Balikpapan - Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispustakar) Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, mengambil langkah konkret untuk menjaga dan merawat ingatan kolektif warga melalui penyelenggaraan pameran arsip sejarah. Langkah ini diambil bukan sekadar sebagai kegiatan seremonial, melainkan sebagai sebuah jembatan penting yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini bagi masyarakat perkotaan yang dinamis. Melalui pameran ini, warga diajak untuk melihat kembali rekam jejak perkembangan kota dari berbagai periode penting yang telah membentuk identitas Balikpapan hingga menjadi salah satu pusat ekonomi utama di Pulau Kalimantan seperti sekarang.
Kepala Dispustakar Balikpapan, Neny Dwi Winahyu, menjelaskan bahwa seluruh dokumen sejarah yang disajikan dalam pameran ini merupakan arsip sekunder yang telah direproduksi dengan kualitas tinggi. Sementara itu, arsip primer atau dokumen asli yang memiliki nilai sejarah sangat tinggi tetap tersimpan secara aman di bawah pengawasan ketat Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) di Jakarta. Langkah ini dilakukan demi menjaga kelestarian fisik dokumen asli yang rentan terhadap kerusakan akibat faktor usia dan lingkungan, tanpa mengurangi nilai edukasi yang ingin disampaikan kepada masyarakat pengunjung pameran.
Saat ini, terdapat sedikitnya lima puluh koleksi arsip bernilai sejarah tinggi dari ANRI yang telah dilengkapi dengan kode dokumentasi resmi. Menariknya, pihak penyelenggara sengaja tidak memajang seluruh koleksi tersebut secara sekaligus dalam satu waktu. Dispustakar Balikpapan menerapkan strategi rotasi materi pameran yang direncanakan akan diperbarui setiap satu hingga dua bulan sekali. Melalui pola rotasi berkala ini, masyarakat yang datang berkunjung kembali di lain waktu akan selalu disuguhi narasi sejarah yang berbeda dan segar, sehingga dinamika perjalanan Kota Balikpapan dari masa ke masa dapat dipelajari secara lebih mendalam dan komprehensif.
Selain memanfaatkan koleksi yang ada di dalam negeri, Dispustakar Balikpapan juga menunjukkan komitmen yang kuat dengan berupaya menelusuri arsip-arsip sejarah penting yang masih berada di luar negeri, salah satunya di Belanda. Proses penelusuran dokumen kolonial ini tidak dilakukan secara mandiri, melainkan melalui koordinasi intensif dengan ANRI serta melibatkan pemerintah pusat. Kolaborasi lintas negara ini sangat krusial mengingat dokumen sejarah mengenai awal mula eksploitasi minyak bumi dan tata kota Balikpapan pada era kolonial banyak disimpan di lembaga kearsipan Belanda, seperti Nationaal Archief di Den Haag.
Sejarah Kota Balikpapan sendiri memang sangat kaya dan erat kaitannya dengan perkembangan industri minyak bumi di tanah air. Kota ini mulai berkembang pesat setelah pengeboran sumur minyak pertama yang diberi nama sumur Mathilda pada akhir abad ke-19, tepatnya pada tahun 1897. Sejak saat itu, Balikpapan bertransformasi dari sebuah perkampungan nelayan kecil menjadi kota industri modern yang diperebutkan oleh kekuatan-kekuatan global, termasuk saat berkecamuknya Perang Dunia Kedua di kawasan Asia Pasifik. Rekaman peristiwa sejarah inilah yang ingin dihidupkan kembali melalui arsip visual, peta kuno, dan dokumen tertulis yang dipamerkan oleh Dispustakar.
Dalam menyukseskan misi penyelamatan sejarah ini, pemerintah daerah tidak berjalan sendirian. Dispustakar Balikpapan turut merangkul para sejarawan lokal dan komunitas budaya setempat yang memiliki perhatian besar terhadap pelestarian warisan kota. Salah satu mitra penting dalam gerakan ini adalah Rudi, seorang pegiat sejarah lokal yang secara aktif mengelola Rumah Dahor. Rumah Dahor sendiri merupakan situs cagar budaya berupa rumah panggung kayu peninggalan masa kolonial Belanda yang kini difungsikan sebagai pusat dokumentasi dan edukasi sejarah perjuangan serta perkembangan industri minyak di Balikpapan.
Pameran yang baru saja dibuka ini mendapatkan respons positif dari berbagai kalangan masyarakat. Meskipun masih berada dalam tahap awal pameran, antusiasme warga, khususnya generasi muda, sudah mulai terlihat dengan jelas. Hanya berselang satu hari setelah pameran ini resmi dibuka untuk umum, dua rombongan pelajar dari sekolah lokal langsung datang berkunjung untuk melakukan studi sejarah secara langsung. Kunjungan edukatif seperti ini menjadi bukti bahwa ruang publik yang menyajikan sejarah secara visual masih sangat diminati dan dibutuhkan oleh institusi pendidikan sebagai pelengkap kurikulum belajar mengajar di kelas.
Masyarakat umum, komunitas, maupun pihak sekolah yang tertarik untuk mendalami sejarah Balikpapan dapat mengunjungi pameran ini setiap hari kerja, yaitu dari hari Senin hingga Jumat, mengikuti jam operasional pelayanan Dispustakar. Sebagai kota yang kini memegang peran strategis sebagai salah satu penyangga utama pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), Balikpapan menghadapi tantangan modernisasi yang sangat cepat. Di tengah derasnya arus urbanisasi dan pembangunan fisik yang masif, upaya merawat ingatan kolektif kota melalui arsip sejarah menjadi fondasi penting agar masyarakat tidak kehilangan akar budaya dan identitas lokal mereka.
Menjaga arsip dan mendokumentasikannya dengan baik bukan sekadar urusan administrasi masa lalu, melainkan investasi kultural bagi generasi masa depan. Melalui pameran arsip sejarah yang digagas oleh Dispustakar Balikpapan ini, diharapkan nilai-nilai perjuangan, keuletan, dan sejarah panjang kota minyak ini dapat terus diwariskan dengan utuh. Dengan demikian, di tengah laju perkembangan zaman menuju kota metropolitan yang modern, Balikpapan akan senantiasa tumbuh sebagai kota yang menghargai sejarahnya, menjadikan masa lalu sebagai cermin berharga untuk melangkah mantap menuju masa depan yang lebih gemilang.







