![]() |
| Ilustrasi AI |
IKN – Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di
Kalimantan Timur tidak hanya berfokus pada pendirian gedung-gedung pemerintahan
yang megah atau infrastruktur jalan yang membelah hutan. Di balik deru mesin
konstruksi, ada denyut nadi kehidupan masyarakat lokal yang harus terus dijaga
dan dikembangkan. Pemerintah menyadari betul bahwa warga di sekitar kawasan IKN
tidak boleh hanya menjadi penonton di tengah masifnya transformasi peradaban
ini. Mereka harus menjadi aktor utama penggerak ekonomi.
Berangkat dari kesadaran tersebut, Otorita Ibu Kota
Nusantara (OIKN) mengambil langkah strategis dengan menggandeng Bank Indonesia
(BI). Keduanya merajut kolaborasi yang berfokus pada pemberdayaan sumber daya
manusia, khususnya dalam mengakselerasi sektor ekonomi kreatif di kawasan
penyangga. Salah satu wujud nyata dari sinergi ini adalah penyelenggaraan
program pelatihan pembuatan ecoprint bagi warga lokal. Langkah ini
dinilai sebagai terobosan cerdas yang mengawinkan potensi alam lokal dengan
nilai komersial tinggi.
Ecoprint: Seni Mengawinkan Alam dan Visi Forest City
Bagi sebagian orang, istilah ecoprint mungkin masih
terdengar asing. Secara sederhana, ecoprint adalah teknik pewarnaan dan
pencetakan motif pada kain yang menggunakan bahan-bahan alami, seperti
dedaunan, bunga, batang, hingga getah tanaman. Berbeda dengan tekstil pabrikan
yang menggunakan pewarna kimia sintetis, ecoprint sepenuhnya
mengandalkan pigmen alami dari kekayaan botani di sekitarnya.
Pemilihan pelatihan ecoprint sebagai instrumen
pemberdayaan masyarakat bukanlah tanpa alasan. Konsep ini sangat tegak lurus
dengan visi besar Ibu Kota Nusantara sebagai Forest City atau Kota Hutan
Berkelanjutan. Dengan memanfaatkan dedaunan dari berbagai vegetasi yang tumbuh
subur di wilayah Kalimantan Timur, warga diajarkan untuk memproduksi karya seni
terapan yang ramah lingkungan (eco-friendly).
Proses pembuatannya yang mengedepankan kelestarian alam
secara tidak langsung mendidik masyarakat untuk lebih menghargai ekosistem
hutan. Warga tidak perlu menebang pohon; mereka cukup mengumpulkan daun-daun
atau ranting yang jatuh, atau memetik secukupnya tanpa merusak tanaman induk.
Lembaran kain polos kemudian disulap menjadi produk bernilai seni tinggi dengan
jejak dedaunan yang estetik dan eksklusif, karena tidak ada satu pun motif ecoprint
yang benar-benar sama persis.
Mendorong UMKM Lokal Naik Kelas
Kolaborasi antara OIKN dan Bank Indonesia dalam program ini
membawa angin segar bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM),
terutama kaum perempuan dan ibu rumah tangga di wilayah penyangga. Bank
Indonesia, sebagai otoritas moneter yang menaruh perhatian besar pada
pengembangan UMKM, tidak hanya memberikan pelatihan teknis pembuatan ecoprint,
tetapi juga memfasilitasi pendampingan manajerial.
Pelatihan ini dirancang secara komprehensif, dari hulu ke
hilir. Di sektor hulu, warga dilatih mengenali jenis dedaunan lokal yang mampu
menghasilkan warna kuat dan tahan lama, serta diajarkan teknik fiksasi
(penguncian warna) agar kain tidak mudah luntur. Sementara itu di sektor hilir,
perwakilan dari Bank Indonesia memberikan literasi mengenai tata cara
pengemasan produk (packaging) yang menarik, penghitungan harga pokok
penjualan, hingga pemanfaatan transaksi digital menggunakan QRIS untuk
mempermudah sistem pembayaran.
Target utama dari pendampingan intensif ini adalah
"UMKM Naik Kelas". Produk ecoprint yang dihasilkan oleh
tangan-tangan terampil warga lokal nantinya tidak hanya berupa lembaran kain,
melainkan dikembangkan menjadi berbagai produk mode atau fashion siap
pakai. Mulai dari kemeja, selendang, tote bag, hingga suvenir eksklusif.
Menyiapkan Suvenir IKN dan Kemandirian Finansial
Dari kacamata ekonomi, inisiatif ini merupakan langkah
antisipatif yang sangat brilian. Seiring dengan berjalannya roda pemerintahan
di IKN, kawasan ini dipastikan akan dibanjiri oleh ribuan Aparatur Sipil Negara
(ASN), tamu negara, investor, hingga wisatawan domestik dan mancanegara.
Lonjakan pendatang ini merupakan ceruk pasar yang sangat menggiurkan bagi
industri pariwisata dan ekonomi kreatif.
Produk ecoprint buatan warga lokal diproyeksikan
untuk menjadi salah satu cenderamata atau suvenir resmi kebanggaan Ibu Kota
Nusantara. Tamu-tamu yang berkunjung kelak dapat membawa pulang buah tangan
yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga memiliki narasi kuat tentang
kelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat pedesaan.
Jika dikelola dengan konsisten, sektor ekonomi kreatif ini
akan memberikan dampak berganda (multiplier effect) bagi kemandirian
finansial masyarakat. Peningkatan pendapatan dari penjualan produk ecoprint
akan secara langsung mendongkrak daya beli warga, mengurangi angka
pengangguran, dan pada akhirnya mengentaskan kemiskinan di wilayah sekitar ibu
kota baru.
Sinergi antara Otorita IKN dan Bank Indonesia melalui
pelatihan ecoprint ini menjadi bukti bahwa pembangunan ibu kota baru
tidak melulu soal beton dan aspal. Ada komitmen kuat untuk membangun
manusianya, memastikan bahwa masyarakat lokal ikut berdaulat secara ekonomi dan
bangga menjadi bagian dari tonggak sejarah peradaban baru Indonesia.







