![]() |
| Ilustrasi AI |
Kepolisian Daerah Kalimantan Barat (Polda Kalbar) kembali
menunjukkan komitmennya untuk hadir di tengah masyarakat, kali ini melalui Gerakan
Pangan Murah (GPM) yang digelar secara serentak di seluruh wilayah
provinsi. Program ini tidak hanya menjangkau wilayah perkotaan, tetapi juga
menyasar hingga ke pelosok dan daerah perbatasan, menggandeng Perum Bulog
sebagai mitra strategis dalam penyediaan bahan pangan pokok.
Kapolda Kalbar, Irjen Pol Pipit Rismanto, menjelaskan
bahwa GPM digelar untuk melayani hingga 25 ribu warga yang membutuhkan
bahan pokok dengan harga di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET). Program
ini dimulai sejak 8 Agustus 2025 di Mempawah, dan hingga kini telah
menyalurkan 273 ton bahan pokok di 74 titik distribusi. “Kami
menyediakan berbagai paket sembako berisi beras, minyak goreng, gula, dan
telur. Untuk beras SPHP, ada dua paket, masing-masing berisi 5 kilogram. Khusus
di Kalimantan Barat, beras yang disiapkan mencapai 10 ton,” jelas Pipit saat
ditemui, Kamis (14/8).
Program ini dirancang dengan fleksibilitas tinggi. Apabila
stok yang disiapkan di satu lokasi tidak habis terjual, penyaluran akan
dilanjutkan ke wilayah terdekat sehingga tidak ada bahan pangan yang terbuang.
Langkah ini menjadi bentuk efisiensi distribusi sekaligus memastikan bantuan
benar-benar sampai ke tangan masyarakat yang membutuhkan.
Menyentuh Hingga Daerah Perbatasan
Salah satu hal yang membuat GPM kali ini berbeda adalah
jangkauannya yang luas. Tidak hanya digelar di tingkat Polres dan Polsek,
kegiatan ini juga menyentuh daerah perbatasan yang selama ini kerap menghadapi
kendala pasokan pangan. Bagi warga di wilayah terpencil, harga sembako sering
kali lebih tinggi akibat biaya distribusi yang mahal. Kehadiran GPM menjadi
angin segar karena mampu menghadirkan bahan pokok dengan harga yang jauh lebih
terjangkau dibandingkan pasar umum.
Dampak terhadap Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi
Irjen Pipit juga mengaitkan GPM ini dengan upaya
mengendalikan inflasi di Kalbar. Saat ini, inflasi di provinsi tersebut
tercatat sebesar 0,47%, sementara pertumbuhan ekonomi naik menjadi 5,59%
pada triwulan kedua 2025. Meski ada kenaikan angka pemutusan hubungan kerja
(PHK) menjadi 3,5%, ia berharap program seperti GPM dapat membantu
menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat.
Menurutnya, harga pangan yang stabil berperan penting dalam
mengendalikan inflasi. Jika masyarakat bisa mendapatkan bahan pokok dengan
harga terjangkau, tekanan inflasi dari sektor pangan dapat ditekan, sehingga
ruang gerak ekonomi menjadi lebih sehat. “Walaupun ada peningkatan PHK menjadi
3,5%, kami berharap situasi ini mampu mengendalikan pertumbuhan ekonomi dan
inflasi secara seimbang,” tegasnya.
Respon Positif dari Masyarakat
Dukungan masyarakat terhadap GPM terlihat jelas dari
antusiasme warga yang memadati lokasi penjualan. Salah seorang warga, Mayka,
mengaku bersyukur atas adanya pasar murah ini. “Sangat bermanfaat karena bisa
untuk masyarakat umum. Harga lumayan selisihnya dari pasar, meringankan daya
beli. Harapannya bisa lebih sering diadakan,” ujarnya sambil menunjukkan paket
sembako yang baru dibelinya.
Mayka membeli paket senilai Rp80.000, berisi 5 kg
beras, 1 liter minyak goreng, dan 1 kg gula, serta menambah pembelian satu
karung beras. “Sengaja banyak ambil beras karena kebutuhan pokok, mumpung
harganya lumayan selisihnya daripada di toko,” tuturnya. Pengalaman seperti ini
menjadi bukti bahwa GPM tidak hanya membantu dari sisi ekonomi, tetapi juga
memberikan rasa aman bagi masyarakat terkait ketersediaan pangan.
Strategi Distribusi yang Efisien
Pelaksanaan GPM melibatkan koordinasi yang rapi antara
jajaran kepolisian di tingkat provinsi hingga kecamatan. Setiap titik
distribusi didesain agar mudah dijangkau oleh warga, baik yang berada di pusat
kota maupun di desa-desa. Polda Kalbar memastikan bahwa waktu dan lokasi
penjualan diumumkan secara luas, sehingga warga dapat mempersiapkan diri tanpa
harus berdesakan atau khawatir kehabisan stok.
Di sisi lain, kerjasama dengan Bulog memastikan pasokan
bahan pokok tetap aman. Beras SPHP yang disalurkan misalnya, berasal dari
cadangan pemerintah sehingga kualitasnya terjaga dan harganya dapat ditekan.
Langkah ini juga menjadi bentuk pemanfaatan optimal cadangan pangan untuk
tujuan stabilisasi harga di lapangan.
Menjaga Keseimbangan Pasar
Meski menjual bahan pokok dengan harga di bawah HET, Polda
Kalbar menegaskan bahwa GPM tidak bertujuan merusak mekanisme pasar. Program
ini bersifat sementara dan terukur, fokus pada wilayah dan kelompok masyarakat
yang paling membutuhkan. Dengan demikian, keberadaannya justru membantu menjaga
daya beli tanpa membuat pedagang kecil gulung tikar.
Pendekatan ini sejalan dengan strategi pengendalian inflasi
daerah yang mengedepankan intervensi tepat sasaran. Pemerintah daerah bersama
Polda Kalbar dan Bulog berharap pola ini dapat menjadi model penanganan gejolak
harga pangan di masa depan.
Harapan untuk Keberlanjutan Program
Bagi banyak warga, GPM adalah kesempatan langka untuk
mendapatkan bahan pangan berkualitas dengan harga terjangkau. Namun, manfaat
yang dirasakan akan jauh lebih besar jika program ini dilakukan secara
berkelanjutan. Harapan ini disuarakan oleh banyak warga, termasuk Mayka, yang
berharap GPM tidak hanya digelar saat menjelang perayaan atau momentum
tertentu, tetapi menjadi agenda rutin tahunan, bahkan bulanan.
Keberlanjutan program ini tentu membutuhkan dukungan
berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat, daerah, hingga swasta. Jika semua
pihak terlibat, skala distribusi bisa diperluas, kualitas bahan pokok bisa
dipertahankan, dan harga tetap kompetitif.
Lebih dari Sekadar Pasar Murah
GPM Polda Kalbar bukan hanya soal menurunkan harga pangan,
tetapi juga membangun rasa kebersamaan antara aparat dan masyarakat. Dengan
turun langsung ke lapangan, aparat kepolisian tidak hanya menjalankan fungsi
keamanan, tetapi juga menunjukkan peran sosialnya sebagai pelayan masyarakat.
Dalam konteks yang lebih luas, langkah ini menjadi bagian
dari strategi nasional untuk menjaga stabilitas harga pangan dan daya beli di
tengah tantangan ekonomi global. Jika keberhasilan GPM di Kalbar dapat
direplikasi di provinsi lain, bukan tidak mungkin akan lahir sistem distribusi
pangan nasional yang lebih kuat, tangguh, dan responsif terhadap kebutuhan
masyarakat.







