Pontianak - Upaya penanggulangan bencana kebakaran hutan dan lahan atau yang biasa disingkat karhutla di sejumlah wilayah Pulau Borneo kembali menghadapi tantangan serius menyusul laporan perluasan area terdampak. Berdasarkan pemantauan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB, eskalasi titik api terpantau mengalami peningkatan yang cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir di dua provinsi utama yaitu Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Situasi ini tentu menuntut kesiapsiagaan ekstra dari seluruh jajaran satuan tugas di lapangan yang terus berjibaku siang dan malam demi menjinakkan amukan si jago merah yang membakar semak belukar, lahan gambut, serta kawasan hutan produksi di wilayah tersebut.
Plt. Kepala Pusat Data dan Informasi serta Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, mengungkapkan bahwa pihaknya mendeteksi adanya kendala di lapangan yang membuat proses pemadaman menjadi lebih memakan waktu. Berdasarkan evaluasi rutin yang dilakukan oleh tim penanggulangan bencana nasional, tercatat adanya penambahan luas lahan terbakar yang belum berhasil dipadamkan sepenuhnya sejak periode akhir bulan September hingga awal Oktober tahun ini. Kenaikan angka luasan lahan yang terbakar ini menjadi perhatian khusus mengingat karakteristik lahan gambut di Kalimantan yang sangat mudah merambatkan api di bawah permukaan tanah meskipun di atasnya terlihat sudah padam.
Kendala utama yang dihadapi oleh para petugas pemadam kebakaran di lapangan meliputi faktor cuaca yang cenderung kering, tiupan angin yang cukup kencang, serta keterbatasan akses sumber air di sekitar lokasi kebakaran. Sejumlah titik api sering kali terletak di area yang sulit dijangkau oleh kendaraan darat pemadam kebakaran, sehingga memaksa tim gabungan yang terdiri dari unsur TNI, Polri, Manggala Agni, Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPBD, serta masyarakat peduli api untuk bekerja ekstra keras menggunakan peralatan portabel manual. Selain itu, pengerahan helikopter water bombing juga terus dioptimalkan guna menjangkau kantong-kantong kebakaran yang berada di tengah belantara hutan dan lahan gambut yang sulit ditembus lewat jalur darat.
Di wilayah Kalimantan Tengah, laporan resmi menunjukkan adanya tambahan luasan lahan yang belum tuntas dipadamkan hingga mencapai belasan hektare dibandingkan dengan catatan hari-hari sebelumnya. Kondisi serupa juga terjadi di Provinsi Kalimantan Barat di mana petugas harus berjibaku memadamkan api yang berpotensi meluas akibat hembusan angin. Pemerintah daerah bersama BNPB terus memperkuat koordinasi lintas sektoral guna memastikan ketersediaan logistik, peralatan, serta personel yang memadai di titik-titik posko penanganan karhutla. Langkah mitigasi dini dan patroli terpadu terus digencarkan guna mendeteksi kemunculan titik panas baru sebelum berkembang menjadi kebakaran lahan berskala besar yang dapat merugikan banyak pihak.
Dampak dari meluasnya kebakaran hutan dan lahan ini tidak hanya dirasakan pada aspek kerusakan ekosistem flora dan fauna lokal, tetapi juga mulai memunculkan potensi ancaman kabut asap yang dapat mengganggu aktivitas harian warga masyarakat setempat. Pemerintah mengimbau kepada seluruh warga yang tinggal di sekitar kawasan rawan karhutla untuk meningkatkan kewaspadaan tinggi serta tidak melakukan aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar yang selama ini menjadi salah satu pemicu utama timbulnya bencana ekologis tersebut. Kesadaran kolektif dari masyarakat sangat dibutuhkan untuk menekan angka kejadian karhutla agar kualitas udara di Pulau Kalimantan tetap terjaga sehat dan aktivitas perekonomian warga tidak terhambat oleh pekatnya asap kebakaran.
Upaya pemadaman darat dan udara yang dikoordinasikan secara intensif oleh BNPB bersama pemerintah daerah diharapkan mampu menyelesaikan persoalan ini dalam kurun waktu beberapa hari ke depan sebelum cuaca ekstrem memperparah keadaan. Operasi modifikasi cuaca juga menjadi salah satu opsi strategis yang terus dipersiapkan oleh instansi terkait guna memancing turunnya hujan buatan di atas wilayah-wilayah prioritas yang mengalami kekeringan panjang. Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah pusat, daerah, serta partisipasi aktif masyarakat luas, penanganan darurat karhutla di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah diyakini dapat segera membuahkan hasil optimal demi keselamatan lingkungan dan kesehatan warga.






