Palangka Raya — Ketika masa depan bangsa bertumpu pada
generasi muda, kenyataan pahit mengintai dari balik statistik: 27 persen
pengguna narkoba di Kalimantan Tengah berasal dari kalangan usia produktif.
Angka ini bukan sekadar data kering, tetapi alarm keras yang menandakan bahwa
penyalahgunaan narkoba kian menggerogoti kelompok yang sejatinya menjadi
penggerak utama pembangunan—pelajar, mahasiswa, dan para pemuda yang masih
dalam masa emas produktivitasnya.
Temuan ini disampaikan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Kalimantan Tengah melalui survei internal yang menggambarkan situasi faktual di lapangan. Ketua Tim Pemberdayaan Masyarakat BNN Kalteng, Abdul Kadir, tak menampik bahwa situasi tersebut sangat mengkhawatirkan. Menurutnya, ada pola awal yang sangat sering ditemukan dalam kasus penyalahgunaan narkoba di usia muda: berawal dari rokok, lalu merambat ke zat berbahaya lainnya.
“Kebiasaan buruk seperti merokok kerap menjadi pintu awal menuju penyalahgunaan zat berbahaya lainnya, hingga berujung pada narkoba,” ungkap Abdul Kadir dalam sebuah pertemuan publik belum lama ini.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa peran keluarga tidak bisa tergantikan dalam mencegah hal ini. Dalam pandangannya, keluarga bukan hanya tempat pertama anak dibesarkan, tetapi juga benteng terakhir saat pengaruh luar mulai masuk. “Keluarga menjadi tempat yang paling aman dan utama untuk membentengi anak dari narkoba,” ujarnya.
Ia menggarisbawahi pentingnya peran orang tua dalam mengawasi serta membangun komunikasi yang terbuka dengan anak-anak. Edukasi yang intens dan diskusi yang sehat di lingkungan rumah, menurutnya, lebih berharga dibandingkan seribu seminar. Di sinilah dasar-dasar ketahanan mental dan moral anak dibentuk, termasuk pemahaman mengenai bahaya narkoba secara fisik, psikis, hingga dampaknya terhadap masa depan.
Pernyataan Abdul Kadir mendapat dukungan dari Duta Anti Narkoba Putri SMADA 2024–2025, Nidya Aurelia Presticia. Remaja yang menjadi ikon kampanye antinarkoba di kalangan pelajar ini menyampaikan pandangan senada: keluarga adalah pondasi utama dalam mencegah penyimpangan perilaku remaja.
“Keluarga yang harmonis mampu membentengi anak dari pengaruh negatif lingkungan, termasuk narkoba dan pergaulan bebas,” ujar Nidya lugas. Sebagai perwakilan suara generasi muda, Nidya paham betul betapa mudahnya seorang remaja terjerumus dalam jerat narkotika, terutama jika tidak mendapatkan perhatian dan dukungan yang cukup di rumah.
Menurutnya, tekanan sosial di luar rumah sangat kuat. Banyak remaja yang akhirnya mencari pelarian dari stres dan beban hidup lewat jalan pintas—yang salah satunya adalah narkoba. Dan ketika tidak ada tempat yang aman untuk berbagi cerita atau meminta bantuan, maka jebakan itu pun menjadi nyata. “Banyak remaja yang terjerumus narkoba karena kurangnya perhatian keluarga dan kuatnya tekanan dari lingkungan sosial,” tambahnya.
Melihat kompleksitas persoalan ini, BNN Kalimantan Tengah menyadari bahwa upaya pencegahan tidak bisa dilakukan sendiri. Wilayah Kalteng yang luas, dengan keragaman sosial dan tantangan geografis, membutuhkan pendekatan yang kolaboratif. Karena itu, BNN menggencarkan sinergi dengan berbagai pihak, terutama institusi pendidikan seperti sekolah dan perguruan tinggi.
Program Sekolah Bersinar dan Kampus Bersinar kini menjadi ujung tombak edukasi dan pencegahan narkoba di lingkungan akademik. Lewat program ini, pelajar dan mahasiswa diperkenalkan dengan bahaya narkoba sejak dini, dibekali pemahaman tentang dampak jangka panjang, dan diajak membangun lingkungan belajar yang sehat dan aman dari penyalahgunaan zat adiktif.
“BNN tidak bisa bekerja sendiri mengingat luasnya wilayah Kalteng. Oleh karena itu, sekolah dan kampus menjadi mitra penting dalam melakukan edukasi, termasuk deteksi dini saat penerimaan siswa atau mahasiswa baru,” kata Abdul Kadir menjelaskan strategi BNN.
Langkah deteksi dini ini dinilai penting untuk mengidentifikasi potensi penyalahgunaan sedini mungkin, serta memberikan tindakan preventif yang sesuai. Tidak hanya edukasi, tetapi juga pemetaan risiko dan pembinaan mental secara berkelanjutan.
Upaya ini juga mendapat dukungan dari kalangan guru, dosen, dan tenaga pendidik yang mulai sadar akan urgensi menciptakan zona aman dari narkoba di institusi masing-masing. Beberapa sekolah bahkan telah membentuk tim khusus yang bekerja sama langsung dengan BNN untuk menyelenggarakan kegiatan seperti penyuluhan, pemeriksaan urin berkala, hingga kegiatan ekstrakurikuler bertema hidup sehat.
Tak hanya pada tataran kebijakan, gerakan ini kini mulai merambah pada budaya siswa dan mahasiswa yang lebih terbuka untuk mendiskusikan isu narkoba tanpa stigma. Forum-forum diskusi, seminar rutin, dan konten kampanye digital mulai menjadi bagian dari strategi pencegahan yang menyasar langsung ke psikologi generasi muda saat ini—generasi yang lekat dengan media sosial dan pola pikir dinamis.
Dalam konteks yang lebih luas, pencegahan narkoba di kalangan usia produktif bukan hanya soal menjauhkan mereka dari bahaya narkotika, tetapi juga membentuk masyarakat yang tangguh dan berdaya saing. Setiap remaja yang terselamatkan dari jerat narkoba, berarti satu potensi bangsa terselamatkan. Di tengah tantangan global, bonus demografi Indonesia hanya akan menjadi kekuatan jika diisi oleh generasi yang sehat, cerdas, dan bebas narkoba.
Oleh karena itu, BNN Kalimantan Tengah terus menyerukan pentingnya kesadaran kolektif dalam melawan narkoba. Dari orang tua, pendidik, aparat, tokoh masyarakat, hingga remaja itu sendiri—semua memiliki peran krusial. Hanya dengan sinergi yang kuat dan gerakan yang konsisten, Indonesia—terutama Kalimantan Tengah—dapat benar-benar mewujudkan masyarakat yang sehat, aman, dan bebas dari penyalahgunaan narkotika.







