Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Ancaman Kabut Asap Karhutla Kalimantan yang Terus Mengintai dan Merenggut Nyawa Warga

gambar hanya ilustrasi

Puruk Cahu - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan kembali menyelimuti wilayah Pulau Kalimantan, membawa dampak buruk nyata bagi kesehatan masyarakat. Peristiwa tragis baru-baru ini menimpa seorang anak laki-laki berusia 11 tahun di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah. Bocah tersebut mengembuskan napas terakhir setelah berjuang melawan sesak napas akut di tengah kepungan asap tebal. Sebelum meninggal, korban sempat dirawat intensif di Rumah Sakit Umum Daerah Puruk Cahu. Namun, nyawanya tidak tertolong karena kondisi fisiknya terus memburuk akibat riwayat asma yang dideritanya sejak lama, yang diperparah oleh buruknya kualitas udara di pemukiman mereka.

Musibah memilukan di Murung Raya ini bukanlah satu-satunya kejadian fatal yang dilaporkan belakangan ini. Di wilayah Kalimantan Barat, tepatnya pada awal Agustus 2026, sebuah insiden serupa merenggut nyawa seorang pemuda bernama Taufik Hidayat. Pria berusia 26 tahun tersebut ditemukan meninggal dunia setelah terjebak kepulan asap kebakaran hutan yang sangat pekat di Jalan Poros Sungai Pelang-Tumbang Titi, Desa Pelang, Kabupaten Ketapang. Taufik diduga kehilangan kesadaran akibat kehabisan oksigen saat berkendara menembus kabut asap yang tebal, sebelum akhirnya tubuhnya lemas dan nyawanya tidak dapat diselamatkan lagi oleh tim medis yang datang menolong.

Kematian beruntun di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat ini membangkitkan ingatan kolektif masyarakat atas tragedi kebakaran hutan dahsyat pada tahun 2015 silam. Kala itu, kabut asap ekstrem tidak hanya melumpuhkan aktivitas ekonomi, tetapi juga merenggut sedikitnya 24 korban jiwa di berbagai wilayah tanah air. Bencana ekologis tersebut bahkan memicu polusi lintas batas yang mencemari langit Singapura dan Malaysia. Hal ini membuktikan bahwa kebakaran hutan bukan sekadar isu lingkungan biasa, melainkan ancaman nyata bagi keselamatan jiwa manusia di tingkat regional.

Salah satu kisah duka mendalam dari tragedi kabut asap 2015 dialami oleh keluarga Siti Neneng, warga Desa Bereng Bengkel, Kalimantan Tengah. Putrinya yang bernama Saripah meninggal dunia pada usia 22 tahun akibat kerusakan paru-paru setelah menghirup udara beracun selama hampir tiga bulan. Siti mengenang kembali bagaimana putrinya mengeluh sakit setiap kali mencoba menarik napas di dalam rumah mereka yang terkepung asap. Hasil rontgen dada menunjukkan kondisi paru-paru yang gelap tanpa rongga udara jelas, menjadi bukti medis betapa pekatnya partikel berbahaya yang merusak organ pernapasan vital sang anak.

Kehilangan anak secara mendadak meninggalkan trauma mendalam bagi Siti Neneng hingga hari ini. Pada masa sulit itu, indeks standar pencemaran udara di Kalimantan Tengah sempat melonjak drastis hingga menembus angka di atas 2.000 mikrogram per meter kubik. Angka ini jauh melampaui batas berbahaya yang berada pada tingkat level 300. Hingga sekarang, Siti mengaku masih merasakan kesedihan mendalam dan belum bisa sepenuhnya mengikhlaskan kepergian putrinya yang begitu cepat akibat dampak buruk pencemaran lingkungan yang terus berulang tanpa solusi permanen.

Kisah duka ini juga menyisipkan perjuangan bertahan hidup yang sangat berat di tengah bencana. Demi membiayai pengobatan dan menjenguk anaknya di rumah sakit, Siti Neneng terpaksa tetap bekerja mencari ikan di sungai meskipun pandangannya terhalang kabut asap pekat. Kenangan terakhir bersama Saripah pun masih melekat erat, termasuk permintaan sederhana sang anak yang ingin dibelikan kasur baru. Tragisnya, setelah kasur tersebut dibeli dan dibawa pulang dari toko, kondisi kesehatan Saripah justru menurun tajam hingga akhirnya ia mengembuskan napas terakhir di atas kasur baru yang belum sempat dilepas plastiknya.

Pengalaman pahit masa lalu mendorong peningkatan kesadaran warga desa di sekitar kawasan rawan. Siti Neneng bersama warga Desa Bereng Bengkel kini aktif memantau kondisi lingkungan secara mandiri. Setiap kali melihat kemunculan titik api sekecil apa pun di hutan sekitar pemukiman, mereka langsung melapor kepada pemadam kebakaran atau sukarelawan bencana setempat. Langkah cepat ini sangat krusial dilakukan agar kebakaran lahan gambut dapat segera diatasi sejak dini sebelum meluas dan memicu kabut asap baru yang berbahaya bagi warga.

Secara ilmiah, wilayah Kalimantan memiliki kerentanan tinggi terhadap kebakaran karena keberadaan lahan gambut yang luas. Saat musim kemarau tiba, lahan gambut yang mengering menjadi mudah terbakar dan sulit dipadamkan karena api merambat di bawah tanah. Kebakaran gambut menghasilkan asap pekat yang kaya akan karbon monoksida dan partikel halus PM2.5. Partikel super kecil ini mampu menembus masker biasa dan langsung masuk ke paru-paru, memicu infeksi saluran pernapasan akut hingga ancaman kardiovaskular fatal bagi masyarakat.

Upaya mitigasi jangka panjang memerlukan sinergi yang konsisten antara penegakan hukum bagi pelaku pembakaran, restorasi lahan gambut, serta pemberdayaan masyarakat lokal. Tanpa adanya langkah penanganan konkret di lapangan, siklus tahunan kabut asap akan terus menghantui warga Kalimantan setiap musim kemarau datang. Hal ini tidak hanya mengancam kesehatan generasi muda, tetapi juga berpotensi terus merenggut nyawa manusia secara sia-sia. Harapan warga sangat sederhana, yakni pemerintah mampu menjamin hak dasar mereka untuk menghirup udara yang bersih dan sehat setiap harinya.

Also Read
Latest News
  • Ancaman Kabut Asap Karhutla Kalimantan yang Terus Mengintai dan Merenggut Nyawa Warga
  • Ancaman Kabut Asap Karhutla Kalimantan yang Terus Mengintai dan Merenggut Nyawa Warga
  • Ancaman Kabut Asap Karhutla Kalimantan yang Terus Mengintai dan Merenggut Nyawa Warga
  • Ancaman Kabut Asap Karhutla Kalimantan yang Terus Mengintai dan Merenggut Nyawa Warga
  • Ancaman Kabut Asap Karhutla Kalimantan yang Terus Mengintai dan Merenggut Nyawa Warga
  • Ancaman Kabut Asap Karhutla Kalimantan yang Terus Mengintai dan Merenggut Nyawa Warga
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad