Dari Papan Interaktif ke Visi Inklusif: Kalimantan Tengah Menata Ulang Masa Depan Pelajar Lewat Program Strategis Nasional
Di tengah lanskap Kalimantan Tengah yang luas dan beragam,
dari hutan tropis yang lebat hingga sungai-sungai yang membelah kabupaten,
sebuah transformasi senyap sedang berlangsung. Bukan pembangunan jalan atau
jembatan yang menjadi sorotan kali ini, melainkan pergeseran paradigma dalam
pendidikan dan kesehatan pelajar. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, di
bawah kepemimpinan Gubernur Agustiar Sabran, mulai menata ulang fondasi masa
depan generasi muda melalui Program Strategis Nasional yang menyentuh langsung
ruang kelas dan ruang hidup siswa.
Kunjungan Gubernur ke SMA Negeri 3 Palangka Raya pada 20
Agustus 2025 menjadi simbol dari komitmen tersebut. Di sana, ia tidak hanya
hadir sebagai pejabat yang meresmikan fasilitas, tetapi sebagai figur yang
ingin menyentuh denyut kehidupan pelajar secara langsung. Ia berdiri di depan
smart board—papan tulis digital yang kini menggantikan kapur dan spidol—dan
menyaksikan bagaimana teknologi mulai menjadi bagian tak terpisahkan dari
proses belajar. Di balik gestur sederhana itu, tersimpan visi besar: menjadikan
pendidikan sebagai ruang yang adaptif, inklusif, dan relevan dengan tantangan
zaman.
Smart board bukan sekadar alat bantu visual. Ia adalah
representasi dari perubahan cara berpikir tentang pendidikan. Di Kalimantan
Tengah, yang memiliki tantangan geografis berupa wilayah terpencil dan akses
terbatas, teknologi menjadi jembatan yang menghubungkan siswa dengan dunia
luar. Melalui perangkat ini, guru dapat menyampaikan materi secara interaktif,
menampilkan video pembelajaran, simulasi, bahkan mengakses sumber belajar
global. Siswa pun tidak lagi menjadi penerima pasif, melainkan peserta aktif
dalam proses belajar yang dinamis.
Namun, transformasi ini tidak berhenti pada aspek teknologi.
Pemerintah provinsi menyadari bahwa pendidikan yang baik harus berjalan
beriringan dengan kesehatan yang terjaga. Oleh karena itu, Program Strategis
Nasional yang diterapkan di Kalimantan Tengah juga mencakup aspek kesehatan
pelajar secara menyeluruh. Di sekolah-sekolah, mulai diterapkan pemeriksaan
kesehatan berkala, penyediaan fasilitas sanitasi yang layak, serta edukasi
tentang pola hidup sehat. Siswa dikenalkan pada pentingnya gizi seimbang, olahraga
rutin, dan manajemen stres—hal-hal yang sering kali terabaikan dalam sistem
pendidikan konvensional.
Langkah ini menjadi penting karena Kalimantan Tengah
memiliki karakteristik demografis yang unik. Banyak daerah yang masih tergolong
3T—tertinggal, terdepan, dan terluar—dengan akses terbatas terhadap layanan
kesehatan dan pendidikan berkualitas. Program ini hadir sebagai bentuk
afirmasi, memastikan bahwa setiap anak, di kota maupun desa, memiliki hak yang
sama untuk belajar dan tumbuh sehat. Pemerintah provinsi mulai mendistribusikan
perangkat digital ke sekolah-sekolah terpencil, melatih guru agar mampu mengintegrasikan
teknologi dalam pembelajaran, dan membangun fasilitas kesehatan dasar di
lingkungan sekolah.
Gubernur Agustiar Sabran, dalam berbagai kesempatan,
menegaskan bahwa investasi terbesar bukan pada gedung-gedung megah, tetapi pada
manusia yang mengisinya. Ia mendorong agar setiap sekolah menjadi pusat
pembelajaran yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga membentuk karakter
dan daya tahan siswa. Dalam kunjungannya ke SMA Negeri 3, ia berdialog langsung
dengan guru dan siswa, mendengarkan aspirasi mereka, dan menyerap semangat yang
tumbuh di ruang kelas. Ia ingin memastikan bahwa kebijakan yang dibuat di
kantor gubernur benar-benar menyentuh realitas di lapangan.
Transformasi ini juga berdampak pada cara guru mengajar.
Dengan dukungan teknologi dan pelatihan yang intensif, para pendidik mulai
mengubah pendekatan mereka. Metode ceramah satu arah mulai digantikan dengan
diskusi kelompok, simulasi, dan proyek kolaboratif. Guru menjadi fasilitator,
bukan sekadar penyampai informasi. Siswa pun didorong untuk berpikir kritis,
mengemukakan pendapat, dan mengeksplorasi ide-ide baru. Ini adalah perubahan
budaya yang tidak mudah, tetapi perlahan mulai mengakar.
Di sisi lain, tantangan tetap ada. Tidak semua sekolah
memiliki akses yang sama terhadap teknologi dan fasilitas kesehatan. Pemerintah
provinsi menyadari hal ini dan mulai merancang kebijakan afirmatif untuk
daerah-daerah yang tertinggal. Program distribusi perangkat digital, pelatihan
guru, dan pembangunan fasilitas kesehatan terus digulirkan agar kesenjangan
antarwilayah dapat ditekan. Visi besar ini menuntut konsistensi, kolaborasi
lintas sektor, dan partisipasi aktif dari masyarakat.
Kalimantan Tengah kini berada di persimpangan penting.
Dengan komitmen yang kuat dari pemerintah daerah dan dukungan dari pusat,
provinsi ini memiliki peluang besar untuk menciptakan sistem pendidikan dan
kesehatan pelajar yang menjadi model bagi daerah lain. Smart board di ruang
kelas hanyalah permulaan. Di balik layar, ada gerakan besar yang ingin
memastikan bahwa setiap anak, di kota maupun desa, memiliki hak yang sama untuk
belajar dan tumbuh sehat.
Lebih jauh, program ini juga membuka ruang bagi partisipasi
komunitas. Orang tua, tokoh masyarakat, dan organisasi lokal mulai dilibatkan
dalam proses pendidikan. Mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi mitra
aktif dalam membentuk lingkungan belajar yang sehat dan produktif. Di beberapa
sekolah, sudah mulai diterapkan program “Sekolah Sehat Berbasis Komunitas” yang
mengintegrasikan edukasi kesehatan dengan kegiatan sosial, seperti kebun
sekolah, dapur sehat, dan klinik mini.
Dalam konteks nasional, langkah Kalimantan Tengah ini
sejalan dengan arah kebijakan pendidikan Indonesia yang menekankan pada Merdeka
Belajar dan transformasi digital. Namun, yang membedakan adalah pendekatan
lokal yang kontekstual. Pemerintah provinsi tidak sekadar menyalin kebijakan
pusat, tetapi menyesuaikannya dengan kebutuhan dan karakteristik daerah. Ini
menunjukkan bahwa otonomi daerah dapat menjadi kekuatan jika dijalankan dengan
visi dan keberpihakan yang jelas.
Dan di SMA Negeri 3 Palangka Raya, di tengah sorotan lampu
dan kunjungan gubernur, harapan itu mulai menyala. Bukan hanya karena teknologi
yang dipasang, tetapi karena semangat yang ditanamkan: bahwa pendidikan dan
kesehatan bukan sekadar program, tetapi janji kepada masa depan. Kalimantan
Tengah, dengan segala tantangannya, kini melangkah dengan lebih percaya
diri—menata ulang masa depan pelajar dengan tangan yang terbuka dan visi yang
menyala.