gambar hanya ilustrasi
Pontianak - Kebakaran hutan dan lahan di Pulau Kalimantan kembali menunjukkan eskalasi yang mengkhawatirkan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana melaporkan adanya peningkatan jumlah titik api secara signifikan di tiga provinsi utama, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Kondisi ini memicu kepulan kabut asap tebal yang mengganggu aktivitas warga serta menurunkan jarak pandang secara drastis hingga di bawah satu kilometer di beberapa lokasi terdampak parah.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menjelaskan bahwa cuaca kering memicu peningkatan jumlah titik panas yang kemudian berkembang menjadi titik api aktif. Berdasarkan pantauan satelit terkini, lonjakan paling signifikan terdeteksi di wilayah Kalimantan Barat. Meskipun di beberapa provinsi lain menunjukkan tren penurunan titik panas, kehadiran titik api di lapangan justru mengalami peningkatan. Fenomena ini membuktikan bahwa meskipun area sebaran panas menyusut, intensitas kebakaran di lapangan justru semakin meluas.
Secara rinci, Kalimantan Barat mencatatkan lonjakan drastis dengan jumlah titik panas mencapai 7.377 titik, naik 3.553 titik dari periode sebelumnya. Dari jumlah tersebut, titik api aktif melonjak menjadi 104 titik. Dampak langsung situasi ini adalah penurunan drastis kualitas udara dan jarak pandang yang kini berada di bawah satu kilometer. Kepekatan asap di wilayah ini membuat aktivitas luar ruangan menjadi sangat berisiko bagi kesehatan masyarakat luas yang tinggal di sekitar kawasan terdampak.
Situasi serupa terjadi di Kalimantan Tengah yang mencatatkan 5.244 titik panas. Meski angka tersebut turun 147 titik dari hari sebelumnya, jumlah titik api aktif justru naik sebanyak 16 titik menjadi total 72 titik. Akibatnya, jarak pandang di wilayah Kalimantan Tengah juga memburuk hingga kurang dari satu kilometer. Sementara itu, Kalimantan Selatan mendeteksi 504 titik panas dengan 55 titik api aktif, yang membatasi jarak pandang hingga di bawah dua kilometer.
Berton menambahkan bahwa berdasarkan analisis data polutan BMKG, konsentrasi polutan di atmosfer Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan diprediksi masuk dalam kategori sangat pekat. Kondisi udara yang buruk ini diperkirakan bertahan hingga beberapa hari ke depan jika intensitas kebakaran tidak diredam. Konsentrasi asap tebal ini tidak hanya mengancam kesehatan pernapasan manusia tetapi juga berpotensi mengganggu kestabilan ekosistem setempat secara masif dan merusak keanekaragaman hayati.
Kebakaran di Kalimantan kerap menjadi tantangan berat karena sebagian besar lahan yang terbakar merupakan lahan gambut. Karakteristik lahan gambut yang menyimpan bahan organik kering hingga kedalaman beberapa meter membuat api sangat sulit dipadamkan sepenuhnya. Api dapat terus membara di bawah tanah tanpa terlihat di permukaan, memicu kabut asap tebal yang baru akan padam sepenuhnya setelah diguyur hujan lebat atau melalui upaya pembasahan total secara masif.
Dampak kesehatan akibat paparan kabut asap ini mulai dikeluhkan oleh warga sekitar. Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut diprediksi melonjak jika kondisi udara tidak kunjung membaik. Pemerintah daerah pun mulai mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas luar ruangan, terutama bagi anak-anak dan lansia. Penggunaan masker standar medis sangat disarankan bagi warga yang terpaksa keluar rumah guna menghindari paparan partikel halus berbahaya dari asap karhutla.
Sektor penerbangan sipil juga mulai merasakan dampak buruk dari penurunan jarak pandang ini. Jarak pandang di bawah satu kilometer berpotensi mengganggu jadwal penerbangan di bandara utama seperti Bandara Supadio di Pontianak dan Bandara Tjilik Riwut di Palangkaraya. Penundaan jadwal hingga pengalihan pendaratan pesawat sangat mungkin terjadi apabila kabut asap tidak segera terurai oleh tiupan angin kencang atau bantuan curah hujan buatan.
Menyikapi krisis ini, BNPB bersama BPBD terus memperkuat sinergi pemadaman darat yang melibatkan personel Manggala Agni, TNI, Polri, dan relawan masyarakat. Meskipun terkendala akses air yang terbatas dan medan sulit, operasi ini terus dioptimalkan. Upaya pengeboman air menggunakan helikopter water bombing serta penerapan teknologi modifikasi cuaca untuk merangsang awan hujan buatan juga terus dikerahkan secara intensif di wilayah-wilayah prioritas tersebut.
Sementara itu, perkembangan kebakaran hutan di Pulau Sumatera dilaporkan relatif lebih terkendali. Provinsi Riau dan Jambi menunjukkan penurunan titik panas yang signifikan dengan jarak pandang berkisar antara empat hingga tujuh kilometer. Meskipun Sumatera Selatan mengalami kenaikan titik panas menjadi 1.013 titik, jumlah titik api aktif di sana justru menurun. Kondisi ini membuat fokus penanganan karhutla nasional kini terpusat penuh di Pulau Kalimantan.
Keberhasilan penanggulangan karhutla ini memerlukan kesadaran bersama seluruh lapisan masyarakat untuk tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar. Pengawasan ketat terhadap konsesi lahan milik perusahaan swasta maupun lahan masyarakat harus ditingkatkan secara berkala. Langkah preventif ini sangat krusial guna meminimalkan munculnya titik-titik api baru yang dapat memperparah kondisi kabut asap di masa-masa mendatang demi menjaga kelestarian lingkungan dan kesehatan generasi penerus bangsa.






