Gambar hanya ilustrasi
Palangkaraya - Kebakaran hutan dan lahan yang kembali melanda sejumlah wilayah di Pulau Kalimantan kini tengah menjadi perhatian serius. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengungkapkan bahwa peningkatan titik panas dan kemunculan kabut asap tebal dipicu oleh kondisi iklim yang sangat kering. Kondisi ekstrem ini merupakan dampak langsung dari fenomena El Nino yang saat ini berada pada intensitas sangat kuat, sehingga membuat vegetasi dan lahan gambut di Kalimantan menjadi sangat mudah terbakar dan menghasilkan kepulan asap pekat.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa kondisi atmosfer dan cuaca yang kering menjadi faktor utama yang mempermudah terjadinya kebakaran, baik karena faktor alam maupun aktivitas manusia. Karakteristik lahan di Kalimantan, terutama lahan gambut yang kering, sangat rentan mengalami kebakaran bawah permukaan yang sulit dipadamkan. Ketika lahan tersebut terbakar, volume asap yang dihasilkan jauh lebih besar dibandingkan dengan kebakaran pada lahan tanah mineral biasa, yang kemudian menyebar ke wilayah pemukiman sekitarnya.
Berdasarkan hasil pemantauan intensif BMKG hingga dasarian pertama Agustus dua ribu dua puluh enam, intensitas fenomena El Nino berada pada tingkat yang mengkhawatirkan. Ardhasena memaparkan bahwa indeks Indian Ocean Dipole menunjukkan angka positif nol koma empat ratus lima puluh tujuh pada awal Agustus, mengalami kenaikan dari bulan Juli yang tercatat sebesar positif nol koma dua ratus empat puluh dua. Sementara itu, nilai anomali suhu muka laut di wilayah Samudra Pasifik bagian tengah, yang dikenal sebagai wilayah Nino tiga titik empat, mencapai angka positif dua koma tujuh puluh tujuh, melonjak dari posisi Juli yang berada di angka positif dua koma dua puluh.
Angka-angka indeks tersebut secara ilmiah membuktikan bahwa El Nino yang sedang berlangsung berada pada kategori sangat kuat. Kombinasi antara El Nino kuat dan fenomena Indian Ocean Dipole positif ini secara historis selalu berdampak pada pengurangan curah hujan secara drastis di wilayah Indonesia, khususnya di bagian selatan khatulistiwa termasuk Kalimantan dan Sumatra. Penurunan curah hujan yang signifikan ini mempercepat hilangnya cadangan air permukaan dan menurunkan tinggi muka air tanah di lahan-lahan gambut secara drastis.
Kondisi kekeringan ini tidak hanya terjadi secara lokal, melainkan telah meluas ke sebagian besar wilayah tanah air. BMKG mencatat bahwa sebanyak tujuh puluh enam koma lima persen dari total wilayah Zona Musim di Indonesia kini telah memasuki musim kemarau. Tingkat kerawanan dan status kewaspadaan di setiap daerah pun bervariasi, tergantung pada akumulasi curah hujan bulanan serta kondisi kelembapan tanah di masing-masing wilayah administrasi.
Untuk wilayah Kalimantan sendiri, BMKG menetapkan status kerawanan kebakaran hutan dan lahan yang bervariasi antara waspada dan siaga. Provinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan saat ini masuk dalam kategori status waspada. Sementara itu, wilayah Kalimantan Tengah dan sebagian wilayah Kalimantan Selatan berada pada level yang lebih tinggi, yaitu status siaga. Penetapan status siaga ini menunjukkan bahwa potensi perluasan titik api di wilayah tersebut sangat tinggi dan membutuhkan penanganan taktis segera agar tidak meluas menjadi bencana kabut asap lintas batas yang merugikan.
Dampak dari kabut asap akibat kebakaran hutan ini mulai dirasakan oleh masyarakat setempat, terutama dalam sektor kesehatan dan transportasi. Penurunan kualitas udara di beberapa kota besar di Kalimantan dilaporkan telah memicu peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA, khususnya pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lanjut usia. Selain itu, jarak pandang yang terbatas pada pagi hari juga mulai mengganggu aktivitas penerbangan di beberapa bandara domestik serta membahayakan lalu lintas pelayaran di sungai-sungai besar Kalimantan yang menjadi urat nadi transportasi logistik.
Belajar dari pengalaman bencana kebakaran hutan besar pada tahun-tahun sebelumnya, langkah mitigasi yang cepat dan terintegrasi mutlak diperlukan. BMKG mengimbau seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, hingga masyarakat sipil untuk terus melakukan pemantauan ketat terhadap titik api yang muncul. Upaya pemadaman darat oleh satgas gabungan yang terdiri dari Manggala Agni, TNI, Polri, dan relawan harus didukung dengan teknologi modifikasi cuaca guna membasahi kembali lahan gambut yang telah mengering sebelum titik api makin meluas.
Ardhasena menegaskan bahwa langkah antisipasi dan mitigasi di lapangan tidak boleh kendur karena jumlah titik panas yang terpantau satelit masih terus berfluktuasi. Penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku pembakaran lahan, baik individu maupun korporasi, juga menjadi kunci penting dalam memutus rantai bencana tahunan ini. Kerja sama lintas sektoral diharapkan mampu meminimalkan kerugian ekologis dan ekonomi yang ditimbulkan oleh fenomena iklim ekstrem ini, sekaligus melindungi hak masyarakat untuk mendapatkan udara yang bersih dan sehat.






