Pontianak - Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat mendorong penguatan kembali pendidikan sejarah perjuangan bangsa bagi generasi muda guna meningkatkan pemahaman tentang nilai kebangsaan serta menghargai pengorbanan para pahlawan. Hal tersebut disampaikan oleh Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, di sela peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang berlangsung khidmat di Kota Pontianak. Menurutnya, pemahaman yang mendalam mengenai sejarah tanah air merupakan fondasi penting bagi pembentukan karakter generasi penerus di tengah gempuran arus modernisasi.
Gubernur menekankan bahwa sejarah bukan sekadar rentetan peristiwa masa lalu yang dihafal, melainkan cermin besar untuk memahami proses panjang berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ia mengingatkan kembali jargon legendaris yang pernah disampaikan oleh Presiden Soekarno, yaitu Jas Merah, singkatan dari jangan sekali-kali melupakan sejarah. Menurutnya, pesan tersebut masih sangat relevan hingga hari ini, terutama untuk memupuk rasa cinta tanah air di kalangan milenial dan generasi z yang kelak akan memegang estafet kepemimpinan bangsa.
Dalam ingatan kolektif masyarakat, terutama generasi yang tumbuh pada era 1980-an, terdapat mata pelajaran khusus yang dikenal dengan nama Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa atau PSPB. Mata pelajaran ini dahulu diajarkan secara mandiri dan terpisah dari mata pelajaran sejarah umum maupun Pendidikan Moral Pancasila. Program instruksional ini dirancang secara khusus untuk menanamkan nilai-nilai patriotisme, heroisme, serta kronologi perjuangan fisik rakyat Indonesia dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan dari tangan penjajah. Namun, seiring dengan dinamika perubahan kurikulum nasional pascareformasi, mata pelajaran mandiri tersebut dilebur ke dalam mata pelajaran sejarah umum dan pendidikan kewarganegaraan.
Ria Norsan menilai hilangnya mata pelajaran khusus seperti PSPB meninggalkan celah dalam pemahaman sejarah yang bersifat aplikatif dan emosional bagi siswa. Ia berpendapat bahwa menghidupkan kembali substansi materi perjuangan bangsa secara lebih fokus dan mendalam di lingkungan sekolah sangat mendesak untuk dilakukan. Menurutnya, metode pengajaran sejarah saat ini perlu disesuaikan agar tidak sekadar berfokus pada hafalan tahun dan nama tokoh, melainkan mampu mentransfer nilai-nilai keteladanan, ketangguhan, dan rasa memiliki terhadap kedaulatan negara.
Tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini memang jauh berbeda dengan masa perjuangan fisik sebelum kemerdekaan. Generasi masa kini tidak lagi dituntut untuk memegang senjata atau bambu runcing di medan pertempuran guna mengusir penjajah. Alih-alih perjuangan fisik, tantangan nyata saat ini berada pada sektor penguasaan teknologi, persaingan ekonomi global, ketahanan budaya, dan pembangunan sumber daya manusia. Oleh karena itu, Gubernur mengajak para pemuda untuk mengisi kemerdekaan dengan memberikan kontribusi nyata di bidang masing-masing sesuai dengan keahlian, profesi, dan minat yang ditekuni.
Upaya menghidupkan kembali pemahaman sejarah perjuangan bangsa juga dinilai krusial dalam menyaring dampak negatif globalisasi yang berpotensi melunturkan semangat nasionalisme. Dengan adanya penguatan literasi sejarah di sekolah-sekolah, para pelajar diharapkan memiliki filter budaya yang kuat sehingga mampu memilah informasi asing tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia. Selain itu, pemahaman sejarah yang utuh diyakini dapat memperkokoh persatuan nasional di tengah keberagaman suku, agama, dan ras yang menjadi karakteristik utama Provinsi Kalimantan Barat.
Langkah taktis yang dapat diambil oleh pemerintah daerah dalam mendukung gagasan ini adalah melalui integrasi muatan lokal dalam kurikulum sekolah di tingkat dasar hingga menengah atas. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat dapat menyusun modul pengayaan yang menyoroti kontribusi para tokoh perjuangan lokal asal Kalimantan Barat dalam merebut kemerdekaan. Penokohan pejuang daerah seperti Rahadi Usman atau pertempuran-pertempuran bersejarah di bumi khatulistiwa dapat menjadi materi pembelajaran yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari para siswa, sehingga mampu menumbuhkan kebanggaan kedaerahan yang sehat dalam bingkai nasionalisme.
Selain melalui bangku sekolah formal, pengenalan sejarah perjuangan bangsa juga perlu memanfaatkan media digital dan metode pembelajaran yang interaktif. Generasi muda saat ini sangat akrab dengan konten visual dan media sosial. Oleh sebab itu, penyajian kisah perjuangan para pahlawan dalam bentuk infografis menarik, video dokumenter pendek, maupun siniar sejarah dinilai akan jauh lebih efektif dalam menjangkau audiens muda dibandingkan metode ceramah konvensional di kelas. Pendekatan kreatif ini diharapkan mampu menjembatani kesenjangan komunikasi antara nilai-nilai masa lalu dan gaya hidup modern.
Peran tenaga pendidik dan keluarga juga memegang posisi sentral dalam membangun ekosistem literasi sejarah ini. Guru sejarah di sekolah didorong untuk terus memperbarui metode pengajaran agar lebih humanis dan kontekstual, menghubungkan peristiwa masa lampau dengan isu-isu kontemporer yang relevan bagi siswa. Di lingkungan keluarga, orang tua diharapkan dapat memperkenalkan nilai-nilai perjuangan melalui cerita kepahlawanan atau dengan mengunjungi situs-situs bersejarah yang ada di Kalimantan Barat. Sinergi antara sekolah, keluarga, dan pemerintah daerah ini menjadi kunci utama keberhasilan penanaman nilai kebangsaan secara berkelanjutan.
Melalui momentum peringatan kemerdekaan ini, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat berharap seluruh elemen masyarakat tidak memandang upacara bendera dan perayaan tahunan sebagai rutinitas seremonial belaka. Sebaliknya, momen ini harus dijadikan sarana refleksi bersama untuk mengevaluasi sejauh mana kontribusi yang telah diberikan untuk kemajuan daerah. Dengan menghidupkan kembali semangat perjuangan masa lalu di dalam jiwa generasi muda, Kalimantan Barat optimis dapat melahirkan sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, dan siap membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih gemilang.






