyeksikan tercapai pada akhir dekade ini.

“Jika semua pihak bergerak bersama, eliminasi bisa kita capai lebih cepat. Kuncinya adalah konsistensi pencegahan dan partisipasi aktif masyarakat,” kata Jaya.

Pemerintah daerah menegaskan komitmennya untuk melanjutkan intervensi ini hingga angka kasus malaria berada pada titik nol, dengan mempertahankan kesiapsiagaan untuk mencegah penularan kembali.

 

Also Read
Latest News
  • Kaltim Intensifkan Kemoprevensi Cegah Malaria, Target Eliminasi Dipercepat
  • Kaltim Intensifkan Kemoprevensi Cegah Malaria, Target Eliminasi Dipercepat
  • Kaltim Intensifkan Kemoprevensi Cegah Malaria, Target Eliminasi Dipercepat
  • Kaltim Intensifkan Kemoprevensi Cegah Malaria, Target Eliminasi Dipercepat
  • Kaltim Intensifkan Kemoprevensi Cegah Malaria, Target Eliminasi Dipercepat
  • Kaltim Intensifkan Kemoprevensi Cegah Malaria, Target Eliminasi Dipercepat
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad