Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Warga Kalimantan Diimbau Rutin Pantau Kualitas Udara Akibat Kepungan Asap Karhutla

gambar hanya ilustrasi

Palangka Raya - Badan Nasional Penanggulangan Bencana mengimbau seluruh lapisan masyarakat di wilayah Kalimantan untuk secara berkala memantau Indeks Standar Pencemaran Udara guna meminimalkan risiko gangguan kesehatan akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan. Langkah antisipasi dini ini dinilai sangat mendesak seiring dengan meningkatnya konsentrasi partikel polutan yang menyelimuti sejumlah kawasan permukiman dan sentra aktivitas warga dalam beberapa hari terakhir.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Berton SP Panjaitan, menegaskan bahwa pemantauan terhadap indikator mutu udara merupakan langkah proteksi mandiri yang paling mendasar. Berdasarkan analisis terpadu bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, pergerakan kabut asap tebal kini terdeteksi semakin meluas di sejumlah provinsi, dengan tingkat kepekatan yang berfluktuasi bergantung pada arah hembusan angin permukaan.

Wilayah Pulau Borneo saat ini menghadapi tekanan lingkungan yang cukup berat, di mana sebaran polutan asap terpantau terkonsentrasi secara intensif di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, serta Kalimantan Selatan. Pada saat yang sama, konsentrasi titik api dan asap juga dilaporkan melanda sebagian kawasan di Pulau Sumatera, mencakup Provinsi Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan. Kendati demikian, karakteristik bentang alam di Kalimantan yang didominasi hamparan lahan gambut membuat dinamika kebakaran memerlukan penanganan yang jauh lebih kompleks dan berkesinambungan.

Salah satu potret nyata perjuangan di lapangan terlihat di Desa Tumbang Nusa, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Kawasan yang memiliki riwayat panjang kebakaran gambut ini kembali membara, memicu kepulan asap pekat yang mengancam jarak pandang dan kesehatan masyarakat di sekitarnya. Tim gabungan yang terdiri atas personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Manggala Agni Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, unsur TNI, Polri, serta relawan masyarakat peduli api terus berjibaku memadamkan api yang membakar vegetasi semak belukar dan lapisan gambut dalam.

Kebakaran di ekosistem gambut memang memiliki tingkat kerumitan tersendiri dibandingkan kebakaran di tanah mineral. Api kerap menyusup ke bawah permukaan tanah hingga kedalaman beberapa meter, melahap material organik kering secara perlahan tanpa terlihat kobaran api besar di permukaan. Fenomena pembakaran tanpa lidah api ini menghasilkan emisi karbon dan partikel halus beracun dalam volume yang sangat masif, sehingga menghasilkan kabut asap putih kecokelatan yang bertahan lama di udara ambien.

Berton menjelaskan bahwa masyarakat dapat memanfaatkan kemajuan teknologi digital untuk memantau kondisi kualitas udara di lingkungan tempat tinggal masing-masing sebelum memutuskan untuk melakukan aktivitas luar ruangan. Pengecekan secara rutin dapat dilakukan melalui kanal resmi kementerian dan lembaga terkait, salah satunya sistem pemantauan kualitas udara milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang memperbarui data indeks pencemaran secara berkesinambungan.

Indeks Standar Pencemaran Udara mengukur konsentrasi sejumlah parameter kritis, terutama partikulat berukuran sangat kecil atau particulate matter dua koma lima dan partikulat sepuluh. Partikel mikroskopis ini menjadi ancaman paling serius bagi organ pernapasan manusia karena ukurannya yang sedemikian renik memungkinkan zat polutan tersebut menembus jauh ke dalam alveolus paru-paru hingga masuk ke peredaran darah. Pajanan asap karhutla secara terus-menerus dapat memicu timbulnya Infeksi Saluran Pernapasan Akut, memperburuk kondisi penderita asma, bronkitis kronis, serta menimbulkan iritasi parah pada mata dan tenggorokan.

Prakiraan cuaca dari BMKG menunjukkan bahwa pergerakan polutan asap karhutla di sebagian kawasan Kalimantan masih berpotensi bertahan dan meluas seiring belum meratanya curah hujan di wilayah terdampak. Menghadapi potensi penurunan kualitas udara hingga kategori tidak sehat atau bahkan berbahaya, masyarakat diimbau untuk membatasi aktivitas fisik yang berat di luar ruangan. Apabila warga terpaksa bepergian, penggunaan masker berstandar medis atau masker respirator yang mampu menyaring partikel mikro sangat dianjurkan guna memberikan perlindungan maksimal.

Perlindungan ekstra juga patut diberikan kepada kelompok masyarakat rentan, seperti bayi, anak-anak usia dini, wanita hamil, serta warga lanjut usia yang memiliki riwayat penyakit kardiovaskular. Pihak sekolah dan fasilitas publik di wilayah yang terpapar kabut asap

Also Read
Latest News
  • Warga Kalimantan Diimbau Rutin Pantau Kualitas Udara Akibat Kepungan Asap Karhutla
  • Warga Kalimantan Diimbau Rutin Pantau Kualitas Udara Akibat Kepungan Asap Karhutla
  • Warga Kalimantan Diimbau Rutin Pantau Kualitas Udara Akibat Kepungan Asap Karhutla
  • Warga Kalimantan Diimbau Rutin Pantau Kualitas Udara Akibat Kepungan Asap Karhutla
  • Warga Kalimantan Diimbau Rutin Pantau Kualitas Udara Akibat Kepungan Asap Karhutla
  • Warga Kalimantan Diimbau Rutin Pantau Kualitas Udara Akibat Kepungan Asap Karhutla
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad