Pontianak - Badan Nasional Penanggulangan Bencana melaporkan bahwa sebaran titik panas yang menjadi indikasi awal kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kalimantan Barat kembali mengalami lonjakan yang sangat signifikan. Kondisi ini berbanding terbalik dengan situasi di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah yang justru mulai menunjukkan tren penurunan jumlah titik panas. Meskipun demikian, ancaman kabut asap pekat tetap membayangi hampir seluruh wilayah di Pulau Kalimantan akibat akumulasi titik api yang masih aktif membakar lahan, terutama di area gambut yang sangat sulit dipadamkan secara total.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menjelaskan dalam keterangan resminya bahwa fluktuasi jumlah titik panas ini sangat dinamis dan dipengaruhi oleh kondisi cuaca setempat. Menurut pantauan terbaru dari satelit, sebaran titik panas di Kalimantan Barat bertambah secara drastis dalam beberapa hari terakhir. Sementara untuk wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, trennya memang relatif menurun secara kuantitas, namun intensitas kebakaran di lapangan tetap memerlukan kewaspadaan tinggi karena adanya peningkatan jumlah titik api aktif di darat yang memicu asap tebal.
Data terkini menunjukkan bahwa di Provinsi Kalimantan Barat, jumlah titik panas melonjak tajam sebanyak 3.553 titik, sehingga total keseluruhan saat ini mencapai 7.377 titik panas. Lonjakan luar biasa ini juga diikuti oleh kenaikan jumlah titik api riil sebanyak 16 titik, yang kini terpantau berjumlah 72 titik api aktif di berbagai kabupaten. Dampak langsung dari situasi memprihatinkan ini adalah penurunan kualitas udara dan jarak pandang yang kini terpantau sangat terbatas, berada di bawah angka satu kilometer. Kondisi ekstrem ini mulai mengganggu aktivitas transportasi darat, udara, serta jalur pelayaran sungai yang vital bagi masyarakat setempat.
Sementara itu, di wilayah Kalimantan Tengah, meskipun jumlah titik panas tercatat mengalami penurunan sebanyak 147 titik menjadi 5.244 titik, situasi di lapangan dilaporkan belum sepenuhnya aman dari ancaman kebakaran. Jumlah titik api riil di provinsi ini justru mengalami kenaikan sebanyak 16 titik hingga mencapai angka 72 titik aktif. Kondisi atmosfer di Kalimantan Tengah juga tidak jauh berbeda dengan Kalimantan Barat, di mana jarak pandang di beberapa wilayah padat penduduk terpantau kurang dari satu kilometer akibat kepungan asap tebal yang terus keluar dari lahan gambut yang terbakar hebat.
Kondisi yang relatif lebih terkendali terlihat di Kalimantan Selatan. Jumlah titik panas di wilayah ini dilaporkan berkurang cukup signifikan sebanyak 405 titik, sehingga kini hanya tersisa sekitar 504 titik panas saja. Kendati demikian, titik api aktif di lapangan terpantau masih mengalami kenaikan tipis sebanyak tiga titik menjadi 55 titik api aktif. Jarak pandang di wilayah Kalimantan Selatan juga masih berada dalam kategori rendah, yakni terpantau kurang dari dua kilometer, yang menuntut kehati-hatian ekstra bagi para pengendara jalan raya guna menghindari kecelakaan lalu lintas.
Secara nasional, perbandingan juga dilakukan dengan beberapa wilayah di Pulau Sumatra yang juga rawan karhutla. Di Sumatra, wilayah Riau dan Jambi menunjukkan penurunan titik panas yang sangat signifikan dengan jarak pandang yang masih cukup baik berkisar antara empat hingga tujuh kilometer. Namun, Sumatra Selatan justru mengalami kenaikan titik panas sebanyak 209 titik sehingga menjadi 1.013 titik. Perbedaan karakteristik geografis, kelembapan udara, dan cuaca lokal antara Sumatra dan Kalimantan ini memengaruhi tingkat efektivitas pemadaman alami melalui curah hujan yang turun di masing-masing wilayah.
Sebagai langkah cepat penanggulangan bencana, pihak pemerintah terus mengoptimalkan operasi pemadaman, baik melalui jalur darat maupun dari udara. Sebanyak 53 armada udara telah dikerahkan ke enam provinsi prioritas penanganan karhutla, termasuk tiga provinsi utama di Kalimantan yang terdampak paling parah. Dari puluhan armada tersebut, 19 unit helikopter dikhususkan untuk melakukan patroli pengawasan udara serta mendukung operasi teknologi modifikasi cuaca guna memicu awan hujan buatan. Sementara 34 unit helikopter lainnya difungsikan khusus sebagai armada pengeboman air untuk memadamkan kebakaran di area terpencil yang sulit dijangkau oleh satgas darat.
Tantangan terbesar dalam proses pemadaman di wilayah Kalimantan adalah dominasi karakteristik lahan gambut yang sangat rentan terbakar selama musim kemarau panjang. Kebakaran pada lahan gambut sering kali tidak hanya terjadi di permukaan, melainkan merembet hingga ke dalam lapisan bawah tanah sedalam beberapa meter. Hal inilah yang menyebabkan proses pemadaman membutuhkan volume air yang sangat melimpah dan waktu penanganan yang lama. Api yang tampak padam di permukaan bisa sewaktu-waktu menyala kembali karena bara panas di dalam tanah gambut yang masih aktif ditiup angin kering.
Dampak buruk kabut asap akibat kebakaran hutan ini kini mulai dirasakan secara langsung oleh masyarakat dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Penurunan kualitas udara yang drastis memicu peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut, terutama menyerang kelompok rentan seperti anak-anak balita, wanita hamil, dan golongan lanjut usia. Pemerintah daerah di wilayah terdampak telah mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas luar ruangan yang tidak mendesak, memakai masker standar saat terpaksa bepergian, serta menjaga konsumsi air putih guna meminimalisasi dampak buruk paparan partikel debu sisa pembakaran yang berbahaya bagi paru-paru.






