![]() |
| Ilustrasi AI |
IKNTIME - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim)
terus memperkuat upaya percepatan penurunan stunting atau tengkes melalui
pendekatan berbasis keluarga. Sepanjang tahun 2026, sebanyak 75.092 keluarga
menjadi target edukasi guna mencegah kasus stunting baru, khususnya pada fase
krusial 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Program ini dijalankan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional melalui perwakilan di Kaltim, sebagai bagian dari strategi
nasional peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pendekatan edukasi keluarga
dipilih karena dinilai paling efektif dalam membentuk pola asuh, pemenuhan
gizi, serta kesadaran kesehatan sejak dini.
Berdasarkan laporan yang disampaikan melalui ANTARA News,
Ketua Tim Kerja Data dan Informasi Publik BKKBN Kaltim, Sitti Mayasari Hamzah,
menjelaskan bahwa program ini berfokus pada keluarga yang memiliki ibu hamil,
bayi, dan balita. Kelompok ini menjadi prioritas karena berada pada fase paling
menentukan dalam proses tumbuh kembang anak.
Fokus pada Periode Emas 1.000 Hari Pertama Kehidupan
Periode 1.000 HPK dimulai sejak masa kehamilan hingga anak
berusia dua tahun. Pada fase ini, perkembangan otak berlangsung sangat cepat
dan menjadi fondasi bagi kesehatan serta kecerdasan anak di masa depan.
Kekurangan gizi pada periode ini dapat menyebabkan stunting yang berdampak
jangka panjang.
Melalui edukasi yang dilakukan, keluarga diberikan pemahaman
mengenai pentingnya asupan gizi seimbang, pola makan sehat, serta pemeriksaan
kesehatan rutin selama kehamilan. Selain itu, orang tua juga dibekali
pengetahuan tentang pemberian ASI eksklusif, makanan pendamping ASI, serta pola
asuh yang mendukung perkembangan anak.
Pendekatan ini menempatkan keluarga sebagai aktor utama
dalam pencegahan stunting. Dengan meningkatnya pengetahuan dan kesadaran,
diharapkan keluarga mampu mengambil keputusan yang tepat terkait kesehatan dan
gizi anak.
Target Edukasi dan Sebaran Wilayah
Secara keseluruhan, jumlah keluarga sasaran program Bina
Keluarga Balita (BKB) di Kaltim mencapai 185.603 keluarga. Dari jumlah
tersebut, sebanyak 75.092 keluarga ditargetkan mendapatkan edukasi intensif
sepanjang 2026.
Target ini tersebar di berbagai kabupaten dan kota di
Kaltim, termasuk Kabupaten Paser, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Berau,
Penajam Paser Utara, serta kota Balikpapan, Samarinda, dan Bontang. Setiap
wilayah memiliki jumlah sasaran yang berbeda, menyesuaikan dengan kondisi
demografis dan jumlah keluarga berisiko stunting.
Kota Balikpapan menjadi daerah dengan target edukasi
terbesar, yaitu lebih dari 23 ribu keluarga. Sementara itu, Kota Samarinda
memiliki target hampir 13 ribu keluarga. Distribusi ini menunjukkan bahwa upaya
pencegahan stunting tidak hanya difokuskan di wilayah pedesaan, tetapi juga
mencakup kawasan perkotaan.
Integrasi Program Pencegahan Stunting
Program edukasi keluarga ini terintegrasi dengan berbagai
inisiatif lain yang mendukung pencegahan stunting. Salah satunya adalah Gerakan
Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting), yang melibatkan berbagai pihak dalam
memberikan dukungan kepada keluarga berisiko.
Selain itu, pemerintah juga menjalankan program pemberian
makanan tambahan bagi ibu hamil dan balita, distribusi tablet tambah darah
untuk remaja putri dan ibu hamil, serta peningkatan layanan kesehatan di
tingkat dasar seperti posyandu.
Integrasi program ini memperkuat upaya pencegahan stunting
secara menyeluruh. Tidak hanya berfokus pada aspek gizi, tetapi juga mencakup
edukasi kesehatan, perbaikan sanitasi, serta peningkatan kualitas layanan
kesehatan masyarakat.
Peran Pendampingan Keluarga
Selain edukasi massal, pendekatan langsung melalui tim
pendamping keluarga menjadi bagian penting dalam program ini. Tim pendamping
bertugas memberikan bimbingan secara langsung kepada keluarga sasaran, mulai
dari masa pranikah hingga anak berusia dua tahun.
Pendampingan ini mencakup berbagai aspek, seperti pemantauan
kesehatan ibu hamil, edukasi konsumsi tablet tambah darah, hingga penyuluhan
mengenai pola asuh anak. Dengan adanya pendampingan, informasi yang diberikan
dapat lebih mudah dipahami dan diterapkan oleh keluarga.
Pendekatan ini juga memungkinkan adanya komunikasi dua arah
antara pendamping dan keluarga, sehingga setiap permasalahan dapat
diidentifikasi dan ditangani lebih cepat.
Penurunan Angka Stunting di Kaltim
Upaya yang dilakukan secara berkelanjutan mulai menunjukkan
hasil positif. Data menunjukkan bahwa prevalensi stunting di Kalimantan Timur
mengalami penurunan signifikan. Pada tahun 2025, angka stunting tercatat
sebesar 15,94 persen, turun dari 22,2 persen pada tahun sebelumnya.
Penurunan ini menjadi indikator bahwa program intervensi
yang dilakukan berjalan efektif. Edukasi keluarga, peningkatan layanan
kesehatan, serta kolaborasi lintas sektor berperan penting dalam menurunkan
angka stunting di wilayah ini.
Keberhasilan tersebut juga didukung oleh keterlibatan
berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, tenaga kesehatan, kader posyandu,
hingga masyarakat. Kolaborasi ini memastikan bahwa program dapat berjalan
secara menyeluruh hingga tingkat akar rumput.
Dampak Jangka Panjang bagi Kualitas SDM
Pencegahan stunting memiliki dampak yang luas, tidak hanya
pada kesehatan individu tetapi juga pada pembangunan nasional. Anak yang tumbuh
sehat dan bebas stunting memiliki peluang lebih besar untuk berkembang secara
optimal, baik secara fisik maupun kognitif.
Sebaliknya, stunting dapat berdampak pada penurunan
kemampuan belajar, produktivitas, serta kualitas hidup di masa depan. Oleh
karena itu, investasi pada 1.000 HPK menjadi langkah strategis dalam
meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Program edukasi terhadap 75.092 keluarga di Kaltim menjadi
bagian dari upaya jangka panjang dalam menciptakan generasi yang sehat, cerdas,
dan produktif. Dengan pendekatan berbasis keluarga, intervensi yang dilakukan
diharapkan mampu memberikan dampak berkelanjutan bagi masyarakat.
Melalui sinergi program, edukasi yang masif, serta
keterlibatan aktif masyarakat, langkah pencegahan stunting di Kalimantan Timur
terus diperkuat. Pendekatan ini menegaskan bahwa peran keluarga menjadi kunci
utama dalam memastikan setiap anak mendapatkan awal kehidupan yang sehat dan
berkualitas.







