Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Jejak Prasejarah di Serambi Nusantara: Geopark Sangkulirang-Mangkalihat Didorong Menjadi Mesin Baru Pariwisata Kaltim

 

Foto : piktag.com

Samarinda — Di tengah hingar-bingar pembangunan fisik Ibu Kota Nusantara (IKN) dan tingginya laju eksploitasi industri ekstraktif, Provinsi Kalimantan Timur kini mulai merajut asa baru untuk melepaskan ketergantungannya pada komoditas tak terbarukan. Sektor pariwisata berbasis alam dan edukasi sejarah ditetapkan sebagai instrumen strategis untuk memutar roda ekonomi masa depan, dengan Kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat tampil sebagai primadona utama. Bentang alam karst raksasa yang melintasi Kabupaten Kutai Timur dan Kabupaten Berau ini tidak sekadar menawarkan eksotisme geologis yang memukau mata, melainkan menyimpan rekam jejak peradaban manusia prasejarah yang tak ternilai harganya. Pemerintah provinsi beserta para pemangku kepentingan kini tengah menggeber berbagai persiapan komprehensif guna mendorong mahakarya alam ini meraih status bergengsi sebagai UNESCO Global Geopark, menjadikannya magnet pariwisata kelas dunia di beranda ibu kota.

Gugusan pegunungan kapur Sangkulirang-Mangkalihat sejatinya merupakan salah satu bentang ekosistem karst terbesar dan paling utuh yang tersisa di daratan nusantara. Membentang di atas area seluas ratusan ribu hektare, kawasan ini menyajikan lanskap topografi yang sangat dramatis, mulai dari menara-menara karst runcing yang menembus kanopi hutan hujan tropis, ngarai-ngarai curam nan terjal, hingga labirin gua bawah tanah yang dialiri sungai purba. Bagi para ahli geologi, formasi batuan di wilayah ini merupakan laboratorium alam raksasa yang menyimpan informasi krusial mengenai evolusi bumi. Struktur bebatuan di kawasan tersebut diestimasi terbentuk sejak jutaan tahun silam akibat pengangkatan tektonik dari dasar laut dangkal, menciptakan ekosistem terisolasi yang kini menjadi rumah perlindungan bagi ratusan flora dan fauna endemik Kalimantan.

Namun, daya tarik yang membuat Sangkulirang-Mangkalihat menjadi sorotan para peneliti global sesungguhnya terletak jauh di dalam relung-relung guanya yang gelap. Berdasarkan hasil ekskavasi dan penelitian intensif lintas negara selama dua dekade terakhir, kawasan ini terbukti menyimpan galeri seni prasejarah purba yang terekam jelas pada dinding-dinding cadas. Ribuan artefak lukisan purba berupa cetakan tangan negatif (hand stencils) dari warna merah okrer, figur hewan endemik seperti banteng liar, hingga simbol perburuan ditemukan tersebar di puluhan ceruk gua, dengan Gua Lubang Jeriji Saléh sebagai pusat penelitiannya. Uji penanggalan uranium telah memvalidasi bahwa lukisan cadas tersebut diperkirakan berusia lebih dari 40.000 tahun, memberikan bukti ilmiah yang kuat bahwa daratan Kalimantan merupakan salah satu titik awal kemunculan kesadaran seni rupa umat manusia di muka bumi.

Menyadari besarnya potensi tersebut, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melihat Geopark Sangkulirang-Mangkalihat sebagai kunci utama pembuka gerbang transformasi ekonomi daerah dari fase eksploitasi sumber daya alam menuju fase pelestarian berkelanjutan. Sektor pariwisata ekologi diproyeksikan akan memberikan dampak pengganda yang jauh lebih inklusif bagi kesejahteraan masyarakat lokal dibandingkan dengan penambangan masif. Model pengelolaan pariwisata ini secara penuh akan melibatkan partisipasi komunitas akar rumput. Masyarakat adat di sekitar kawasan, seperti di Desa Merabu yang telah sukses mengelola pelestarian hutan desanya, diberdayakan untuk menjadi pemandu wisata lokal, pengelola akomodasi penginapan homestay, hingga memproduksi kerajinan tangan khas daerah, sehingga masyarakat dapat memanen keuntungan ekonomi secara langsung tanpa mengeksploitasi alam.

Kendati visi yang diusung sangat luhur, proses untuk menyulap kawasan pelestarian warisan budaya purba ini menjadi destinasi wisata bertaraf internasional bukannya tanpa rintangan terjal. Hambatan paling fundamental yang saat ini tengah diurai oleh pemerintah adalah minimnya aksesibilitas infrastruktur darat menuju titik-titik inti geopark. Secara geografis, lokasi gugusan karst ini terbilang sangat terpencil dan membutuhkan perjuangan fisik ekstra untuk dijangkau. Wisatawan umumnya harus menempuh perjalanan darat selama belasan jam dari ibu kota provinsi yang dilanjutkan dengan menyusuri sungai menggunakan perahu serta berjalan kaki menembus belantara. Oleh karena itu, pembangunan akses jalan pendekat yang mulus dan aman, namun tetap mematuhi prinsip kehati-hatian lingkungan, menjadi agenda prioritas pemerintah daerah agar durasi dan kenyamanan perjalanan dapat ditekan secara ideal.

Tantangan struktural berikutnya berada pada koridor ketatnya proteksi tata ruang dan manajemen ancaman perusakan ekosistem. Status konservasi Sangkulirang-Mangkalihat harus berhadapan langsung dengan intaian perizinan konsesi pertambangan batu gamping serta aktivitas perambahan hutan di wilayah penyangga sekitarnya. Batuan kapur yang menyusun kawasan ini diincar industri berskala besar karena memiliki nilai komersial amat tinggi sebagai bahan baku utama pembuatan semen. Jika regulasi perlindungan tata ruang daerah tidak ditegakkan secara absolut, ekosistem purba ini berisiko hancur berkeping-keping akibat dinamit sebelum sempat dinikmati oleh generasi mendatang. Merespons ancaman tersebut, legislatif dan eksekutif daerah didesak untuk mengesahkan regulasi yang secara permanen mengunci kawasan ini dari segala bentuk eksplorasi ekstraktif komersial.

Pada ujung analisisnya, dorongan untuk menjadikan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat sebagai tulang punggung baru pariwisata Kalimantan Timur merupakan ikhtiar berani untuk mengharmonisasikan sejarah masa lalu dengan kebutuhan masa depan. Integrasi kawasan ini dengan peta jalan pariwisata Ibu Kota Nusantara diyakini akan menciptakan paket perjalanan peradaban tiada duanya; wisatawan dapat menyaksikan puncak tata kota cerdas masa depan di IKN, sekaligus menyusuri akar sejarah umat manusia puluhan ribu tahun silam di lorong karst. Kesuksesan pelestarian Sangkulirang-Mangkalihat kelak menjadi pembuktian nyata bagi Indonesia di mata dunia bahwa pembangunan ekonomi yang agresif dapat terus melangkah maju berdampingan, tanpa harus menghapus dan mengorbankan warisan peradaban leluhurnya sendiri.

 

Also Read
Tag:
Latest News
  • Jejak Prasejarah di Serambi Nusantara: Geopark Sangkulirang-Mangkalihat Didorong Menjadi Mesin Baru Pariwisata Kaltim
  • Jejak Prasejarah di Serambi Nusantara: Geopark Sangkulirang-Mangkalihat Didorong Menjadi Mesin Baru Pariwisata Kaltim
  • Jejak Prasejarah di Serambi Nusantara: Geopark Sangkulirang-Mangkalihat Didorong Menjadi Mesin Baru Pariwisata Kaltim
  • Jejak Prasejarah di Serambi Nusantara: Geopark Sangkulirang-Mangkalihat Didorong Menjadi Mesin Baru Pariwisata Kaltim
  • Jejak Prasejarah di Serambi Nusantara: Geopark Sangkulirang-Mangkalihat Didorong Menjadi Mesin Baru Pariwisata Kaltim
  • Jejak Prasejarah di Serambi Nusantara: Geopark Sangkulirang-Mangkalihat Didorong Menjadi Mesin Baru Pariwisata Kaltim
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad