Palangka Raya - Udara pagi di Kota Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah, belakangan ini tidak lagi sesegar biasanya. Sejak fajar menyingsing sekitar pukul 05.59 WIB, aroma menyengat dari sisa pembakaran hutan dan lahan mulai menusuk rongga hidung warga yang hendak memulai aktivitas di luar rumah. Bau khas dari gambut yang terbakar ini seolah menjadi penanda buruk bahwa kondisi lingkungan sedang tidak baik-baik saja akibat bencana musiman yang terus berulang setiap musim kemarau panjang melanda wilayah ini. Kabut tipis berwarna putih keabu-abuan tampak menyelimuti sudut-sudut kota, membatasi jarak pandang sekaligus membawa partikel debu halus yang berbahaya bagi kesehatan pernapasan manusia.
Sejumlah warga yang ditemui saat beraktivitas pagi mengungkapkan kekhawatiran mendalam mereka terhadap kondisi udara ini. Udara yang terhirup terasa kering dan memicu batuk serta perih di mata jika terlalu lama berada di luar ruangan tanpa pelindung masker. Aktivitas luar ruangan seperti berolahraga pagi atau mengantar anak ke sekolah kini menjadi hal yang sangat dihindari oleh sebagian besar warga demi menjaga kesehatan diri dan keluarga dari paparan polutan berbahaya. Kondisi ini kian mengkhawatirkan karena wilayah Palangka Raya didominasi oleh tanah gambut dalam yang jika sekali terbakar akan sangat sulit dipadamkan dan terus memproduksi asap tebal selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu meskipun api di permukaan tampak sudah mengecil.
Berdasarkan data dari Indeks Standar Pencemar Udara yang dipantau melalui stasiun pemantauan kualitas udara di Palangka Raya, angka konsentrasi partikulat terus menunjukkan tren peningkatan yang signifikan sejak memasuki pertengahan September. Kualitas udara sering kali menyentuh kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat, terutama pada jam-jam krusial di pagi hari saat pergerakan angin cenderung lambat dan menahannya di lapisan bawah atmosfer dekat permukaan tanah. Hal ini diperparah oleh minimnya curah hujan akibat fenomena El Nino yang melanda sebagian besar wilayah Indonesia sepanjang tahun tersebut, membuat semak belukar dan lahan tidur menjadi sangat kering dan sangat mudah tersulut api, baik secara sengaja maupun tidak sengaja.
Kondisi udara yang kian memburuk ini berdampak langsung pada lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut yang dilaporkan oleh sejumlah fasilitas kesehatan di ibu kota provinsi tersebut. Puskesmas dan rumah sakit daerah mulai dipadati oleh pasien yang mengeluhkan sesak napas, batuk kering, radang tenggorokan, hingga iritasi mata, di mana anak-anak dan kelompok lanjut usia menjadi kelompok rentan yang paling banyak terdampak. Pemerintah daerah melalui dinas kesehatan terus mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan dan wajib mengenakan masker standar medis jika memang terpaksa harus keluar rumah untuk bekerja atau keperluan mendesak lainnya. Pembagian masker gratis juga mulai gencar dilakukan di beberapa titik persimpangan jalan protokol guna mengantisipasi paparan asap yang lebih masif.
Sementara itu, upaya pemadaman darat dan udara terus diintensifkan oleh tim satgas penanggulangan kebakaran hutan dan lahan Kalimantan Tengah. Petugas gabungan yang terdiri dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Manggala Agni, TNI, Polri, serta para relawan peduli api bahu-membahu melakukan penyekatan dan pembasahan lahan gambut yang masih mengeluarkan kepulan asap. Kendala utama di lapangan sering kali berupa sulitnya akses jalan menuju titik api yang berada di tengah hutan belantara serta minimnya sumber air di sekitar lokasi kebakaran karena anak-anak sungai mulai mengering akibat kemarau ekstrem yang melanda wilayah tangkapan air tersebut.
Selain pemadaman darat, helikopter pengebom air atau water bombing bantuan dari pemerintah pusat juga terus dioperasikan untuk menjangkau lokasi-lokasi kebakaran yang tidak dapat diakses oleh kendaraan darat. Setiap hari, helikopter-helikopter ini hilir mudik mengambil air dari sungai-sungai besar yang masih menyisakan debit air untuk kemudian dijatuhkan di atas lahan-lahan gambut yang membara. Namun, efektivitas pemadaman ini sangat bergantung pada kecepatan angin dan ketebalan asap yang sering kali menghalangi jarak pandang pilot helikopter, sehingga operasional penerbangan pemadaman adakalanya harus ditunda demi keselamatan kru penerbang itu sendiri.
Dampak sosial lain dari bencana kabut asap ini juga mulai menyentuh sektor pendidikan di Palangka Raya. Pemerintah kota sempat mengkaji opsi untuk menyesuaikan jam masuk sekolah bagi para siswa guna menghindari paparan asap pagi hari yang sangat pekat. Beberapa sekolah bahkan telah mengambil langkah antisipatif dengan memundurkan jam masuk kelas menjadi lebih siang atau bahkan kembali menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh secara daring jika indeks pencemaran udara sudah berada pada level berbahaya. Keputusan sulit ini terpaksa diambil demi melindungi kesehatan generasi muda dari ancaman penyakit paru-paru jangka panjang akibat terus-menerus menghirup udara beracun.
Bencana kabut asap tahunan ini kembali menyadarkan semua pihak akan pentingnya komitmen bersama dalam menjaga ekosistem gambut dan mencegah pembukaan lahan dengan cara dibakar. Penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku pembakaran lahan, baik perorangan maupun korporasi, harus terus ditegakkan tanpa pandang bulu agar memberikan efek jera yang nyata. Selain itu, restorasi lahan gambut melalui program pembasahan kembali dan pembuatan sekat kanal perlu terus dilanjutkan secara konsisten agar lahan basah Kalimantan Tengah tetap terjaga kelembapannya dan tidak mudah menjadi pemicu bencana kabut asap yang menyengat di masa-masa mendatang. Kehidupan yang sehat dan udara yang bersih adalah hak mendasar warga yang harus diusahakan bersama demi keberlangsungan hidup generasi mendatang di bumi Tambun Bungai ini.







