![]() |
| Ilustrasi AI |
Samarinda – Kalimantan Timur (Kaltim) mulai
meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Badan
Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kaltim mencatat sudah terdeteksi
77 titik panas atau hotspot yang tersebar di beberapa wilayah, meski musim
kemarau baru memasuki awal fase.
Koordinator Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD
Kaltim, Cahyo Kristanto, menyampaikan hal tersebut di Samarinda pada Rabu (1
April 2026). Pihaknya saat ini tengah menunggu penetapan status siaga bencana
hidrometeorologi dari Gubernur Kaltim melalui Surat Keputusan (SK) resmi
sebagai landasan penguatan penanganan lebih masif.
“Status siaga masih menunggu SK Gubernur. Regulasinya sedang
berproses dan kami berharap dalam waktu dekat sudah ditetapkan,” ujar Cahyo
Kristanto.
Meski status resmi belum keluar, BPBD Kaltim tidak menunggu
pasif. Berbagai langkah antisipasi sudah mulai dikerahkan, terutama menyongsong
puncak musim kemarau yang diprediksi terjadi pada Juli hingga September 2026.
Kesiapan sarana dan prasarana pemadaman, seperti mesin pompa air dan peralatan
pendukung lainnya, sedang dipastikan agar respons lapangan bisa lebih cepat dan
efektif ketika api muncul.
Titik panas yang terdeteksi tersebar di Kabupaten Paser,
Kutai Barat, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Berau, hingga Kota Bontang. Angka
77 hotspot ini muncul di awal kemarau, sehingga menjadi sinyal dini yang cukup
mengkhawatirkan mengingat riwayat karhutla di Kaltim yang kerap meluas saat
musim kering panjang.
Cahyo menekankan bahwa penanganan karhutla tidak bisa
dilakukan oleh satu pihak saja. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama
keberhasilan pencegahan dan penanggulangan. Sinergi antara pemerintah
kabupaten/kota, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), perusahaan perkebunan,
TNI/Polri, hingga Masyarakat Peduli Api (MPA) mutlak diperlukan.
“Penanganan karhutla tidak bisa dilakukan sendiri. Harus ada
kerja sama semua pihak agar lebih efektif,” tegasnya.
Berdasarkan evaluasi kejadian karhutla tahun 2023, hampir
seluruh wilayah di Kaltim memiliki tingkat kerawanan tinggi, khususnya di
kawasan lahan gambut yang sangat mudah terbakar ketika mengalami kekeringan.
Lahan gambut yang kering dapat menyimpan api di dalam tanah dan sulit
dipadamkan sepenuhnya, sehingga sering menjadi sumber api baru meski sudah
dilakukan pemadaman di permukaan.
BPBD Kaltim juga mengimbau seluruh masyarakat untuk ikut
berperan aktif mencegah karhutla. Salah satu imbauan utama adalah menghindari
pembakaran lahan saat membuka kebun atau lahan pertanian. Praktik membakar
lahan (slash and burn) yang masih kerap dilakukan sebagian masyarakat berisiko
tinggi memicu kebakaran yang sulit dikendalikan, terutama saat angin kencang
dan cuaca ekstrem.
“Kami minta masyarakat lebih waspada. Jangan membuka lahan
dengan cara dibakar karena risikonya sangat besar,” imbau Cahyo.
Selain memantau titik panas melalui satelit, BPBD Kaltim
juga terus melakukan patroli darat dan sosialisasi ke masyarakat di daerah
rawan. Pendekatan preventif ini diharapkan dapat menekan jumlah kejadian
karhutla yang berpotensi menimbulkan dampak luas, mulai dari kerusakan
lingkungan, kabut asap yang mengganggu kesehatan, hingga kerugian ekonomi
masyarakat.
Karhutla bukan hanya masalah lingkungan semata. Dampaknya
sering kali meluas ke sektor kesehatan akibat kabut asap, pariwisata,
transportasi, hingga aktivitas perekonomian sehari-hari. Di tahun-tahun
sebelumnya, Kaltim pernah mengalami musim karhutla yang cukup berat, sehingga
pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga untuk memperkuat kesiapsiagaan
tahun ini.
Pemerintah provinsi bersama BPBD juga terus berkoordinasi
dengan BMKG untuk memantau prakiraan cuaca jangka panjang. Meski potensi hujan
masih ada di beberapa wilayah saat ini, tren suhu yang meningkat dan curah
hujan yang menurun menandakan bahwa kewaspadaan harus ditingkatkan secara
bertahap.
Upaya pencegahan karhutla di Kaltim juga melibatkan
perusahaan-perusahaan besar yang memiliki konsesi lahan. Mereka diminta
memperkuat sistem pemantauan internal dan memiliki tim siaga api yang siap
dikerahkan kapan saja. Masyarakat Peduli Api di tingkat desa juga terus
didorong keaktifannya melalui pelatihan dan bantuan peralatan sederhana.
Dengan deteksi dini 77 titik panas ini, BPBD Kaltim berharap
seluruh pemangku kepentingan dapat bekerja sama lebih erat. Pencegahan jauh
lebih baik dan lebih murah daripada penanggulangan setelah api meluas. Puncak
kemarau yang diprediksi Juli–September 2026 menjadi periode kritis yang harus
diantisipasi sejak sekarang.
Masyarakat diimbau untuk melaporkan segera apabila melihat
asap atau titik api di sekitar lingkungan mereka melalui nomor darurat BPBD
setempat. Partisipasi aktif warga menjadi bagian terpenting dari sistem
peringatan dini karhutla di Kalimantan Timur.
BPBD Kaltim tetap optimistis dapat mengendalikan potensi
karhutla tahun ini dengan persiapan yang lebih matang. Namun, keberhasilan ini
sangat bergantung pada kesadaran dan kerja sama semua pihak, mulai dari
pemerintah, swasta, hingga masyarakat di tingkat paling bawah.
Situasi karhutla di Kaltim saat ini masih terkendali, tetapi
77 titik panas yang muncul di awal kemarau menjadi pengingat bahwa ancaman
nyata sudah di depan mata. Antisipasi dini dan kolaborasi yang kuat diharapkan
mampu menjaga Kaltim tetap hijau sepanjang musim kemarau 2026.







