Pontianak - Kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan kembali menyelimuti wilayah Kalimantan, memicu kekhawatiran besar akan kesehatan masyarakat dan kelestarian ekosistem. Laporan terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana menunjukkan kondisi di beberapa provinsi berada pada tingkat cukup kritis. Wilayah dengan dampak paling parah adalah Kalimantan Barat, di mana kualitas udara merosot tajam hingga masuk kategori berbahaya. Partikel debu dan asap sisa pembakaran yang pekat membuat jarak pandang di lapangan menurun drastis di bawah satu kilometer, mengganggu aktivitas transportasi darat maupun udara.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, menyatakan bahwa perhatian pemerintah saat ini terfokus besar pada Kalimantan Barat karena tebalnya lahan gambut yang terbakar. Di wilayah Kalimantan Barat saja, terdeteksi sebanyak 61 titik api dengan luas lahan terbakar mencapai 802 hektare. Meskipun tim gabungan di lapangan berhasil memadamkan sekitar 432 hektare dari total area terbakar, sisa lahan yang membara terus melepaskan asap tebal ke atmosfer secara terus-menerus. Karakteristik lahan gambut yang kering memang membuat api sulit dipadamkan secara total hanya dari permukaan tanah.
Kondisi udara yang buruk di Pontianak dan sekitarnya memicu peningkatan risiko penyakit saluran pernapasan akut bagi warga setempat. Paparan partikel halus berbahaya yang terkandung di dalam kabut asap berpotensi merusak paru-paru jika terhirup dalam jangka panjang. Instansi kesehatan mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan penderita penyakit paru. Penggunaan masker standar medis menjadi hal yang sangat disarankan guna meminimalkan dampak buruk kabut asap. Pemerintah daerah juga diminta membagikan masker secara gratis kepada kelompok masyarakat yang rentan terdampak.
Selain Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah mencatatkan angka titik api yang sangat mengkhawatirkan. Wilayah ini menjadi daerah dengan jumlah titik api terbanyak, yakni mencapai 70 titik. Luas total lahan terbakar di Kalimantan Tengah dilaporkan mencapai 225 hektare, dengan upaya pemadam di lapangan berhasil menjinakkan api di lahan seluas 197 hektare. Meskipun sebagian besar lahan berhasil dipadamkan, pekatnya asap membuat kualitas udara di wilayah tersebut berada pada kategori tidak sehat dengan jarak pandang terbatas hanya berkisar sekitar 2,5 kilometer saja.
Kondisi serupa terjadi di Kalimantan Selatan dengan temuan sebanyak 56 titik api yang membakar lahan seluas 305 hektare. Hingga kini, upaya pemadaman yang dilakukan oleh satuan tugas baru berhasil menyelamatkan sekitar 112 hektare lahan dari kobaran api. Kualitas udara di Kalimantan Selatan dilaporkan berfluktuasi dari kategori sedang hingga tidak sehat, dengan jarak pandang terbatas di bawah lima kilometer. Mengingat tantangan pemadaman di lahan gambut yang sangat kompleks, satuan tugas di sana mulai menerapkan pendekatan teknologi baru untuk mengatasi masalah ini.
Salah satu inovasi yang kini diterapkan di Kalimantan Selatan adalah penggunaan drone thermal untuk memetakan sebaran api di bawah permukaan tanah. Penggunaan teknologi ini sangat krusial karena api pada lahan gambut sering kali tidak terlihat di permukaan, melainkan terus menjalar di dalam lapisan tanah yang kering. Dengan bantuan sensor panas pada drone tersebut, petugas dapat mendeteksi titik panas tersembunyi yang berpotensi memicu kebakaran baru. Setelah titik teridentifikasi, petugas melakukan tindakan injeksi menggunakan cairan surfaktan untuk menurunkan tegangan permukaan air agar dapat meresap ke pori-pori tanah gambut.
Upaya pemadaman dengan teknologi ini terpaksa dioptimalkan karena operasi modifikasi cuaca atau pembuatan hujan buatan tidak dapat dilakukan dalam waktu dekat. Berdasarkan analisis atmosfer dari BMKG, saat ini tidak ditemukan potensi pertumbuhan awan hujan di atas wilayah Kalimantan Selatan. Tanpa adanya awan yang memadai, penyemaian garam di udara menjadi sia-sia sehingga tim di darat sepenuhnya mengandalkan pemadaman manual. Ketiadaan curah hujan alami ini memperpanjang masa kritis kekeringan yang membuat vegetasi di atas lahan gambut menjadi sangat mudah terbakar oleh percikan api sekecil apa pun.
Masalah kebakaran hutan ini sebenarnya juga melanda beberapa provinsi di Pulau Sumatera hingga Papua Barat. Namun, kedalaman lahan gambut di Kalimantan menjadikannya sebagai prioritas utama dalam operasi penanggulangan bencana nasional kali ini. Karakteristik geografis Kalimantan yang luas dengan aksesibilitas terbatas di pedalaman menjadi tantangan tersendiri bagi para personel di lapangan untuk menjangkau titik api baru. Oleh sebab itu, kesiapan fisik dan koordinasi yang kuat sangat diperlukan agar petugas dapat meminimalkan penyebaran api secara cepat sebelum meluas ke permukiman warga.
Menyikapi situasi yang memburuk, pemerintah pusat mendorong pemerintah daerah di Kalimantan untuk memperketat implementasi aturan hukum. Salah satunya adalah kepatuhan terhadap Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2026 tentang pencegahan kebakaran hutan dan larangan tegas pembukaan lahan dengan cara membakar. Aturan ini harus ditegakkan secara konsisten tanpa pandang bulu demi mencegah terjadinya bencana kabut asap tahunan yang merugikan. Kerja sama sinergis antara aparat, pemerintah daerah, dan masyarakat sangat dibutuhkan untuk menjaga wilayah hutan dari tindakan ilegal yang memicu bencana kebakaran ini.







